Warga Tak Berani Ambil Junjung di Lereng Puncak Taman Nasional Gunung Maras
Warga Dusun Buhir Desa Berbura sejak dulu tidak berani mengambil junjung sahang (kayu untuk tiang pohon lada), di lereng
Laporan Wartawan Bangka Pos, Riyadi
BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Warga Dusun Buhir Desa Berbura sejak dulu tidak berani mengambil junjung sahang (kayu untuk tiang pohon lada), di lereng hingga puncak Taman Nasional Gunung Maras.
Apalagi setelah kawasan hutan Maras ditetapkan sebagai Kawasan Taman Nasional Gunung Maras sejak tahun 2016 lalu.
"Warga kalau butuh kayu junjung, hanya ngambil di lahan yang datar di bawah, nggak pernah ngambil di lereng apalagi sampai ke puncak, itu sudah jadi adat kami dari zaman dulu, hanya sebatas kayu junjung saja," kata Kadus Buhir Karnadi kepada bangkapos.com Rabu (22/11).
Kalau misal ketemu madu hutan, warga tetap mengambil air madunya.
Kebiasaan memusung (memanen) madu hutan disini, dilakukan secara turun menurun.
"Kalau menebang pohon besar, apalagi merambang, dari dulu memang kami dan masyarakat mencegah dan melarang," jelas Karnadi.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/hutan-maras-di-desa-berbura_20171122_135619.jpg)