Sabtu, 11 April 2026

Kisah Istri Korban Pembunuhan Padepokan Kanjeng Dimas

Taat pribadi dan Abdul Ghani sempat belajar pada guru spiritual yang sama.

Editor: fitriadi
KOMPAS.com/Kontributor Banyuwangi, Ira Rachmawati
Erwin Hariyati, istri Abdul Ghani korban pembunuhan yang diduga diotaki oleh Taat Pribadi, pemimpin Padepokan Dimas Kanjeng. 

BANGKAPOS.COM, BANYUWANGI - Erwin Hariyati (25), istri Abdul Ghani, sudah menduga kematian suaminya terkait praktik dugaan penggandaan uang di padepokan Dimas Kanjeng Taat Pribadi di Probolinggo, Jawa Timur, tersebut.

Kecurigaannya tersebut sudah pernah disampaikannya pada pihak kepolisian dari Wonogiri yang mendatanginya tujuh hari setelah suaminya ditemukan tewas di Wonogiri.

Erwin menuturkan, kepadanya, almarhum suaminya pernah bercerita mengenal Taat Pribadi cukup lama bahkan saat mereka berdua masih sama sama lajang.

Taat pribadi dan Abdul Ghani sempat belajar pada guru spiritual yang sama.

"Suami saya sebelum berdirinya padepokan sudah sering sama Kanjeng Taat. Mulai dari muda. Jadi bisa dikatakan yang membesarkan padepokan termasuk suami saya juga. Ia sebagai ketua kesultanan di padepokan," ungkapnya kepada Kompas.com, Jumat (30/9/2016).

Abdul Ghani kemudian mencari kebenaran terkait dugaan praktik penggandaan uang yang dilakukan oleh Kanjeng Taat Pribadi.

Kepadanya kemudian, lanjut Erwin, suaminya mengaku menemukan banyak kejanggalan.

"Suami saya bilang apa yang dilakukan Kanjeng Taat sudah tidak masuk akal. Kanjeng itu kan pasti kasih barang barang aneh seperti kantong uang katanya, ada rekening gaib, pulpen gaib termasuk ada perhiasan gaib. Pokoknya enggak masuk akal," tuturnya.

Dia juga mengaku beberapa kali diajak suaminya mengunjungi padepokan yang memiliki ribuan pengikut tersebut termasuk mengikuti istighosah.

Namun pesan yang disampaikan dalam pengajian akbar tersebut, menurut perempuan kelahiran Banyuwangi 13 Maret 1991 tidak jauh dari urusan uang.

"Sebenarnya sejak menikah dengan saya Juni 2015, suami saya sudah jarang ke padepokan dan fokus ngurus keluarga dan pekerjaannya sendiri. Suami saya bekerja di bidang jual beli serta pengolahan emas, perak dan batu mulia di Probolinggo," tuturnya.

Erwin melanjutkan, kesabaran suaminya sudah habis setelah menemukan banyak hal yang tidak masuk akal dan melaporkan hal tersebut ke Jakarta.

"Terakhir ketemu dia cerita akan ketemu dengan Kanjeng Taat di Probolinggo dan akan mengambil uang Rp 20 miliar.

Sebelum pulang ke Probolinggo, suami saya sempat membasuh kaki ibu dan bapak saya untuk meminta restu," ungkapnya.

Erwin mengaku sengaja pindah ke Banyuwangi karena suaminya sering mendapat ancaman pasca akan melaporkan dugaan praktik penipuan yang dilakukan oleh Taat Pribadi.

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved