Gali Puluhan Sumur, Bule Ini Berkali-kali Nyaris Mati Demi Masyarakat Sumba
Masyarakat Sumba kini tak perlu lagi berjalan berkilo-kilometer ke rawa untuk mengambil air.
Ingin Mati di Sumba
Meski telah membangun 29 sumur di seantero P. Sumba, Andre Graff belum merasa berhasil.
"Saya sekadar mengantarkan masyarakat menuju ke peradaban yang lebih baik. Tugas merekalah untuk terus menjaga kelangsungan sumur-sumur itu agar terus bisa memancarkan air," katanya dalam bahasa Indonesia diselingi bahasa Inggris dengan aksen Prancis.
Meski hampir delapan tahun bekerja tanpa pamrih, belum semua warga Sumba tersadarkan akan pentingnya karya Andre.
Ia kadang masih dianggap bule yang sekadar ingin mengeksploatasi alam dan mencari keuntungan, kadang dimintai uang, kadang pula dicurangi misalnya dalam soal sewa kendaraan untuk mengangkut peralatan pembangunan sumur.
"Ya, masih ada orang-orang yang belum sadar, malah menggali kuburnya sendiri. Air bersih kan untuk mereka sendiri? Untuk masa depan anak-anak mereka?" sambung pria 56 tahun kelahiran Prancis ini.
Tapi itu semua tak mengurangi kecintaannya kepada Sumba. Andre telah menganggap kawasan yang sebagian masyarakatnya masih hidup dalam tradisi Marapu, kepercaraan warisan nenek moyang, itu sebagai tanah air keduanya.
"Saya sudah minta ke Kedutaan Besar Prancis di Jakarta, nanti kalau saya mati, jangan bawa mayat saya pulang. Mayat saya tidak ada gunanya. Saya ingin dikubur di Sumba, karena yang penting adalah apa yang sudah saya perbuat untuk Sumba.
(Intisari Online/Mayong Suryolaksono)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/bule-penggali-sumur-di-tanah-sumba_20171021_072258.jpg)