Harga Cabe di Pulau Bangka Melambung Hingga Rp 250.000 per Kilo
Bayangkan saja sekilo cabai rawit 200 ribu, beras sekarung berat 15 kilo, hanya 195 ribu perkilo, ya mendingan kita beli beras
Penulis: Evan Saputra | Editor: Iwan Satriawan
Laporan Wartawan Bangka Pos Evan Saputra
BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Harga satu kilo cabai rawit atau cabe kecil di Pulau Bangka, Provinsi Bangka Belitung (Babel) Senin (20/2/2017) hari ini terpantau setara dengan harga sekarung beras dengan berat 15 kilo, atau Rp 13 ribu perkilo.
Sunarti seorang Ibu-ibu rumah tangga (IRT) mengatakan harga cabai rawit sekarang sudah luar biasa.
Bahkan jika diminta memilih membeli beras atau cabai rawit, dirinya mengaku tentu saja membeli beras.
Baca: Ngaku Sambil Nangis Bunuh Keponakan Sendiri, Inilah Pengakuan Aliong Pembunuh Sadis Ibu dan Anak
Sebab menurutnya, beras bisa mencukupi kebutuhan hidup hingga satu bahkan dua minggu.
"Bayangkan saja sekilo cabai rawit 200 ribu, beras sekarung berat 15 kilo, hanya 195 ribu perkilo, ya mendingan kita beli beras bisa buatan makan bisa sampai 2 minggu," kata Sunarti.
Pantauan bangkapos.com, dibeberapa pasar tradisional harga cabai rawit di tingkat pengecer bervariasi mulai dari Rp 160 ribu perkilo hingga Rp 200 ribu perkilo.
Roy (43) salah satu pedagang kebutuhan pokok di Pangkalpinang membenarkan jika harga cabai rawit saat ini melonjak hingga Rp 160 ribu perkilo.
Padahal katanya harga pengenal jenis ini sebelumnya sempat turun diangka Rp 120 ribu perkilo.
"Sabtu kemarin sempat turun 120 ribu perkilo karena stok tidak ada jadi naik 160 ribu perkilo,"kata Roy, Senin ( 20 / 2 / 2017).
Sementara di pasar tradisional Air Itam Pangkalpinang harga cabai rawit terpantau Rp170 ribu perkilo, sedangkan untuk cabai rawit lokal Rp 200 ribu perkilo.
"Cabai rawit luar kita jual 170 ribu perkilo, kalau lokal 20 ribu perons atau 200 ribu perkilo," ujar Rahma pedagang tradisional di air Itam Pangkalpinang.
Kosongnya cabai rawit di pasaran di pulau Bangka di benarkan, Jono salah satu distributor cabai rawit di pasar pembangunan Pangkalpinang.
Hal ini sebabkan sudah beberapa hari cabai rawit tidak masuk ke Pangkalpinang.
"Cabai rawit kita inikan dari Jawa Timur dan Manado, sudah dua tidak hari tidak masuk," kata Jono, Senin ( 20 / 2 / 2017).
Jono mengaku, alasan mereka belum meminta pasokan cabai rawit dari dua daerah tersebut di karena harga cabai rawit di tingkat petani mahal yaitu Rp.110 ribu perkilo.
"Sudah berapa hari ini belum ada cabai masuk, karena harga di tingkat petani mahal," terangnya.
Melonjaknya harga cabe ini tak hanya terjadi di Kota Pangkalpinang saja, harga cabe rawit di Pasar Toboali pada hari Senin (20/2/2017) terpantau mencapai Rp 200 ribu per kilogram, harga ini menurut sebagian pedagang mengalami penurunan dibandingkan sebelumnya mencapai Rp 250 ribu.
Miing Pedagang Cabai di Pasar Toboali mengatakan harga tersebut mengalami penurunan karena adanya pasokan cabai yang datang, sehingga membuat harga cabai sedikit menurun.
"Cabai kecil Rp 200 ribu harga itu menurun dari harga kemarin yang mencapai Rp 250 ribu perkilogramnya, ini terjadi karena ada barang datang,"jelas Miing.
Menurut Miing kenaikan dan penurun terjadi di sebabkan karena jumlah dan pasokan barang yang datang.
"Tergantung ada barang datang mungkin turun, tetapi apabila barang tidak ada naik lagi," ungkapnya.
MOU Dengan BPTP
Pemerintah Provinsi Bangka Belitung (Babel) terus berupaya agar kenaikan harga dapat di atasi. Salah satunya melalui MoU Ibu-Ibu PKK bersama BPPT, untuk penyedia bibit cabai rawit.
"Ibu-ibu PKK kita sudah berkerja sama dengan BPPT untuk bibit, bibit ini akan di bagikan kepada seluruh masyarakat agar di tanam di perkarangan rumah,"Kata Sekda Babel Yan Megawadi, Senin ( 20 / 2 / 2017).
Yan tak menapik jika kenaikan harga cabai ini di sebabkan Provinsi Bangka Belitung selalu bergantung dengan daerah lain, maka untuk itu, Pemprov Babel melalui dinas pertanian terus berupaya dengan menyediakan lahan-lahan untuk di tanaman, tanaman penyumbang inflasi tertinggi di Babel.
"Kita terus berupaya melepaskan diri ketergantungan pasokan cabai dari daerah lain, hal ini sudah menjadi Antensi khusus dinas pertanian," Yan.
Kepala Kepala Badan Ketahanan Pangan (BKP), Damiri mengatakan pihanya tetap mengedepankan KRPL untuk masyarakat. Selain itu ada juga kerjasama dengan BPPT untuk meningkatkan produksi cabai di provinsi ini, Senin ( 20 / 2 / 2017).
"Prgoram KRPL lah jalan, karena baru tanam sekarang lebih digalakan. Selain itu PKK juga kerjasma dengan BPPT dengan pangan, di BPPT itu kita tentang teknologi dan bibitnya, ini baru jalan," ujar Damiri.
Damiri menjelaskan untuk tahun ini pihaknya mewajibkan KRPL menanam cabai dan bawang. Hal ini untuk meningkatkan jumlah produksi dan menurunkan harga cabai.
"Program KRPL mewajibkan menanam bawang dan cabai untuk menurunkan harga. Memang harga cabai saat ini jauh diatas harga beras, kalau di toko tani indonesia kita itu harga beras perkilonya 9.000," ujarnya.(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/pedagang-cabai-toboali_20170220_154126.jpg)