Rabu, 15 April 2026

Kisah Pengalaman Wartawati Non-Muslim Meliput Aksi Damai Ini Bikin Terharu

"Hai orang Kristen, kalian saudara kami, hai orang Hindu, kalian juga saudara kami. Begitu juga dengan orang Katolik, Budha dan Konghucu, kalian ..."

Facebook
Aksi Damai 2 Desember di Monas 

BANGKAPOS.COM, JAKARTA -- Beberapa waktu telah beredar di berbagai grup sosial media tentang pengalaman wartawati nonmuslim yang meliput Aksi Damai 2 Desember 2016 kemarin.

Baca: Gigi Jadi Sorotan, Kakinya Bikin Gagal Fokus saat Jadi Penerima Tamu di Khitanan Putra Eko Patrio

Dia menceritakan sedikit pengelamanannya saat meliput 'Aksi Doa Bersama' di Monas dan sekitarnya. Dia mengaku tidak mempersiapkan bekal dan baju muslim untuk meliput acara tersebut.

Baca: Ronaldo Bermimpi Cetak Gol di El Clasico

"Sebenarnya, kantor aku ga mempersiapkan aku untuk menghadapi liputan Aksi Bela Islam III. Engggak seperti kantor media lainnya yang meminta reporternya melepas ID Card, memakai baju gamis atau koko putih serta atribut Islami lainnya buat yang cowok, buat yg cewek pake hijab atau kerudung. Bahkan ada kantor yang sudah siapkan bekal buat reporternya Utk liputan aksi yg disebut2 sebagai aksi 212. Plus bekal odol Utk jaga2 terjadi seperti aksi 411

Baca: Netizen Dibikin Gagal Fokus dengan Foto Rok Ayu Ting Ting, Cara Berdirinya Itu Lho

Berbekal nekat dirinya meliput tanpa membawa bekal apa-apa, dalam pikirannya pasti ada penjual atau minimal PKL. Meski berpakaian  yang tidak bernuansa Islami, malah pakai celana jins, kaos hitam dan jaket merah putih.

"Sebenarnya rada takut juga liputan aksi 212, secara aku beragama Non-Muslim dari media yang disoroti sama FPI sebagai medianya Ahok. Tapi karena aku hanya prajurit yang menjalani tugas dari kumendan di kantor, oke aku jalani saja," tulisnya.

Baca: Komentar Netizen soal Ahmad Dhani Jadi Tersangka: Kalau Konsisten Nyanyi Aja Makin Kaya Loh

Karena opang (ojek pangkalan) langganan ga bisa nembus Monas, akhirnya aku berhenti di Jalan Abdul Muis. Dan melanjutkan perjalanan dengan jalan kaki melewati Jalan Budi Kemulyaan.

Melihat lautan massa yang bersalawat dan menyerukan takbir, dia mengaku bulukuduknya merinding melihat kemegahan persatuan  umat Islam. "Rasa takut pun hilang, karena mereka yang mengagung-agungkan kebesaran Tuhannya pasti tidak akan sanggup menyakiti manusia lain," tulisnya.

Baca: Ucapan Tegas Sumarsono: Bamus Betawi Jangan Gunakan Dana Hibah untuk Pilkada DKI, No Way!

Karena udara sangat terik dan harus berjuang menembus Monas sambil mengetik berita laporan suasana aksi. Dia kehausan, cari-cari penjual air minum tidak ada. Tiba-tiba ada bapak-bapak yang melihatnya sedang celingak celinguk cari air minum. Lalu bapak memakai peci putih menyodorkan sebotol air mineral kepadaku.

"Haus ya Mbak? Nih ambil saja. Kita sudah sediakan banyak kok untuk teman-teman disini," ujar bapak itu. Terharu, aku ambil botol air minum itu sambil mengucapkan terima kasih.

Aku pun melanjutkan perjalanan bersama lautan massa. Berkali-kali aku ditawarkan makanan bungkus atau kue-kue kecil yang sudah disiapkan warga untuk para pendemo. Terpaksa aku tolak, karena akan menyulitkan aku menjalankan tugasku.

"Monas penuh," demikian kata massa. Lalu mereka pun menggelar koran dan sajadah untuk shalat Jumat di jalan.

Mungkin aku satu-satunya perempuan yang tidak memakai hijab atau kerudung. Tetapi, tak satupun massa mempermasalahkan keberadaanku yang berbeda dengan mereka.

Meski sempat tertahan di perempatan Indosat, akhirnya aku berhasil menembus jalan menuju Monas. Kemudian mendengar ceramah Shalat Jumat yang menyejukkan. Penceramah itu mengatakan, "Hai orang Kristen, kalian saudara kami, hai orang Hindu, kalian juga saudara kami. Begitu juga dengan orang Katolik, Budha dan Konghucu, kalian adalah saudara kami. Kita adalah sama, yang berbeda hanya agama kita. Dan kita tetap bersatu dalam NKRI."

Sejuk, damai dan tenang hati ini mendengarnya.

Tak berapa lama kemudian, hujan turun, mulai dari rintik-rintik hingga sangat deras. Aku pun mencari tempat berteduh, lalu seorang perempuan memakai hijab mengajak ku berteduh di tenda mereka, tenda Relawan Indonesia. Meski tetap basah kuyup, setidaknya kepalaku terlindungi dari derasnya hujan. Terima kasih, Bu (entah siapa namanya).

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved