Jumat, 10 April 2026

Kisah Kelam Penghuni Panti Jompo, Ditendang dan Disiram Air Panas Campur Cabai

Sepuluh tahun bukan waktu sebentar bagi Andi menghuni panti jompo, lansia dan orang gila milik Yayasan Tunas Bangsa di Tenayan Raya, Pekanbaru.

Editor: Alza Munzi
tribunnews.com
Andi menunjukkan luka bakar akibat disiram air panas bercampur cabai rawit kepada rombongan Dinas Sosial Riau, Lembaga Perlindungan Anak Riau, yang datang ke panti jompo, lansia dan orang gila yang dikelola Yayasan Tunas Bangsa di Kilometer 20 Lintas Timur, Tenayan Raya, Pekanbaru, Minggu (29/1/2017) siang. TRIBUN PEKANBARU/BUDI RAHMAT 

BANGKAPOS.COM, PEKANBARU - Sepuluh tahun bukan waktu sebentar bagi Andi menghuni panti jompo, lansia dan orang gila milik Yayasan Tunas Bangsa di Tenayan Raya, Pekanbaru.

Ia begitu fasih menceritakan kondisi yang dialami penghuni selama menetap di sana. Alih-alih hidup diperhatikan justru panti tersebut tak ubahnya neraka bagi mereka. 

Sempat takut bercerita akhirnya Andi mengungkapkan kejahatan pengurus panti ketika menyiksa penghuni, seperti menyiramkan air panas bercampur cabai rawit.

"Apakah saya akan dikeluarkan hari ini," Andi berulang kali bertanya hal tersebut ketika didatangi rombongan Dinas Sosial Riau, Lembaga Perlindungan Anak Riau, Minggu (29/1/2017) siang.

Acapkali penyiksaan yang dialami penghuni panti bertempat di bangunan belakang. Ruangan tersebut juga dilakukan untuk menyiksa perempuan.

Tak hanya menyiramkan air panas bercampur cabai rawit petugas juga menendang penghuni panti.
Selama sepuluh tahun sudah 32 orang penghuni yang meninggal.

Dari balik lubang kecil kamarnya Andi berbincang dengan rombongan Dinas Sosial Riau, Lembaga Perlindungan Anak Riau, yang mendatangi panti jompo, lansia dan orang gila yang dikelola Yayasan Tunas Bangsa di Kilometer 20 Lintas Timur, Tenayan Raya, Pekanbaru, Minggu (29/1/2017) siang. TRIBUN PEKANBARU/BUDI RAHMAT
Dari balik lubang kecil kamarnya Andi berbincang dengan rombongan Dinas Sosial Riau, Lembaga Perlindungan Anak Riau, yang mendatangi panti jompo, lansia dan orang gila yang dikelola Yayasan Tunas Bangsa di Kilometer 20 Lintas Timur, Tenayan Raya, Pekanbaru, Minggu (29/1/2017) siang. TRIBUN PEKANBARU/BUDI RAHMAT

"Orang yang meninggal itu dibiarkan sekarat. Tidak dibantu," Andi menambahkan jika penghuni yang meninggal dikuburkan di Palas, Pekanbaru.

Cerita kekejaman lain yang Andi beberkan terkait pengelola panti yang sengaja mengambil perempuan hamil dengan iming janji-janji.

"Perempuan hamil yang dikatakan gila di bawa ke sini. Ditunggu sampai melahirkan. Anaknya diambil sedangkan yang perempuan dikurung di panti," kata dia.

Hanya Andi satu-satunya penghuni panti yang bisa diajak berbicara saat itu. Wajahnya diliputi ketakutan, sesekali menoleh ke belakang untuk memastikan tak ada petugas panti yang mendengar dan memelototinya.

Ketakutan dan tangisannya mendadak hilang setelah rombongan memastikan ia dan penghuni lainnya bakal dievakuasi keluar dari panti.

"Apakah saya mau dikeluarkan dari tempat ini? Kalau iya saya akan ceritakan semuanya," aku dia.

Andi berbicara saat ditemui rombongan di belakang bangunan sebagai kamar tempat ia dan dua pria lainnya dikurung petugas panti. Ia bercerita seperti orang normal pada umumnya.

Emosinya sempat meledak kala Andi mengingat penyiksaan yang dialami dirinya dan kawan-kawan di panti tersebut.

Andi sempat memperlihatkan bekas siraman air panas bercampur cabai rawit yang membakar punggungnya kepada rombongan Dinkes Riau dan LPA Riau.

Sumber: Tribunnews
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved