Jurnal Dosen UBB Mendunia
Sedikitnya empat jurnal milik Kepala LP3M UBB itu terindeks Scopus. Eddy sendiri mengaku tidak pernah menargetkan prestasi itu
BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Universitas Bangka Belitung boleh berbangga. Jurnal karya seorang dosennya berhasil masuk atau terindeks dalam Scopus, sebuah pusat data terbesar di dunia. Scopus menyediakan puluhan juta literatur ilmiah yang terbit dari puluhan tahun lalu sampai saat ini.
Dosen itu adalah Eddy Nurtjahya. Sedikitnya empat jurnal milik Kepala LP3M UBB itu terindeks Scopus. Eddy sendiri mengaku tidak pernah menargetkan prestasi itu. Dia hanya berusaha melakukan penelitian menulis dan mempublikasinya sesuai keilmuan yang dimilikinya.
"Kalau topik penelitian saya memulai dari ketertarikan saya, kalau saya memang tertarik dengan reklamasi bekas tambang. Saya memang tertarik untuk membahas reklamasi pasca tambang karena ini bermanfaat dan isu kelokalan yang spesifik, sehingga ini lebih menggigit penelitiannya dan tentunya juga sesuai dengann keilmuan saya dari S1 hingga S3," kata Eddy saat ditemui Bangka Pos diruang kerjanya beberapa waktu lalu.
Eddy menceritakan penelitian atau jurnal yang dibuatnya hampir seluruhnya berhubungan dengan reklamasi pasca tambang, ia menyebutkan seorang peneliti memang harus memiliki spesifikasi keilmuan sehingga terfokus dan kemampuan yang dialaminya semakin dalam dan tidak diragukan orang.
"Saya menulis itu sesuai track record keilmuan saya kan biologi lalu selanjutnya juga linear dan masih dalam bidang yang sama, dan memang untuk ini lebih mudah untuk mendapatkan kum. Diktipun untuk memberikan dana itu melihat track record kita sesuai tidak keilmuan dengan penelitian yang dilakukan," ujarnya.
Ia menceritakan dirinya hampir tidak pernah menulis sendiri, oleh karena itu ia kerap berkomunikasi dengan peneliti dari berbagai penjuru dunia yang memiliki ketertarikan penelitian yang sama dengan dirinya di forum research gate sehingga ini mempermudah dirinya untuk mengumpulkan bahan dan bertukar informasi.
"Saya nggak pernah nulis sendiri, saya menulis dengan banyak orang jadi bisa saling belajar karena saya belum terlalu pandai. Semakin banyak yang nulis dan perspektif maka akan semakin banyak pula ilmu baru saya. Jurnal yang dipublish online ini kan memang banyak dan semua orang bisa mengakses," kata Eddy.
Baginya terindeks apapun sama saja, namun ia menyarankan bagi penulis jurnal untuk menggunakan bahasa Inggris dalam penulisannya. Ia menyebutkan bagi yang sudah menulis jurnal harus lebih rajin mempublikasikannya sehingga akan semakin banyak orang yang tau dan bisa dinilai lembaga indeks.
"Indeks itu sebenarnya banyak, satunya itu scopus dan untuk bisa terindeks disitu tapi memang yang belum terindeks itu banyak. kita tidak bisa memilih mau terindeks apa karena memang itu dinilai dan mereka yang menilai. Memang sebaiknya terindeks dan yang penting itu diakui secara internasional sehingga itu terpecaya, kita yang membuat jurnal juga dipercaya," ujarnya.
Ia tak memungkiri dalam untuk mempublikasikan dan terindeks bukanlah yang mudah, namun hal itu tergantung keinginan. Ia menyebutkan dirinya memang menyukai dunia penelitian dan memiliki kepuasan pribadi ketika jurnal yang dibuatnya itu bisa terpublikasi, terindeks dan diakui secara internasional.
"Memang prosesnya ini lama dan kita yang mempublikasikan kadang-kadang ada juga yang tidak diterima. Indeks ini kan sebuah pengakuan dan ini macam-macam kalau yang terindeks scopus ini memang punya poin. Untuk publikasi supaya diakui secara internasional itu harus mempunyai impact factor. Memang menjadi satu tantangan mengatur waktu, dana dan lebih aktif lagi uuntuk mencari beasiswa. kadang untuk penelitian tidak semua orang punya motivasi, pada dasarnya banyak beasiswa untuk riset tergantung motivasi untuk riset," katanya.
Dapat reward
Wakil Rektor I Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Universitas Bangka Belitung (UBB), Ismed Inonu menjelaskan Scopus indeks internasional yang merupakan kumpulan seluruh jurnal berkualitas di dunia.
"Paling bergensi karena untuk masuk luar biasa persaingannya tulisan itu masuk dalam seluruh dunia. Artikelnya itu benar benar berkualitas memasukkan tulisan untuk memang saat ini kita mendorong dosen-dosen kita untuk yang sudah dianggap tulisanya masuk ke jurnal kita dorong," ungkapnya
Pasalnya sebelum terpublikasi di Scopus, beberapa tahap harus dilalui dengan cara submit tulisan, kemudian tulisan akan di-review minimal oleh empat pakar akademisi di bidangnya dari berbagai belahan dunia melalui internet.
Hasil tulisan yang terindeks Scopus ini akan menjadi rujukan pustaka untuk penulis ataupun penelitian lanjutan. Semakin banyak yang dirujuk oleh penulis maka akan semakin tinggi skornya untuk menjadi seseorang yang terindikator memiliki kinerja yang baik.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/eddy-nurtjahya_20160916_092007.jpg)