Selasa, 7 April 2026

Kisah Pilot Terbaik Indonesia Komodor Dewanto yang Banting Stir Jadi Sopir Truk

Bagi kita nama Komodor Dewanto mungkin tidak terlalu familiar. Siapa dia dan apa kiprahnya, mungkin tak banyak yang tahu. Tapi, bagi mereka

Penulis: Iwan Satriawan | Editor: Iwan Satriawan
Boombastis.com

BANGKAPOS.COM--Apron Liang, 18 Mei 1958. Kapten Udara Ignatius Dewanto tengah bersiap di kokpit P-51 Mustang.

Pagi itu, dia ditugaskan menyerang pangkalan udara Aurev (Angkatan Udara Revolusioner, AU Permesta) di Sulawesi Utara.

Baca: Inilah Pengakuan 10 Artis dan Aktor Holywood Saat Mereka Memerankan Adegan Seks

Saat itulah, hanya beberapa saat sebelum Dewanto take off menuju Manado, sebuah berita memaksanya membatalkan serangan ke Manadodan harus mengarahkan pesawat ke Ambon karena kota tersebut dibom oleh B-26 Invader Aurev.

Ketika di udara, Dewanto mendapatkan Ambon mengepulkan asap di mana-mana. Puing-puing berserakan, menandakan baru saja mendapat serangan udara. Berputar sejenak, B-26 tak kunjung terlihat.

Pesawat kemudian diarahkannya ke barat. Ferry tank dilepas untuk menambah kelincahan pesawat. Dewanto terbang rendah. Berbarengan saat pandangannya tertumbuk ke konvoi kapal ALRI, sekelebat dilihatnya pesawat B-26.

Pesawat tersebut ternyata tengah melaju ke arah konvoi kapal. Dewanto terbang mengejar dan beruntung bisa menempatkan diri persis berada di belakang B-26. Walau sempat ragu karena posisi musuh tepat antara kapal dan dia,

Dewanto langsung melontarkan roketnya dan tembakan senapan mesin 12,7 mm pesawatnya.

Saat bersamaan, KRI Sawega, salah satu kapal dalam konvoi kapal ALRI, juga menembakkan senjatanya: Bofors, Oerlikon 12,7 mm, Water Mantle 7.62mm. Alhasil, B-26 yang diterbangkan seorang serdadu bayaran bernama Allen Lawrence Pope beserta juru radio Hary Rantung (bekas AURI), terbakar dan tercebur ke laut.

Bagi Dewanto, ketegangan belum berakhir. Saat dalam perjalanan pulang, Dewanto berpapasan dengan B-26 lainnya. Head on attack perang udara berhadap-hadapan tak terelakkan.

Dengan beraninya Dewanto menghujani B-26 yang diterbangkan Connie Seigrist, penerbang berkulit putih, dengan senapan mesinnya. Tidak ada pesawat yang jatuh dalam pertempuran udara kali ini, tapi kedua-duanya mengalami kerusakan pesawat yang cukup signifikan akibatnya.

Sekelumit kisah menegangkan yang dilansir dari wikipedia ini menggambarkan saat-saat Komodor Dewanto menembak pesawat Agen CIA saat operasi penumpasan PRRI-Permesta.

Bagi kita nama Komodor Dewanto mungkin tidak terlalu familiar. Siapa dia dan apa kiprahnya, mungkin tak banyak yang tahu. Tapi, bagi mereka yang berada di TNI AU, nama pria ini sudah seperti sosok hebat macam Bung Karno. Bagaimana tidak, ia adalah salah satu pilot terbaik yang pernah dimiliki oleh NKRI.

Komodor Ignatius Dewanto (lahir di Yogyakarta, Indonesia, 9 Agustus 1929 — 1970) adalah seorang tokoh militer Indonesia. Ignatius Dewanto lahir dari pasangan penganut Katolik yang taat, M. Marjahardjana dan Theresia Sutijem di Kalasan, Yogyakarta. Pemilik 16 Bintang Jasa ini, namanya diabadikan menjadi nama Auditorium "Graha Dewanto" di Pangkalan Udara Iswahyudi, Madiun. Dan beliau berhak menyandang gelar "ACE".

Di masa hidupnya dulu sang Komodor sukses mencatatkan hal-hal luar biasa yang tak semua penerbang bisa. Termasuk salah satunya adalah membuat pesawat CIA tersungkur lantaran bidikannya lewat pesawat Mustang. Tak hanya itu, ia pun tercatat memiliki jasa-jasa penting lainnya sehingga namanya pun semakin disebut-sebut.

Sayangnya, pada satu waktu, sang Komodor harus rela melepas semua atribut kebanggaan miliknya. Kemudian ia pun langsung banting setir menjadi supir truk. Sebuah hal yang sangat disayangkan tentu saja. Tapi, kemudian hidupnya membaik walau pada akhirnya ia meninggal dengan kecelakaan.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved