Senin, 27 April 2026

Heboh Mahasiswi Cantik Jadi Supir Angkot Hingga Kuli Bangunan, Inilah Kisahnya

Ia masih tercatat sebagai mahasiswi semester 7 Akademi Manajemen Informatika Komputer (AMIK)-Sekolah Tinggi Manajemen Informatika Komputer..

Editor: Dedy Purwadi
Tribun Manado/Ist
Brenda, mahasiswi yang jadi sopir angkot dan kuli bangunan di Manado. 

BANGKAPOS.COM, MANADO - Tegar jalani hidup yang keras, sopir angkot cantik mahasiswi Manado ini bisa jadi inspirasi.
Pekerjaan pria biasa ia lakukan, tidak malu atau gengsi, salut!
Namanya Brenda Trivena Grace Salea.

Baca: Ternyata Ini Pilihan Cowok Cinta Laura, Hingga Kini Menjomblo Lagi

Bertubuh tinggi dan berhidung mancung.
Pemilik kulit kuning langsat ini berusia 21 tahun.

Ia masih tercatat sebagai mahasiswi semester 7 Akademi Manajemen Informatika Komputer (AMIK)-Sekolah Tinggi Manajemen Informatika Komputer (STMIK) Manado.
Di kampus, dia dikenal sosok yang cerdas dan mudah bergaul.

brenda
Brenda sopir angkot mahasiswi cantik Manado memiliki cerita pahit dan kerasnya hidup yang menginspirasi, simak kisahnya.

Di kampung halamannya, Likupang, Minahasa Utara, Brenda dikenal sebagai sopir angkot jurusan Likupang-Tatelu.

Baca: Ingin Tahu Berapa Besaran UMP Se-Indonesia, Inilah Daftar Upah 2017

Banyak yang tidak percaya jika Brenda begitu terkenal di Terminal Likupang sebagai sopir mikrolet.
Selain karena cantik dan memiliki perawakan bak model, Brenda adalah seorang mahasiswi.

Namun demi membantu ekonomi keluarga, pekerjaan keras yang biasa dilakukan kaum pria, dia kerjakan.

Tak hanya sopir angkot, Brenda juga nekat angkat karton-karton berisi air mineral untuk dipasok ke warung-warung.
Bahkan pernah menjadi kuli bangunan.

Brenda
FOTOGRAFER TRIBUN MANADO/ANDREAS GERALD RUAUW - Brenda Trivena Grace Salea, mahasiswi cantik yang tak malu bekerja sebagai sopir angkot.

Saat ditemui di tempat kosnya di Jalan Kembang Kecamatan Sario, Manado, pekan lalu, Brenda mengungkap perjalanan hidupnya yang begitu keras namun menginspirasi itu.

"Saya anak kedua dari tiga bersaudara. Saya lahir di Rasi, Ratahan, Minahasa Tenggara," kata Brenda yang kini tinggal di Likupang, Minahasa Utara.
Semasa kecilnya, ayah Brenda adalah seorang sopir angkot di Ratahan.

Baca: Kak Seto Bagi Tips Menghafal untuk Anak di Acara My Moms And My Teacher Is My Hero

Mengabdi kepada seorang bos, ayah Brenda mengendarai angkot jurusan Tombatu-Ratahan atau Liwutung-Ratahan.

"Ayah juga kerja sampingan memelihara ayam, ikan mas, dan ikan mujair. Ia juga pernah memelihara katak sawah," ujarnya.

Melihat kesulitan ekonomi di keluarganya, saat duduk di kelas 4 bangku Sekolah Dasar (SD), Brenda sudah mulai turun ke jalan jualan ikan.
Ia berteriak "ikan manta (mentah)" untuk menarik pembeli.

"Saat mau naik ke kelas enam, kami pindah ke Likupang Timur," kenangnya.
Di Likupang, ayahnya tetap mengais rejeki dengan menjadi sopirmikrolet.
Dan saat duduk di kelas 1 SMP di Likupang, sang ayah mulai mengenalkan mobil kepadanya.

Brenda
IST - Brenda Salea di antara tumpukan kardus air mineral di angkot.

"Mobil itu walau bekas sudah merupakan milik sendiri. Saya mulai dikenalkan mobil. Itu setelah ayah selesai bekerja," katanya.

Ayah Brenda punya cara unik mengajarkannya sebelum benar-benar memegang setir, mengendarai mobil.
Ia disuruh belajar membuka ban, menyapu dan melihat mesin.

Sumber: Tribun Manado
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved