Minggu, 3 Mei 2026

Kisah KH. Arifin Ilham, Dai yang Nyaris Mati Dipatok Ular Hingga Ditolak Stasiun TV

setelah dipatuk ular dan dinyatakan meninggal secara medis, dia makin mantap menjalaninya. Bermula tujuh orang, kini zikir berjamaahnya

Tayang:
Editor: Iwan Satriawan
m.arrahmah.com
KH Arifin Ilham 

BANGKAPOS.COM--Detail Tak terbayang di benaknya akan memimpin zikir berjamaah, satu hal yang dulu pernah ditertawakannya.

Tapi setelah dipatuk ular dan dinyatakan meninggal secara medis, dia makin mantap menjalaninya. Bermula tujuh orang, kini zikir berjamaahnya diikuti ribuan orang.

Mantan Presiden Megawati dan kalangan selebriti pun tertarik mengundangnya. Kini ia dijuluki Ustadz Zikir.

Bisa diceritakan bagaimana awalnya dijuluki Ustaz Zikir?

Saya tak pernah sengaja menjuluk diri Ustadz zikir. Kalau kemudian disebut seperti itu, ya, Alhamdulillah. Secara pribadi, saya selalu berusaha jadi pribadi Zikir.

Menjadikan Allah SWT dan Rasul sebagai tujuan hidup. Dunia adalah surga, bumi jadi masjidnya. Bicaranya dakwah, diamnya zikir, napasnya tasbih, matanya rahmat, telinganya terjaga, pikirannya baik sangka.

Selama hidup, orang punya peluang hidayah, hatinya berdoa, tangannya sedekah, langkah kakinya jihad, kekuatannya silaturahmi, kerinduannya syariat Allah.

Cita-citanya syuhada dan kesibukannya, asyik memperbaiki diri, tidak tertarik mencari kekurangan, apalagi aib diri. Tidak tergoda hawa nafsu. Zikir memang bisa mengubah hawa nafsu.

Kenapa ketika zikir Ustadz menangis?

Saya biasa menangis dari dulu. Waktu awal menikah istri juga terkejut. Saya ingat dosa.Ditatap Allah tapi kelakuan kita, kok, kayak enggak ditatap.

Maut sudah makin dekat. Bagaimana nanti di alam kubur? Ini benar-benar membuat saya menangis.

Lalu, bagaimana bisa jadi zikir berjamaah?

Berzikir tadinya hanya untuk diri sendiri. Awalnya, saya malah enggak suka zikir berjamaah. Bahkan menertawakan orang yang melakukannya.

Jadi, kalau ada yang menertawakan saat ini, tak saya salahkan. Dulu saya pun tak tahu dalilnya. Setelah tahu, baru saya pertimbangkan untuk melakukannya.

Tahun 1996, zikir berjamaah saya mulai saat salat Subuh. Saya ajak tetangga rame-rame mulai tahun 1999. Jangan salah waktu itu cuma tujuh orang yang ikut, karena tetangga ada yang menertawakannya. Itu pun di masjid dekat rumah di Depok.

Sumber: Nova
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved