Sabtu, 18 April 2026

Begini Komentar Dewa Aji Tapakan Setelah Jalani Ritual Dikubur Hidup-hidup

Dewa Sukaryanida, seorang kerabat dari Dewa Aji Tapakan mengakui jika kerabatnya tersebut awalnya adalah sosok pria yang sangat penakut. Bahkan, ...

Tribun Bali/Eka Mita Suputra
Dewa Aji Tapakan. TRIBUN BALI/EKA MITA SUPUTRA 

BANGKAPOS.COM, SEMARAPURA -- Dewa Aji Tapakan yang berperan sebagai layon dalam ritual Calonarang di Klungkung berasal dari keluarga besar Dewa Kedisan Maha Gotra Taman Bali.

Dewa Sukaryanida, seorang kerabat dari Dewa Aji Tapakan mengakui jika kerabatnya tersebut awalnya adalah sosok pria yang sangat penakut.

Bahkan, hanya untuk buang air kecil terkadang Dewa Aji Tapakan minta diantar oleh istrinya.

"Sifat dasar atau background dari Dewa Aji Tapakan sebenarnya penakut. Kami juga awalnya, tidak menyangka ia berani ngayah sebagai layon seperti ini," ujar Dewa Sukaryanida.

Pihak keluarga besar sangat bersyukur segala prosesi Calonarang Watangan Mependem di Desa Getakan Klungkung, dapat berjalan dengan lancar dan aman.

Ini merupakan kali pertama digelar Calonarang dengan bangke-bangkean yang dikubur.

Sementara itu tidak banyak hal yang diungkapkan Dewa Aji Tapakan pasca ritual sakral tersebut.

Pria berusia 55 tahun ini tidak memberikan pernyataan gamblang, saat ditanya apakah selanjutnya akan kembali ngayah dan melakoni peran sebagai layon di tahun berikutnya.

Ia hanya tersenyum sembari berucap jika dirinya saat ngayah selalu didasari dengan tulus ikhlas.

"Jika kehendak Ida Sesuhunan, saya siap ngayah dengan ikhlas," jelasnya.

Dewa Aji Tapakan sebelum menjalani prosesi penguburan, Kamis (13/10/2016) malam.

Sebelumnya, Dewa Aji Tapakan (55) yang menjadi layon atau watangan (bangke matah) mulai menjalani prosesi seda (meninggal) dan dimandikan layaknya jenazah.

Suasana mistis semakin terasa saat memasuki pukul 23.00 Wita, Kamis (13/10/2016). Sejumlah krama Banjar Adat Getakan kembali kerauhan.

Kamis (13/10/2016) atau Wraspati Umanis Pahang menjadi hari yang istimewa bagi warga Banjar Adat Getakan, Banjarangkan, Klungkung, Bali.

Saat itu, Banjar Adat Getakan menggelar pertunjukan Calonarang Watangan Mependem atau bangke hidup dikubur di setra.

Sejak pagi hari, krama Banjar Adat Getakan sudah mempersiapkan berbagai sarana upakara untuk menunjang ritual sakral tersebut.

Aroma dupa dan bunga tercium dari krama yang silih berganti melakukan persembahyangan.

Petapakan Ratu Mas Bukit Jati, Ratu Mas Dalem Lingsir, Ratu Mas Klungkung, dan Petapakan Barong Ket yang sebelumnya distanakan di Pura Dalem Desa Pakraman Getakan, sudah melinggih di Bale Banjar Banjar Getakan.

Sekitar pukul 15.00 Wita, sejumlah krama mulai membuat liang untuk mengubur layon yang dilakoni Dewa Aji Tapakan.

Liang kubur yang dibuat relatif cukup luas, dan mengikuti ukuran peti yakni dengan lebar sekitar 1,15 meter, panjang 2 meter dan tinggi hingga 1,2 meter.

Langit di Desa Getakan pun mulai temaram.

Tepat pukul 18.00 Wita, suara gamelan terdengar riuh, dan ribuan Krama Banjar Adat Getakan berjalan berlahan menuju setra.

Setiap warga yang berada di pinggir jalan, ketika itu diminta untuk menepi dan duduk sesaat, karena Petapakan Ratu Mas Bukit Jati, Ratu Mas Dalem Lingsir, Ratu Mas Klungkung, dan Petapakan Barong Ket memargi menuju setra.

Suasana sakral mulai terasa, ketika beberapa Krama Adat Getakan kerauhan (trance), saat berjalan beriringan dengan Ratu Mas Klungkung.

Ribuan Krama Banjar Adat Getakan turut menyaksikan persiapan prosesi Calonarang dengan layon mependem yang baru pertama kalinya digelar.

Setelah melakukan ritual persembahyangan, Dewa Aji Tapakan berlahan bangun dari duduknya.

Pria yang akan melakoni peran sebagai layon dan akan dipendem atau dikubur tersebut langsung berdiri di depan liang.

Dalam liang tersebut sudah dimasukkan peti, yang menjadi tempat Dewa Aji Tapakan saat dikubur.

Ribuan masyarakat Banjar Adat Getakan berusaha mengabadikan momen langka tersebut.

Hari semakin gelap, Dewa Aji Tapakan memejamkan matanya sembari membawa sebatang dupa.

Dengan menggenakan pakaian serba putih, ia tampak sangat khusyuk berdoa.

Meskipun akan dikubur, tidak tampak raut ketakutan atau kekhawatiran dari wajahnya.

"Beliau (Dewa Aji Tapakan) sudah siap jasmani dan rohani untuk ngayah. Kita serahkan semuanya pada Ida Sesuhunan, karena beliaulah yang berkehendak," ujar Dewa Sukaryanida, kerabat dari Dewa Aji Tapakan.

Tepat pukul 18.50 Wita, prosesi di setra tersebut selesai.

Petapakan Ratu Mas Bukit Jati, Ratu Mas Dalem Lingsir, Ratu Mas Klungkung, dan Petapakan Barong Ket kembali memargi menuju Balai Banjar Adat Getakan.

Pementasan Calonarang mependem dimulai pukul 20.00 Wita.

Penonton pun membeludak. Calonarang Watangan Mependem di Banjar Adat Getakan ini benar-benar mampu menarik perhatian masyarakat Bali.

Buktinya, penonton yang hadir bukan hanya dari Klungkung tapi hampir seluruh Bali.

Seperti Ketut Wiryanata bersama istrinya, Ni Luh Warti.

Layon Dewa Aji Tapakan diarak menuju Setra Getakan, Kamis (13/10/2016).

Warga Penebel Tabanan ini rela jauh-jauh datang ke Desa Getakan untuk membayar rasa penasaran mereka menonton Calonarang dengan layon mependem.

"Saya dan istri saya sudah dari jam lima sore sampai ke Getakan. Kami memang senang menonton Calonarang. Calonarang di sini unik. Baru pertama kalinya kami tahu ada Calonarang dengan layonnya dikubur, jadi kami luangkan waktu untuk nonton," ujar Wiryanata yang mengaku datang ke Klungkung dengan mengendarai sepeda motor.

Ada beberapa warga dari Karangasem dan Bangli yang juga datang untuk menonton.

"Penasaran saja, pingin nonton. Benar atau tidak dikubur," ujar Wayan Rimpen, warga Tembuku Bangli.

Sekitar pukul 23.00, Dewa Aji Tapakan pun melalui proses ngebah atau istilahnya seda di Pura Pusat Sari, yang letaknya di utara Banjar Adat Getakan.

Setelah prosesi ngebah, layon diarak ke catus pata Banjar Adat Getakan, lalu dilanjutkan dengan prosesi mesiram atau memandikan jenazah di perempatan Getakan.

Setelah mesiram, layon disemayamkan di Bale Dangin dilanjutkan dengan diberi sesajenan.

Tepat pukul 00.00 Wita, diarak menuju setra untuk dipendem. Tidak boleh ada warga di setra saat itu, kecuali kerabat.

"Waktu bangun tidak ada batas waktu, mungkin saja jam 4 atau lebih, menurut sesolahan Ida Ratu Mas Klungkung yang akan membangkitkannya dari kubur," ujar Cokorda Putra Parwata, Perbekel Desa Getakan sekaligus penasihat panitia Calonarang Mependem.

Waktu menunjukkan pukul 04.00 Wita, Jumat (14/10/2016). Ribuan orang masih memadati Setra Banjar Adat Getakan, Banjarangkan, Klungkung.

Tidak berselang lama, tepuk tangan bergemuruh.

Puluhan ribu pasang mata, menyaksikan langsung layon Dewa Aji Tapakan bangkit dari liang kuburnya.

Sumber: Tribunnews
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved