Minggu, 26 April 2026

TEROR BOM GEREJA

RIP Intan: Maafkan Kami yang Gagal Melindungimu

Di Twitter, tagar #RIPIntan langsung menjadi topik tren. Rasa pilu terasa begitu menyesap perih di sanubari para netizen.

twitter/anshor_jatim

BANGKAPOS.com - ''ADIK kami akhirnya meninggal, pagi ini masih di ruang jenazah RS AW Sjahranie," ujar Nopi, kerabat dari keluarga balita Intan Marbun (3).

Senin (14/11/2016), linimasa media sosial sedang berduka cita.

Di Twitter, tagar  #RIPIntan langsung menjadi topik tren. Rasa pilu terasa begitu menyesap perih di sanubari para netizen.

Intan Marbun, balita mungil nan cantik itu menghembuskan nafas terakhir pada Senin (14/11/2016) dini hari di RS AW Sjahranie.

Baca: Ketum PBNU: Yang Ngebom-ngebom Itu Juga Menistakan Agama

Baca: Kapolri Ungkap Ahok Datangkan Saksi Ahli dari Mesir

Baca: Pengadang Ahok-Djarot Kabur setelah Diminta Tunjukkan Rumahnya Ahok Kebanjiran Doa

pengadang ahok-djarot
Aksi pengadangan massa terhadap Kunjungan kampanye calon wakil gubernur DKI Jakarta nomor urut dua, Djarot Saiful Hidayat di permukiman warga di Jalan Karanganyar, Pasar Baru, Jakarta Pusat, Senin (14/11/2016).

Ia tak lagi mampu menahan dampak ledakan bom molotov yang dilemparkan ke Gereja Oikumene pada Minggu (13/11/2016).

Kejengkelan yang selama ini mengendap-endap di dalam hati, sebagian tampak ditumpahkan di media sosial.

Kejengkelan itu terutama ditujukan kepada para elit politik dan public figure yang selama ini hanya sibuk berebut kekuasaan dengan segala cara, lupa memelihara kebinekaan dan inklusivisme.

Gegap gempita rebutan kekuasaan di berbagai daerah memang sedang memanas. Kabar pilu yang datang dari Kelurahan Sengkotek, Samarinda Seberang, Kota Samarinda, Kalimantan Timur, itu seolah menyadarkan kita bahwa betapa kita makin permisif dengan berbagai sikap intoleransi di berbagai daerah.

Ekstrimisme pada akhirnya akan tumbuh subur pada lahan masyarakat yang terus memelihara api intoleransi. Propaganda politik yang memperdagangkan "ketakutan" dan "kemarahan" harus diakhiri.

Baca: Penipu PRT Online Dibekuk di Malang Jawa Timur

Baca: Hilang 10 Tahun Dikira Meninggal, Remaja Ini Ternyata Ada di Warnet Kerjanya Main Game

Intan merupakan satu dari empat anak yang menjadi korban teror yang dilakukan seorang pemuda bernama Juhanda alias Jo bin Muhammad Aceng.

Juhanda merupakan mantan narapidana kasus bom buku dan pernah mendekam di Lapas I Tangerang, dan kemudian belajar aliran ISIS di dalam lapas.

Melihat isi media sosial di Twitter dengan tagar #RIPIntan, tampak percakapan ini berasal dari berbagai kalangan yang terpukul dengan kejadian bom Sengkotek, Samarinda.

Dhika, dengan akun Twitternya ‏@kakazifana, seolah mewakili suara kita sebagai warga negara yang merasa bersedih sekaligus bersalah.

 “Allahumaghfirlaha. Ananda, maafkan kami yg gagal melindungimu dr kebiadaban manusia2 yg mengatasnamakan agama di atas kebencian. #RIPIntan,” kata Dhika.

 
Suara yang senada dengan Dhika begitu menguat di media sosial. Kritik terhadap orang-orang yang memutarbalikkan pemahaman soal  Islam juga terdengar dari para Gusdurian, seperti dilakukan akun @pojokgusdur.

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved