Mirip Kang Mo Yeon di Drama DOTS, dr Rangi Wirantika Lulusan Trisakti Jadi Dokter Perang
Dalam kehidupan nyata, memang ada dokter yang sengaja bertugas di daerah konflik. Mereka dinamakan Doctor
Meski Berat Tetap Bertahan
“Yang paling berat aku rasakan itu waktu di Yaman. Kalau di Pakistan, kan, itu dalam keadaan perang sudah selesai, jadi keadaan agak stabil. Kalau di Yaman itu perang masih aktif.
Aku cukup khawatir ketika datang ke sana. Dari ibukota Yaman ke Taiz, itu memakan waktu delapan jam dan ada banyak check point dan kami harus berhenti di setiap check point itu untuk pemeriksaan.
Selama tinggal di rumah sakit di Taiz, setiap malam aku selalu mendengar bunyi tembakan. Ranjau, bom, meriam, tembakan, itu sering banget kita dengar, sampai-sampai enggak bisa tidur.
Awal-awalnya aku enggak kuat, pengin pulang. Akhirnya aku ngomong sama bos MSF di sana kalau aku takut enggak sanggup. Sama beliau, aku diminta melihat pasien. Akhirnya aku keliling rumah sakit, terutama bagian anak-anak karena aku ditempatkan di sana.
Saat itulah aku sadar kalau mereka butuh banget dokter. Apalagi bangsal anak-anak ini masih baru, masih banyak yang harus diperbaiki. Itulah yang akhirnya membuatku bertahan.
Lama-lama, aku jadi menikmatinya, bahkan memperpanjang kontrak selama satu bulan. Di sana aku banyak bertemu dokter lain, terutama dokter Yaman yang pintar dan keren banget.
Ada satu pasien yang aku enggak bisa lupa. Namanya Malak, anak cewek usia sekitar tiga tahun. Dia mengalami malnutrisi parah sampai harus dirawat di rumah sakit sampai sebulan.
Ibunya suportif dia tinggal di rumah sakit, tapi namanya anak kecil, dia mungkin bosan, ya, jadi pengin pulang. Akhirnya aku janji bakalan nemuin dia tiap hari.
Suatu hari, aku kecapekan sampai ketiduran. Ternyata banyak yang nelepon aku, tapi enggak aku angkat. Pas udah bangun, aku diminta ke bangsal anak karena katanya Malak ngamuk, enggak mau makan. Rupanya dia begitu karena aku enggak datang.
Dia menderita glaukoma sehingga penglihatannya enggak jelas, tapi dia bisa mengenaliku lewat suara. Karena dia, aku jadi belajar buat menghargai janji.
Setiap hari, aku harus berusaha mengambil keputusan terkait dengan pasienku. Kesehatan pasien itu penting, tapi keselamatan stafku juga harus dilindungi. Misalnya saat merujuk pasien ke rumah sakit lain, itu banyak yang harus dipikirin.
Bagaimana perjalanan ke rumah sakit itu, apakah dia bisa sampai dengan selamat, apakah stafku yang mengantar bisa pulang dengan selamat, bagaimana dengan keluarganya, hal-hal itulah yang harus dipertimbangkan setiap hari selama berada di sini.
Apa yang aku bayangkan selama ini dengan apa yang aku jalani langsung itu ternyata berbeda. Kenyataannya jauh lebih berat, pola kerjanya sangat berat, tapi bukan berarti enggak bisa.
Memang banyak yang harus dikorbankan, seperti tinggal sendiri di tempat bahaya, jauh dari keluarga, tapi apa yang aku dapatkan itu terasa sesuai.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/rangi-wirantika_20171113_180310.jpg)