Selasa, 14 April 2026

Mengungkap Saling Klaim 'Pertemuan' Rizieq Shihab dan Ahok dengan Raja Salman

Kehadiran pemimpin Arab Saudi, Raja Salman bin Abdul Aziz di Indonesia tampanya juga menjadi simbol perebutan politik oleh dua pihak yang berseteru

Editor: Alza Munzi
Rizieq Shihab dan Ahok 

BANGKAPOS.COM - Kehadiran pemimpin Arab Saudi, Raja Salman bin Abdul Aziz di Indonesia tampanya juga menjadi simbol perebutan politik oleh dua pihak yang berseteru dalam Pilkada DKI Jakarta, kata pengamat politik.

Raja Salman -sebagai pemimpin Arab Saudi dianggap melambangkan ke-Islaman dan tanah tempat kelahiran para nabi- sehingga kehadirannya penting untuk meneguhkan legitimasi dua pihak yang berseteru.

Karenanya, peristiwa jabat tangan Gubernur Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok dengan Raja Salman dan klaim pimpinan Front Pembela Islam Rizieq Syihab bahwa dirinya telah diundang untuk menghadiri pidato Raja Salman di DPR menjadi penting secara politik.

"Ini semakin menunjukkan politik di Jakarta yang makin panas, dan mereka (Ahok dan Rizieq) memperebutkan Raja Salman sebagai simbol kekuasaan politik," kata pengamat politik dari Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati, Bandung, Asep Salahudin.

Dengan dapat 'bertemu langsung' Raja Arab Saudi, demikian Asep Salahudin, kedua orang itu ingin mendapatkan simpati massa. "Ini politik untuk saling mengklaim terhadap sosok Raja Salman," paparnya.

Apabila Rizieq dipastikan dapat menghadiri undangan pidato Raja Salman di DPR, Kamis (2/3/2017), maka peristiwa itu dapat dibaca sebagai simbol dukungan negara terhadap keberadaan diri dan kelompok di belakangnya, kata Asep.

"Ini semacam politik untuk menunjukkan bahwa mereka tidak hanya mendapat dukungan horisontal, tapi juga dukungan oleh negara," kata Asep Salahudin.

Adapun peristiwa jabatan tangan Ahok dengan Raja Salman, demikian Asep, dapat dibaca sebagai klarifikasi secara simbolis atas tuduhan penistaan agama atas dirinya.

"Karena, bagaimanapun sudut pandang bangsa Indonesia terhadap Arab Saudi itu sangat luar biasa. Dan baik Rizieq maupun Ahok ingin mendapatkan simpati massa sebanyak mungkin," tandasnya.

Undangan Rizieq dipertanyakan

Keputusan pimpinan DPR mengundang pimpinan Front Pembela Islam (FPI), Rizieq Syihab, untuk menghadiri pidato pemimpin Arab Saudi, Salman bin Abdul Aziz di DPR, Kamis (2/3/2017) disesalkan seorang politikus.

Undangan kepada Rizieq Syihab itu dianggap mengistimewakan yang bersangkutan karena dia saat ini sedang terjerat kasus dugaan penistaan Pancasila dengan status tersangka, kata politikus PDI Perjuangan Eva Sundari.

"Karena itu agak aneh, kalau kemudian selera pimpinan untuk mengundang Rizieq Syihab," kata politikus PDI Perjuangan, Eva Sundari kepada BBC Indonesia.

Sebelumnya, kuasa hukum Rizieq Syihab, yaitu Kapitra Ampera, mengaku bahwa kliennya telah menerima undangan dari pimpinan DPR untuk menghadiri pidato Raja Salman di DPR.

"Ini undangan dari negara, Insya Allah kita hadir," kata Kapitra kepada wartawan, seraya menambahkan bahwa pimpinan GNPF-MUI juga diundang.

Sumber: BBC Indonesia
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved