Kamis, 30 April 2026

Ngerinya Santet ala Aborijin Ini, Orang yang Bersalah Dijamin Mati Walau Melarikan Diri

Seketika itu juga, orang terhukum itu menjadi kaku ketakutan. Kurdaitcha mendorong tulang itu ke dekatnya dan menyebutkan

Tayang:
Editor: Iwan Satriawan
Duckdigital
Kurdaitcha, dari nama sandal hingga jadi pemburu orang bersalah 

BANGKAPOS.COM--Di tahun 1953 seorang Aborijin bernama Kinjika diterbangkan dari kota asalnya, Arnhem Land, di wilayah Utara Australia menuju ke sebuah rumah sakit di Darwin, ibu kota wilayah itu.

Dia tidak mengalami cedera atau keracunan, dan tidak menderita penyakit apapun tapi kini dalam keadaan sekarat.

Kinjika hanya bertahan empat hari dan sangat kesakitan setelah masuk rumah sakit. Pada hari kelima, dia meninggal.

la korban dari penunjukkan tulang, sebuah metode eksekusi - atau pembunuhan – yang tidak meninggalkan tanda bekas dan tidak pernah gagal.

Pria yang telah mati itu adalah anggota suku Mailli dan pernah melanggar salah satu aturan hukum mengenai hubungan inses.

Akibatnya, dia harus diadili di depan pengadilan sukunya. Namun dia menolak hadir dan meski absen, akhirnya dia diputuskan untuk dihukum mati.

Kinjika kemudian meninggalkan tanah airnya. Pengadilan sukunya, yakni mulunguwa yang membuat dan secara ritual "mengisi" tulang pembunuh atau kundela itu.

Tulang yang digunakan mungkin tulang manusia, kangguru atau emu atau mungkin dibuat dari kayu. Bentuknya bervariasi dari suku ke suku.

Biasanya berukuran 10 sampai 15 cm yang salah satu ujungnya runcing dan ujung lainnya membulat.

Di ujung satunya terdapat jalinan rambut yang direkatkan melalui sebuah lubang atau lem resin yang diperoleh dari tumbuh-tumbuhan.

Agar efektif, kundela harus dipenuhi dengan energi psikik yang ampuh dalam sebuah upacara rumit yang harus dilakukan tanpa kesalahan.

Proses itu dirahasiakan bagi kaum wanita dan semua orang yang bukan termasuk anggota suku.

Jika terdakwa telah meninggalkan desanya, tulang berisi itu diberikan pada kurdaitcha, para pembunuh ritual suku tersebut.

Nama kurdaitcha berasal dari sepasang sandal istimewa yang dipakai ketika mereka sedang memburu orang yang bersalah.

Sandal itu dijalin dari bulu burung kakatua dan rambut manusia. Sandal itu tidak meninggalkan jejak.

Sumber: Intisari
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved