Mengulik Sejarah tentang Peci, Bukan Simbol Agama tapi Lambang Nasionalisme
Popularitas Soekarno yang kemudian menjadi Presiden Pertama Rl, membuat peci juga memasyarakat di Indonesia.
Baca: Bergelimang Harta, Ternyata Artis Muda Nan Cantik Ini Punya 5 Pabrik Uang
Di kawasan Asia Selatan seperti India, Pakistan, atau Bangladesh, pemakaian songkok juga membudaya.
Bukan hanya masyarakat muslim saja yang memakainya, namun juga masyarakat Hindu di India.
Harus diakui pemakaian songkok di Nusantara dipopulerkan oleh Soekarno.
Awalnya saat rapat Jong Java tahun 1921 di Surabaya, ia menegaskan tentang pentingnya sebuah simbol dari kepribadian Indonesia.
Saat itu Belanda sempat mewajibkan mahasiswa sekolah kedokteran STOVIA untuk berpakaian sesuai daerah asalnya.
Akibatnya banyak tokoh pergerakan yang tidak memakai penutup kepala sebagai bentuk perlawanan terhadap bangsa Belanda yang ingin memecah belah persatuan mereka.
Baca: Cetak Hat-trick Dalam 7 Menit, Egy Maulana Vikri Kalahkan 3 Penyerang Kelas Dunia
Dalam buku otobiografinya yang ditulis Cindy Adams, Soekarno mengakui bahwa pada awalnya ia malu dan takut ditertawakan.
Namun ia berkata kepada dirinya sendiri bahwa dirinya harus menjadi pemimpin, bukan pengikut. Jadi harus berani memulai sesuatu yang baru.
Karena itu ia memperkenalkan songkok yang disebutnya dipakai oleh pekerja-pekerja bangsa Melayu. "Dan itu asli kepunyaan rakyat kita," katanya di depan forum Jong Java.
Soekarno kembali menegaskan pentingnya pemakaian lambang Indonesia Merdeka itu dalam rapat Partai NasionalIndonesia (PNI) pada 4 Juli 1927.
Usul itu akhirnya disetujui dan menjadi identitas resmi kader-kader PNI.
Baca: Bungkam Brunei 11-0, Korea Selatan Panen Nyinyiran Netizen Indonesia
Belakangan songkok itu lebih dikenal sebagai "peci", yang menurut Soekarno berasal dari bahasa Belanda pet (topi) dan ye yang artinya kecil. Rakyat lebih akrab menyebutnya sebagai peci Bung Karno.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/soekarno_20170711_133139.jpg)