Selasa, 5 Mei 2026

Raja Perkebunan Sumut Meninggal, Siapa Sebenarnya DL Sitorus

Ketika hendak beranjak dari lounge untuk boarding, Sitorus merasa tidak kuat jalan. Pihak maskapai kemudian menyiapkan kursi roda.

Tayang:
Editor: Teddy Malaka
Tribun medan
DL SItorus 

BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Raja Perkebunan asal Sumut, DL Sitorus, meninggal dunia di pesawat Garuda rute Jakarta-Medan, Kamis (3/8) siang. Sitorus menutup mata sesaat mengeluh sesak napas. Saat itu, dia baru saja duduk di kursinya di kelas bisnis.

Senior Manager Communications Garuda Indonesia, Ikhsan Rosan menjelaskan, Sitorus tercatat sebagai penumpang kelas bisnis pesawat Garuda 188 rute Jakarta-Medan. Dia berpergian seorang diri.

Menurut Iksan, tak ada catatan khusus terkait kesehatan penumpang atas nama DL Sitorus. Bahkan, Sitorus sempat santap siang di lounge Garuda Indonesia di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten.

Ketika hendak beranjak dari lounge untuk boarding, Sitorus merasa tidak kuat jalan. Pihak maskapai kemudian menyiapkan kursi roda. "Prosesnya boarding biasa. Tapi, nggak kuat jalan, minta kursi roda, dia sudah tua umur 80-an," ungkap Iksan.

Sampai di dalam pesawat, Sitorus mengaku sesak nafas. Sesaat kemudian, Sitorus tidak sadarkan diri. "Sampai di pesawat mengeluh sesak nafas lalu tidak sadarkan diri, petugas di pesawat kemudian memanggil petugas kesehatan bandara," papar Ikhsan.

Petugas kesehatan yang tiba di dalam pesawat segera mengecek kondisi DL Sitorus. Namun petugas kesehatan menyatakan bahwa penumpang yang bersangkutan telah meninggal dunia. "Ketika dicek, sudah meninggal. Prosesnya cepat," kata Ikhsan.

Petugas kemudian menurunkan jenazah DL Sitorus. Proses ini membuat pesawat Garuda Indonesia tersebut mengalami penundaan penerbangan selama 65 menit.

DL Sitorus adalah pengusaha sukses yang dijuluki Si Raja Perkebunan asal Sumut. Selain memiliki perkebunan kelapa sawit dengan luas puluhan ribu hektare, DL Sitorus juga memiliki yayasan pendidikan dan rumah sakit.

Konglomerat ini juga memiliki gedung-gedung untuk resepsi pernikahan suku Batak yang diberi nama Rumah Gorga dan tersebar di Jakarta dan Bekasi.

DL Sitorus lahir di Parsambilan, Kecamatan Silaen, Toba Samosir, Sumut. Dia kemudian pindah dan besar di Siantar. DL Sitorus menikah dengan Boru Siagian dan dikaruniai lima anak, dua perempuan dan tiga laki-laki.

Sebagai putra daerah yang paling sukses di perantauan dan selalu memberikan perhatian untuk membangun kampung halaman (Bona Pasogit), nama DL Sitorus diabadikan menjadi nama sebuah jalan di Kabupaten Toba Samosir, Sumatera Utara.

Bupati Toba Samosir, Monang Sitorus, beberapa waktu lalu, meresmikan nama Jalan DR Sutan Raja DL Sitorus. Jalan sepanjang sekitar 12 km itu terbentang mulai dari simpang Sibisa di Aek Natolu Kecamatan Lumban Julu sampai simpang Kantor Kelurahan Parsaoran Ajibata melintasi Sibisa,

Bandara Sibisa, Simarata dan Motung Kecamatan Ajibata, Toba Samosir, Sumut.

Nama DL Sitorus juga terseret-seret ke kasus hukum. Pada 2004, DL Sitorus mendekam di hotel prodeo karena dinyatakan bersalah kasus perambahan hutan register 40 di Tapanuli Selatan.

DL Sitorus
DL Sitorus (tempo.co)

Kasus ini bermula saat perusahaan milik DL Sitorus, PT Torganda mengonversi 72.000 hektare (dari 172.000 hektar) hutan di Register 40 menjadi perkebunan sawit, di Kecamatan Simangambat, Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara.

PT Torganda mempekerjakan lebih dari 15.000 karyawan. Itu belum termasuk pekerja yang bekerja di perkebunan lain dan perusahaan keluarganya yang lain. Grup Torganda ini juga diduga memiliki 33 bank perkreditan rakyat (BPR).

Konversi hutan menjadi perkebunan sawit itulah yang menjebloskan DL Sitorus ke balik jeruji besi selama 8 tahun. Ia ditangkap pada 30 Agustus di Pematang Siantar dan dibawa ke Medan. Kejaksaan Agung menuduh DL Sitorus melakukan tindak pidana korupsi. Selain itu, ia juga dituduh melakukan penebangan liar.

Terakhir, nama DL Sitorus juga dikait-kaitkan dengan masalah yang dihadapi anaknya, Sabar Ganda Leo, yang memegang kendali atas PT Sabar Ganda. Perusahaan tersebut terlibat sengketa tanah seluas 9,9 hektare di Cengkareng, Jakarta Barat. Dalam sengketa ini, PT Sabar Ganda berhadapan dengan Pemprov DKI.

Sengketa ini yang membuat pengacara PT Sabar Ganda bernama Adner Sirait diduga menyuap hakim PT Tata Usaha Negara (TUN), Ibrahim, sebesar Rp 300 juta. Ibrahim adalah hakim yang menangani sengketa tanah antara PT Sabar Ganda melawan Pemprov DKI.

Kesuksesan DL Sitorus di bisnis kelapa sawit ternyata membawanya ke panggung politik. Pada 20 Januari 2006, DL Sitorus mendeklarasikan Partai Peduli Rakyat Nasional, dimana dia menjadi tokoh utama pendiri partai ini.

Di dunia pendidikan, DL Sitorus yang memiliki perhatian lebih di dunia pendidikan menjabat sebagai Ketua Yayasan Abdi Karya (Yadika) yang berdiri sejak tahun 1976. Yadika secara bertahap telah menyelenggarakan semua strata pendidikan tingkat TK, SD, SMP, SMU, SMEA, STM, LPK dan BLK.

Tahun 1989, DL Sitorus semakin menancapkan bisnisnya di dunia pendidikan tinggi. Pada tahun itu, DL Sitorus membuka Universitas Satya Negara Indonesia (USNI), yang merupakan salah satu perguruan tinggi swasta di Jakarta. (faj/ryd)

Sumber: Tribunnews
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved