Pembunuh Sadis SMS Ancaman Meminta Tebusan Rp 100 Juta Pakai HP Imelda
rumah Aliong (39), tersangka pembunuh sadis itu di Desa Rebo, Sungailiat, kini tak lagi berpenghuni.
BANGKAPOS.COM, SUNGAILIAT -- Jasad Imelda (32) dan anaknya, Aura (6), korban pembunuhan sadis yang jasadnya dibenamkan dalam lumpur kolong bekas tambangdi Desa Rebo, itu akhirnya dimakamkan.
Jenazah muslimah yang bersuamikan seorang mualaf, Akong (35) itu dikebumikan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Srimenanti Sungailiat.
Sementara rumah Aliong (39), tersangka pembunuh sadis itu di Desa Rebo, Sungailiat, kini tak lagi berpenghuni.
"Ada pihak kepolisian yang berjaga di rumah tersangka. Anak dan istrinya (Aliong) mengungsi. Ke mana mengungsi, saya tak tahu," kata Kepala Desa (Kades) Rebo Sungailiat, Fendi kepada Bangkapos.com, Rabu (4/1).
Pembunuhan yang dilakukan Aliong, dua hari tertutup rapat. Namun akhirnya, polisi bisa melacaknya setelah melacak sebuah pesan singkat (SMS) yang diterima suami korban, Akong dari seseorang tak dikenal.
"Untuk sementara seperti disampaikan, dari proses penyelidikan yang dilakukan pihak kepolisian. Sejak diteriamanya laporan dari suami korban (Akong) tentang dugaan penculikan yang dilakukan tehadap anak (Aura) dan istrinya (Imelda)," kata Kabag Ops Polres Bangka, Kompol S.Sophian kepada Bangkapos.com, Rabu (4/1) petang.
Dari laporan Akong, polisi langsung berkoordinasi dengan sejumlah keluarga korban, khususnya sang suami,.
Pertama kali yang dilakukan polisi adalah mencari tahu siapa si pengirim pesan SMS bernada ancaman meminta uang tebusan pada suami korban, Akong.
"Awalnya ada informasi, bahwa pelaku mengirim SMS, minta tebusan sejumlah uang (Rp 100 Juta). Dari situlah dilakukan penyelidikan awal," kata Sophian.
Pada polisi, suami korban, Akong, begitu yakin bahwa istri dan anaknya diculik. Alasannya, karena SMS yang diterima Akong, dikirim oleh pelaku, menggunakan telepon seluler milik sang istri (korban).
Oleh karenanya, polisi kemudian berusaha melacak keberadaan handphone ini, termasuk mencari tahu siapa orang yang menyimpan alat komunikasi yang dimaksud.
Dalam waktu dua hari, polisi berhasil melacak keberadaan handphone korban. Orang yang meyimpan handphone ternyata, Aliong, kakak sepupu Akong (suami korban). Sehingga diyakini bahwa Aliong pula yang mengirim pesan pada Akong, menggunakan handphone itu.
Aliong tak dapat mengelak karena saat ditangkap, barang bukti ada padanya. Otomatis, proses interogasi pun dilakukan membuat Aliong buka mulut tentang keberadaan jenazah korbannya.
Namun betapa terkejutnya polisi, karena korban yang awalnya diduga masih hidup berada dalam sekapan pelaku, ternyata sudah merenggang nyawa. Bahkan diduga, pelaku mengirim pesan penculikan hanya sekedar untuk menghilangkan jejak pembunuhan yang dia lakukan.
"Sehingga diketahui bahwa yang menghirimkan SMS adalah pelaku. Karena pada saat itu pelaku SMS menggunakan HP korban, walau tanpa menyebutkan identitas atau pelaku (Aliong) tidak menyebutkan nama saat SMS ke suami korban (Akong)," katanya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/aliong-pembunuh-sadis_20170104_193945.jpg)