Kejam, Wanita Paruh Baya dan Putranya Ini Diikat di Pohon Yang Penuh Semut Api Ganas Hingga Tewas

Gara-gara dituduh mencuri mobil, warga mengikatnya di pohon yang penuh semut api merah yang ganas yang menggigitnya hingga tewas.

Facebook/Mirror
Dalam foto yang dimuat di akun Facebook sebuah stasiun radio di Caranavi, Bolivia ini terlihat korban diikat di pohon bersama salah seorang anaknya sementara warga menyaksikan peristiwa itu. 

BANGKAPOS.COM, LA PAZ --  Tragis benar nasib seorang perempuan paruh baya di Bolivia ini. Gara-gara dituduh mencuri mobil, warga mengikatnya di pohon yang penuh semut api merah yang ganas yang menggigitnya hingga tewas.

Baca: Pintu Didobrak, Bupati Tidur Bareng Wanita PNS Tanpa Busana, Ini Video dan Kronologinya

Peristiwa tragis itu terjadi pada malam tahun baru di kota Caranavi sekitar 160 kilometer ke arah timur laut dari ibu kota La Paz.

Baca: Heboh, Sepuluh Polisi tak Kuat Angkat Meja di Rumah Almarhum Dodi Triono

Sebenarnya, perempuan berusia 52 tahun itu masih hidup saat diselamatkan polisi dan sempat dilarikan ke rumah sakit.

Baca: Terungkap, Ternyata Ayu Ting Ting Hobi Bawa Pulang Sandal Hotel, Lihat Aksinya Ini

Namun, semut-semut api itu menggigit kerongkongan perempuan tersebut sehingga dia kesulitan bernapas dan akhirnya meninggal dunia.

Warga setempat menangkap perempuan itu setelah dia mencoba menolong putranya yang terlebih dulu diikat di pohon setelah dituduh mencuri.

Baca: Cerita Sedih Elly Sugigi, Pergoki Suami Selingkuh, Saat Dilabrak Jawaban WIL Menyakitkan

Pemerintah setempat mengatakan, berdasarkan hasil penyelidikan sementara, korban dan kedua anaknya yang berusia 22 dan 28 tahun datang ke kota itu dari La Paz untuk menagih utang.

Namun, entah bagaimana niat menagih utang itu malah berujung tuduhan pencurian mobil. Tidak diperoleh juga informasi terkait nasib kedua anak perempuan itu.

"Awalnya investigasi ini dibuka terkait kasus percobaan pencurian mobil. Namun, arah investigasi berubah menjadi dugaan pembunuhan dan penganiayaan," kata Gunter Agudo, kepala kepolisian setempat.

Sejauh ini, polisi baru menangkap satu orang yang diduga menjadi provokator yang mendorong warga main hakim sendiri.

Salah seorang warga menggambarkan korban dan kedua anaknya sebagai kriminal yang datang ke kota itu untuk membuat onar.

Warga juga mengatakan ketiga orang itu juga mempersulit warga miskin yang bekerja keras agar bisa membeli mobilnya sendiri.

Namun, Robertmar Aramayo, yang mengaku sebagai keponakan korban, lewat akun Facebook sebuah radio lokal mengecam perbuatan warga Caranavi.

"Keluarga kami sangat kehilangan bibi tercinta. Saya harap pengadilan bisa menjelaskan apa yang terjadi karena mereka membuat sepupu saya kehilangan ibunya," ujar Aramayo. (Ervan Hardoko/ Kompas.com)

Sumber: Mirror

Editor: asmadi
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved