Sembahyang Kubur Tradisi Menghormati Leluhur
Kepulan asap putih, bekas bakar uang kertas dan perlengkapan lainnya itu salah satu ritual tradisi dari kegiatan sembahyang kubur
Penulis: Fitri Wahyuni | Editor: edwardi
Laporan Wartawan Bangka Pos, Agus Nuryadhyn
BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Bau asap dupa saat memasuki areal perkuburan Sentosa Pangkalpinang.
Kepulan asap putih, bekas bakar uang kertas dan perlengkapan lainnya itu salah satu ritual tradisi dari kegiatan sembahyang kubur (Ceng Beng).
Sejak sepuluh hari lalu,Warga Keturunan Tionghoa mulai melakukan tradisi sembahyang kubur (Ceng Beng). Namun puncak sembahyang kubur, Selasa (4/4/2017) untuk di Pangkalpinang di Perkuburan Yayasan Sentosa Pangkalpinang.
Sejak pukul 03.00 WIB dinihari, Selasa (4/4/2017) warga keturunan Tionghoa memadati perkuburan Sentosa Pangkalpinang untuk melakukan sembahyang leluhur. .
Bersama keluarga, hingga cucu-cucu mereka membersihkan kuburan leluhur orangtua dan menyajikan berbagai jenis makanan, buah-buahan, teh , arak putih serta daging yang diletakan di altar di makam.
Tradisi sembahyang kubur ini dilakukan sejak dulu kala hingga turun menurun untuk menghormati leluhur yang sudah meninggal.
"Dari tahun ke tahun, Ceng Beng dilakukan untuk menjaga tradisi agar tidak tergerus dengan zaman," ungkap Bambang warga Pangkalpinang, saat ditemui, disela-sela mlakukan ritual sembahyang kubur, Selasa (4/4/2017).
Bambang datang bersama isteri, anak serta keluarga melakukan sembahyang kubur, di kuburan leluhur.
Menurut Bambang bahwa sembahyang kubur, sebagai bhakti anak terhadap orangtua.
Dikatakan Bambang, tradisi ini turun temurun dari orang-orangtua ke anak muda untuk melaksanakan sembahyang Ceng Beng.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/sembahyang-kubur_20170404_163455.jpg)