Minggu, 3 Mei 2026

Mang Kalok Ingin Pantai Rebo Jadi Tempat Wisata

Pengusaha hanya membangun jalan agar menjadi kawasan wisata sehingga masyarakat mudah mengakses jalan masuk ke Pantai Mang Kalok.

Tayang:
Penulis: nurhayati | Editor: fitriadi
Bangkapos.com/Nurhayati
Mang Kalok bersama pihak pengelola Tomi yang membangun jalan menuju Pantai Mang Kalok. 

Laporan Wartawan Bangka Pos Nurhayati

BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Mang Kalok membantah apa yang disampaikan Ketua Yayasan Ikatan Keluarga Besar Kenanga (Ikebana) Ervawi mengenai adanya kekhawatiran kawasan Pantai Rebo Sungailiat dikavling oleh pengusaha.

Mang Kalok merupakan orang yang merintis penanaman pohon cemara di pesisir Pantai Rebo atau dikenal Pantai Mang Kalok Sungailiat Kabupaten Bangka.

Menurutnya, pihak pengusaha hanya membangun jalan di kawasan tersebut agar menjadi kawasan wisata sehingga masyarakat mudah mengakses jalan masuk ke Pantai Mang Kalok.

Baca: Ikebana Khawatir Pesisir Pantai Rebo Dikuasai Cukong

Dia juga mengatakan Ikebana hanya menanam bakau itu juga bukan dilakukan oleh Ikebana tetapi oleh masyarakat.

"Ikebana hanya menanam bakau itupun hanya sponsor saja yang menanam masyarakat. Seluruh masyarakat termasuk mahasiswa dan pelajar. Kalau dibilang ia merawat dari tahun 2007 sampai sekarang merawat bilang dari sama saya. Saya tantang beliau terus terang saja. Jadi bakau ini hari ini nanam bakau 2010 tanggal 27 Juli hari bakau sedunia bersama Bapak Yusroni (Mantan Bupati Bangka H Yusroni Yazid--red) setahun setelah itu tidak datang lagi Ikebana orang-orangnya. Tahun berikutnya nanam lagi dari bank datang, siapa yang merawatnya. Saya yang merawat, saya yang nyulam segala macam, mucak bibit, die lepas tangan," ungkap Mang Kalok saat mengelar konfrensi pers bersama Tomi pihak pengusaha yang membangun jalan tanah puru ke Pantai Mang Kalok, Senin (29/5/2017) di Pantai Mang Kalok.

Menurutnya pada tahun 2013 ia dipecat dari Ikebana dan keluar.

Dia menyebutkan tak tahu alasan dipecat dari Ikebana. Mang Kalok meminta pengurus Ikebana untuk datang bertemu dengannga.

"Mana yang dikavelingnya lihat saja sendiri. Saya tahu juga undang-undang negara biar saya orang bodoh. Tanah ini tidak bisa dijualbelikan ini hak utang lindung. Ini perbatasan sama bos itu tempatnya. Kalau ini punya saya. Itu saya tidak tahu ada dak sertifikatnya. Kalau ini memang tidak ada surat apa-apa. Kalau saya menjual bagaimana memang orang mau beli tanpa surat," jelas Mang Kalok.

Dikatakannya Tomi ini hanya pengusaha mau mengelola Pantai Mang Kalok karena selama ini tidak ada yang mengelola dibiarkan begini terus.

Sebagai pengelola menurutnya silahkan dikelola sedangkan ia tetap merawat tanaman yang ada di pantai tersebut.

Justru dia menilai dengan adanya berbagai fasilitas wisata ini masyarakat bisa datang untuk berekreasi.

Untuk biaya dia menyebutkan pasti dikenakan biaya masuk dari pengusaha tetapi tidak memberatkan masyarakat.

"Mungkin hanya Rp 2.000 masuknya, wajar tetapi belum ini kalau sudah dibangun semua ada tempat permainan anak dan segala macam. Masyarakat mau main permainan bayar," jelas Mang Kalok.

Dikatakan Mang Kalok setiap hari ia datang ke pantai tersebut bahkan menginap untuk merawat bakau dan cemara di pantai ini karena takut di tebang orang.

Diakuinya tahun 2010 ia diangkat sebagai honorer di Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Bangka oleh Bupati Bangka saat itu dijabat Yusroni Yazid.

"Dia (Yusroni--red) lihat cemara ini kalau bakau belum ada baru mau rencana nanam. Ini tumbuh air surut ditanam cemara. Pada acara tahun 2010 itu Pak Yusroni datang Mang Kalok saya kasih kamu pekerja honorer di BLH kamu kerjanya disini, di laut ini jaga, rawat bersih ini. Tidak ada orang Ikebana memberi saya pekerjaan," cerita Mang Kalok yang sudah berhenti sebagai honorer karena usianya sudah 55 tahun.

Disinggung apakah ada dialog dengan pihak Ikebana untuk menyelesaikan permasalahan ini tetapi Mang Kalok menolaknya dengan alasan sudah tertipu dengan Ikebana.

Dia ingin bekerjasama dengan pihak pengusaha untuk bikin tempat wisata di kawasan Pantai Mang Kalok.

"Pokoknya bikin wisata untuk masyarakat. Kalau bilang bayar otomatis bayar karena orang mengelolanya keluar modal ni. Dak mungkin gratis masuknya ini," tegas Mang Kalok.

Sumber: bangkapos.com
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved