Rabu, 6 Mei 2026

Dicari Lebih Dari 24 Jam, Tubuh Sumarno Belum Juga Ditemukan di Tambang Desa Mapur

"Hingga saat ini, korban belum ditemukan. Proses pencarian korban masih berlangsung, ada tiga atau empat alat berat digunakan untuk mencari..."

Tayang:
IST
Proses pencarian korban Sumarno (25) yang terkubur tanah longsor di lokasi tambang di Air Rengas Desa Mapur Kecamatan Riausilip, Selasa (7/2g2017). Korban tertimbun longsoran tanah sejak Senin (6/2/2017).(IST) 

RIAUSILIP, BN - Hingga Selasa (7/2) malam kemarin, sudah lebih dari 24 jam, proses pencarian terhadap Sumarno (25), warga Dusun Mengkubung, Desa Riding Panjang, Belinyu, belum membuahkan hasil. Korban sebelumnya tertimbun longsor di IUP PT Timah, di Air Rengas, Dusun Melintang, Desa Mapur, Kecamatan Riausilip, Senin (6/2) petang.

Upaya pengerukan tanah longsor yang menimbun tubuh korban menggunakan empat unik eskavator. Personil Satpol PP Pemkab Bangka yang bertugas di Kecamatan Riausilip, Reimei juga turun ke lokasi, untuk turut membantu proses pencarian korban.

"Ada empat alat berat, yang digunakan untuk mencari korban. Sampai sekarang proses pencarian masih berlangsung," kata Koordinator Satpol PP di Kecamatan Riausilip itu.

Kades Mapur, Agus Sari juga terus memantau pencari hingga pukul 21.00 malam kemarin. "Hingga saat ini, korban belum ditemukan. Proses pencarian korban masih berlangsung, ada tiga atau empat alat berat digunakan untuk mencari korban, sarana penerangan juga cukup untuk memperlancar proses pencarian," ujar Agus.

Selain menyebabkan tertimbunnya Sumarno saat menambang, longsoran tanah dinding camui juga menyebabkan tiga penambang lainnya mengalami luka ringan.

Satu diantara korban selamat bernama Merin, warga Desa Mapur. Merin menceritakan kepada Agus Sari terkait kisah mengerikan itu. Tanah longsor itu tiba-tiba terjadi, saat pekerja yang di dasar camui hendak mencuci pasir timah.

"Pertama ada longsoran kecil, tapi setelah itu longsoran besar langsung ambrol dengan cepat, si Merin bersama dua kawan lainnya, masih sempat lari menghindar dorongan lumpur, meskipun dengan susah payah," katanya.

"Tapi kawan mereka Sumarno, yang sampai sekarang belum ditemukan. Saat lari selamatkan diri mereka alami luka-luka lecet kecil," kata Agus lagi.

Saat itu, kata Agus lagi, ada penambang lain yang memberikan peringatan ager mereka segera menghentikan aktivitas menambang. Penambang itu juga meminta mereka segera naik ke atas permukaan, karena permukaan tanah di atas camuy sudah retak dan sedikit bergeser.

Sesaat setelah kode itu diberitahukan ke Merin cs, bongkahan tanah kecil mendadak runtuh.

Merin, Sumarno dan dua rekannya sudah siap untuk bergeser dan naik meninggalkan dasar camuy.

Namun terlambat, mendadak saja bentangan dinding tanah dan lumpur dari titik yang retak di bagian permukaan lubang camuy, langsung melorot cepat, ambrol ke dasar lubang camuy.

Merin dan dua rekannya yang melihat longsoran tanah itu, langsung berteriak sekuatnya, awas! longsor! sambil berlari menghindari dorongan tanah berlumpur, yang terus memenuhi dasar lubang camuy. Namun, Sumarno tertinggal tidak ikut naik bersama Merin dan dua rekannya.

Merin dan dua rekannya, menunggu penuh harap Sumarno bisa muncul dari tanah berlumpur yang menutup hampir seluruh lubang camuy. Tapi Sumarno tak kunjung muncul ke permukaan. Sumarno terkubur longsoran tanah.

Saat longsor terjadi, satu unit excavator (alat berat) di lokasi tambang, juga turut terbawa ke dasar lubang camui hingga terbenam hingga setengahnya. Sementara operator alat berat Ali (31) asal Pangkalpinang, selamat dalam peristiwa itu.

Sumber: babel news
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved