Rabu, 22 April 2026

Sandiaga Terperangah Ditanya soal JK Mengkudetanya Sebagai Cagub

Sandiaga Uno sempat terperangah atau diam sesaat ketika ditanya mengenai intervensi Jusuf Kalla yang mengkudeta dirinya sebagai cagub.

Editor: fitriadi
istimewa
Calon wakil gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno bertemu dengan Wakil Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat, Rabu (26/4/2017) di restoran Meradelima, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. 

BANGKAPOS.COM, JAKATA - Calon wakil gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno sempat terperangah atau diam sesaat ketika ditanya mengenai intervensi Wakil Presiden Jusuf Kalla yang mengkudeta dirinya sebagai cagub digantikan Anies Baswedan pada Pilkada DKI Jakarta.

Saat itu, Kompas.com menanyakan bagaimana cerita di balik intervensi JK untuk memilih Anies yang awalnya tidak terlalu diminati oleh partai politik pengusung Sandi.

Baca: JK Buka-bukaan Kudeta Sandiaga sebagai Cagub Diganti Anies

Cerita itu terungkap dalam pidato Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) Zulkifli Hasan pada seminar nasional kebangsaan Gerakan Muballigh dan Sosialisasi Empat Pilar MPR RI di Gedung Nusantara V, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (2/5/2017).

"Saya lebih baik enggak usah komentar deh, karena itu politik tingkat tinggi ya. Saya fokus di Jakarta saja," kata Sandi yang diawali dengan diam sesaat kemudian tersenyum kecil, Rabu (3/5/2017).

Tidak banyak yang diceritakan Sandi soal intervensi JK.

Baca: Putri Cantik Sandiaga Mau Dijodohkan dengan Putra Ahok Biar Jakarta Tak Lagi Ribut

Akibat intervensi JK, Prabowo Subianto yang sebelumnya sudah menetapkan pasangan calon gubernur yang diusung, yakni Sandiaga Uno dan politikus PKS, Mardhani AIi Sera, bubar.

Koalisi Gerindra PKS akhirnya mengugurkan Mardhani AIi Sera, dan posisinya sebagai calon wakil gubernur diisi Sandiaga. Sedangkan Cagubnya diisi wajah baru atas utusan JK, Anies Baswedan.  Artinya intervensi JK mengakibatkan kudeta Sandiaga sebagai cagub dan Mardhani sebagai cawagub.    

Sandi juga enggan mengungkap lebih jauh tentang beberapa nama yang Zulkifli sebut sempat dipasangkan dengannya sebelum Anies, yaitu Yusril Ihza Mahendra, Chairul Tanjung, hingga Agus Harimurti Yudhoyono.

Keengganan menceritakan hal yang sama didapati juga pada diri calon gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan. Di tempat berbeda, Anies kembali ditanya pewarta tentang intervensi JK memilih dia untuk maju bersama Sandi.

"Saya dipanggil oleh Gerindra tapi di dalamnya seperti apa itu yang tahu teman teman di Gerindra," tutur Anies saat berada di Jakarta Convention Center.

Ketika ditanya lebih lanjut, Anies menilai dirinya maju mendampingi Sandi tidak sesederhana dengan adanya intervensi dari JK.

Dia juga memastikan selama proses pemilihan namanya itu, dirinya hanya berhubungan dengan Sandi dan pihak Partai Gerindra.

Baca: Ahok Tolak Jabatan Menteri atau Staf Presiden, tapi Pilih Ini

Adapun sebelumnya Sandi juga menyebut masa-masa pencarian pendampingnya hingga disepakati nama Anies sebagai masa-masa krusial.

Masa krusial yang dimaksud adalah dari tanggal 21 sampai 23 September 2016. Sandi berjanji akan menorehkan cerita lengkap seputar itu, termasuk soal masa-masa krusial sampai mengapa Anies yang dipilih, ke dalam sebuah buku.

Selain itu, dalam buku tersebut, Sandi juga akan menceritakan pengalamannya selama 18 bulan berkeliling Jakarta menyapa warga.

Intervensi Kalla

Ketua Umum Partai Amanat Nasional ( PAN) Zulkifli Hasan bercerita soal mengapa sosok Anies Baswedan dipilih untuk diusung sebagai calon gubernur pada Pilkada DKI Jakarta 2017.

Mulanya, kata Zulkifli, tak ada partai yang mau mengusung Anies.

Sosok Yusril Ihza Mahendra lah yang sempat digadang untuk diusung enam partai, yakni Partai Demokrat, Partai Amanat Nasional, Partai Kebangkitan Bangsa, Partai Persatuan Pembangunan, Partai Gerindra, dan Partai Keadilan Sejahtera.

Sedangkan Sandiaga Uno menjadi calon wakil gubernurnya.

"Dulu terus terang, saudara Anies itu tidak ada yang mau. Ini saya buka rahasianya," kata Zulkifli saat membawakan keynote speech dalam seminar nasional kebangsaan Gerakan Muballigh dan Sosialisasi Empat Pilar MPR RI di Gedung Nusantara V, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (2/5/2017).

"Calon itu Yusril, Sandi, sudah. Dihitung-hitung enggak menang. Sampai jam 12 malam sebelum pendaftaran. Maka dicarilah kesepakatan enam partai itu," sambung dia.

Sosok Pengusaha Chairul Tanjung pun sempat dibidik. Namun Chairul menolak karena bisnisnya tengah susah.

Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono pun menyodorkan nama Agus Harimurti Yudhoyono. 

Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto sempat menyanggupi tawaran tersebut. Namun dengan syarat Sandiaga sebagai calon gubernurnya.

Sebab, Sandiaga sudah lama bergerak untuk maju ke Pilgub DKI.

Namun, pada Pukul 21.00 WIB sebelum pencalonan calon gubernur dan wakil gubernur, Sandiaga mendatangi kediaman Zulkifli di Widya Chandra untuk menyatakan kesediaannya menjadi calon wakil gubernur untuk Agus.

"Waktu itu dia bilang enggak apa-apa saya jadi wakil tapi pertemukan Pak Prabowo dengan Pak SBY," tutur Zulkifli menirukan pernyataan Sandiaga saat itu.

"Nah, saya tahu kalau Pak Prabowo, Pak SBY ketemu mesti ada jaminan lima tahun selesai. Kira-kira itu isinya. Sehingga tak jadi ketemu, sudah putus AHY. Di sini ya sudah Sandi sama Mardani (Ali Sera)," sambung Zulkifli.

Di situ lah peta politik berubah. Prabowo akhirnya menyetujui Anies sebagai calon gubernur. Itu, ujar Zulkifli, atas intervensi Wakil Presiden Jusuf Kalla.

"Jam 12 malam sampai jam 1 pagi itu ada intervensinya Pak JK. Saya kan suka terus terang. Pak JK boleh enggak ngaku, saya dengar kok teleponnya. Pak JK lah yang meyakinkan sehingga berubah lah," ucap Ketua MPR RI itu.

Namun, saat itu pihak SBY sudah telanjur mau mengumumkan akan mengusung AHY dan Sylviana Murni. Sehingga pihak SBY dan Prabowo tak berada di satu koalisi.

Namun, kesepakatan tetap dibangun antara partai pengusung Anies-Sandi maupun partai pengusung AHY-Sylvi bahwa harus ada perubahan di Jakarta.

"Karena kami enggak sanggup gubernur yang gaduh terus, sudah enggak sanggup dah. Orang Betawi bilang udah enggak tahan dah. Jadi sepakat kita mesti ada gubernur baru," ucap Zulkifli.

"Jadi kalau kami menang, yang sana gabung. Kalau sana menang, kami yang gabung. Janji laki-laki," tuturnya.

(Kompas.com)

Sumber: Kompas.com
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved