Konflik Rohingya Memanas, Pemimpin Myanmar Suu Kyi Tunda Kunjungan ke Jakarta
Pemerintah Myanmar tidak mengakui Rohingya sebagai warga negaranya dan sekitar 30.000 orang Rohingya diperkirakan mengungsi ke luar negeri.
BANGKAPOS.COM, YANGON - Pemimpin de facto Myanmar, Aung San Suu Kyi, menunda kunjungan ke Indonesia menyusul gelombang kekerasan yang kembali terjadi terhadap etnis Rohingya di negara bagian Rakhine beberapa bulan terakhir.
Unjuk rasa pekan lalu di Jakarta dan Bandung mengecam pemerintah Myanmar yang dianggap melakukan kekerasan atas umat Rohingya di negara bagian Rakhine.
Baca: Sarapan di Silang Monas Bayarnya Cukup Sebut Alhamdulillah
Baca: Alfred Riedl Rahasiakan Formasi Pengisi Lini Belakang
Baca: Plus Minus Duet Evan Dimas-Stafano Lilipaly di Timnas Indonesia
Selain itu beberapa pengunjuk rasa juga menuntut agar Hadiah Nobel Perdamaian yang dianugerahkan kepada Aung San Suu Kyipada tahun 2012 lalu ditarik karena dia dianggap mendiamkan kekerasan atas warga Rohingya.
Suu Kyi sebelumnya dijadwalkan berkunjung ke Indonesia setelah mengunjungi Singapura dari tanggal 30 November hingga 2 Desember.
Namun, pejabat senior wakil direktur umum kementerian luar negeri Myanmar, Aye Aye Soe menyatakan kepada AFP bahwa kunjungan peraih penghargaan Nobel Perdamaian itu ke Jakarta ditunda.
"Kami menunda perjalanan Indonesia karena masalah di Rakhine dan juga di wilayah utara negara bagian Shan di mana tentara masih memerangi gerilyawan etnis," ujarnya.
Baca: Ini Kabar Terbaru Jessica dari Balik Jeruji Penjara setelah Divonis 20 Tahun
Baca: Revisi UU ITE Berlaku, Tak Ada Kewajiban Polisi Menahan Pelaku
Juru bicara Kementrian Luar Negeri Myanmar, Kyaw Zay Ya, tidak menjelaskan alasan rinci dari penundaan tersebut.
"Kami berdiskusi dengan pihak Indonesia yang belum siap dan menunda kunjungan itu," katanya Kyaw Zay Ya kepada BBC Seksi Myanmar,
Akhir pekan lalu, Kepolisian Indonesia juga menangkap dua orang terduga kasus terorisme yang merencanakan pengeboman markas polisi, gedung DPR dan juga sejumlah kantor kedutaan besar negara asing di Indonesia, antara lain Kedutaan Besar Myanmar di Jakarta.
Polisi mengatakan keduanya merupakan bagian dari pendukung kelompok yang menyebut diri Negara Islam atau ISIS.
Terdapat sekitar 176 pengungsi Rohingya di Medan, yang sedang menanti perjalanan untuk menuju sejumlah negara tujuan akhir, antara lain Amerika Serikat.
Baca: Ternyata Ini Sumber Kekayaan Syahrini Capai Rp 280 Miliar
Baca: Punya Harta Rp 3,8 Triliun, Ternyata Ini Aset yang Dimiliki Sandiaga
Baca: Istri Kedapatan Bugil Bareng Tetangga
Pemerintah Myanmar tidak mengakui Rohingya sebagai warga negaranya dan sekitar 30.000 orang Rohingya diperkirakan mengungsi ke luar negeri.
Kepala Pusat Pengungsi PBB di Bangladesh tenggara, John McKissick, menuduh Myanmar berusaha mengenyahkan kelompok minoritas Muslim Rohingya melalui pembersihan etnik.
Sebelumnya foto satelit yang diterima lembaga internasional, Human Rights Watch, memperihatkan ratusan struktur -yang diperkirakan rumah milik orang Rohingya-dihancurkan antara 10 hingga 18 November.
Pemerintah Myanmar melancarkan operasi militer besar di Rakhine bulan lalu setelah sembilan aparat polisi tewas dalam rangkaian serangan di pos-pos perbatasan di Maungdaw.
Beberapa pejabat pemerintah berpendapat kelompok militan Rohingya yang melakukan serangan tersebut, yang menurut para pegiat dibalas dengan penghukuman secara kolektif atas semua orang Rohingya. (BBC Indonesia)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/aung-san-suu-kyi_20161130_084214.jpg)