Selasa, 21 April 2026

Pengusaha Kafe dan Resto Incar Titik Nol Kota Pangkalpinang

Pengusaha kuliner pun mulai melirik kawasan di sekitar Alun-alun Taman Merdeka Pangkalpinang.

Editor: fitriadi
Bangka Pos/Resha Juhari
Pelayan Kafe Gochi melayani pengunjung yang datang ke kafe dan resto di Jalan Merdeka Pangkalpinang. 

PANGKALPINANG, BANGKA POS - Kawasan titik nol ibukota Provinsi Kepulauan Bangka Belitung semakin ramai.

Pengusaha kuliner pun mulai melirik kawasan di sekitar Alun-alun Taman Merdeka Pangkalpinang.

Terhitung sejak 2015, sejumlah kafe dan restoran mulai memadati kawasan tersebut.

Pantauan Bangka Pos, kafe dan restoran mulai muncul ke arah Jalan A Yani, Pangkalpinang.

Tidak hanya pengusaha kafe dan restoran yang menyewa gedung hingga puluhan juta rupiah, pelaku usaha warung makan dan street food turut meramaikan kawasan di dekat Taman Wilhemia atau Taman Sari tersebut.

Dhimas, pemilik Kafe Gochi, mengakui bermunculannya kafe dan restoran di sekitar titik nol atau kawasan di dekat Alun-alun Taman Merdeka (ATM) Pangkalpinang. Menurutnya, kawasan itu mulai ramai sejak 2015.

“Kami buka tahun 2014 waktu itu baru beberapa, cuma kesini memang makin banyak dan ramai enggak hanya cafe street food, pedagang kaki lima juga udah banyak sekarang," kata Dhimas ditemui Bangka Pos, pada pekan lalu.

Dhimas menyambut baik cafe-cafe yang baru berdiri di kawasan, menurutnya ini memberikan pilihan dan menunjukkan gairah yang positif terhadap perkembangan bisnis kuliner di Pangkalpinang.

Meski omzet kafenya menurun, Dhimas tak menganggap kafe dan restoran yang baru buka sebagai kompetitor.

“Justru ini tanda bagus berarti kreativitas pengusaha Bangka semakin meningkat, perputaran uang makin banyak. Dari segi segmentasinya aja udah beda-beda kafe yang ada di sini, kayak Gochi ini lebih ke usia 17-30 tahun dan kita konsepnya berbasis komunitas, jadi kita sering ada event yang berkaitan komunitas kayak seni, coaching clinic, sharing enterpreneur ini yang bikin kita beda," katanya.

Kawasan strategis

Dhimas mengatakan kawasan di sekitar titik nol termasuk kawasan strategis. Dan menjadi hal lazim jika kemudian tumbuh bisnis kuliner di kawasan tersebut. Apalagi kawasan titik nol menjadi titik temu masyarakat Babel.

Serupa disampaikan Manager Box Music, Heri saat ditemui di tempat terpisah. Selain di tengah kota, titik nol juga dikeliling beberapa hotel yang tentunya menjadi incara para pebisnis.

"Di sini memang strategis pertama dekat pusat kota, sekeliling ini banyak hotel, kadang ini juga macet dan ini jadi kesempatan untuk orang lihat ada apa ya, bisa jadi orang mampir, taman depan juga kawasan wisata," kata pengelola kafe di dekat Taman Wilhemia itu.

Heri menyebut, pangsa pasar Kuliner di Babel cukup besar. Hal ini lantaran masyarakat yang konsumtif dan gemar mencoba hal baru.

"Masyarakat kita konsumtif untuk makanan, dan memang pasarnya lebih seneng outdoor. Untuk kuliner pasarnya besar enggak hanya orang Babel tapi orang luar yang mulai datang ke sini juga banyak," katanya.

Dan baru-baru ini pemilik dari Box Music, kembali mengembangkan sayap bisnis kulinernya yaitu angkringan Janda yang mengusulkan tradisional food.

"Masih satu grup dengan angkringan janda, tapi ini lebih ke tradisional food. Orang kan biasanya makan angkringan identik dengan pinggir jalan, kita mencoba meramu ini dikemas lebih wah. Sebenarnya enggak ada kompetitor semakin banyak yang buka usaha kuliner semakin bagus karena kan ini balik ke rezeki masing-masing," kata Heri.

Tamu hotel

Pemilik serba Sambel, Jodi Budhi mengatakan pengunjung restoran tidak hanya masyarakat.

Tamu hotel yang ada di dekat titik nol turut menikmati sajian di kafe dan restoran yang mulai ramai di kawasan yang sama.

"Letak geografisnya di sini strategis, mudah orang menjangkaunya, ini dekat hotel dan penginapan customer yang menginap di hotel sering makan di sini, dan kami juga menyajikan khas semua menunya khas Jawa mulai dari sambelnya sampai gudeg, angkringan, dan kopi Joss," katanya.

Sepanjang tiga bulan bisnis yang digelutinya ini, ia mengatakan semuanya masih berjalan dengan lancar.

"Kita segment-nya memang menengah ke bawah, harganya terjangkau kualitas makanannya tinggi, itu tadi yang jelas kita kental dengan rasa jawanya," ujarnya.

Ia tak menampik banyak kompetitor yang menjajakan makanan khas Jawa, namun menurutnya Pihkanya tetap memiliki keunggulan dan cita rasa yang beda.

"Kekuatan di Menu enggak bisa didapatkan bahan dari Bangka kami datangkan dak Pulau Jawa, Bandeng Presto, Ikan Wader bahan baku sambel enggak ada disini," ujarnya.

Menurutnya, dengan semakin banyaknya kompetitor akan membuat pihaknya semakin tertantang untuk memberikan yang terbaik pada konsumen.

"Jadi semakin banyak kompetitor semakin tertantang. Masing-masing warung dan cafe punya khas dan ciri-cirinya masing-masing," katanya. 

Sudah Ramai Sejak 1913

Sejarawan Kota Pangkalpinang, Akmad Elvian mengatakan kawasan Tamansari Sari ini sudah mulai ramai sejak pemerintahan Hindia Belanda memindahkan ibukota keresidenan Bangka dari Mentok ke Pangkalpinang, pada 3 September 1913.

"Sejak itu Pangkalpinang menjadi pusat pemerintahan (bestuur) dan Mentok menjadi pusat penambangan Timah (tin minning)," kata Elvian belum lama ini.

Menurut Elvian, sebagai pusat pemerintahan baru residen AJN Engelenberg, mulai membangun sarana prasarana pemerintahan dan fasilitas publik.

"Sarana pemerintahan seperti resident cantor, ruang pertemuan societeit concordia, sekolah ELS dan perumahan amtenar governement disekitar resident strategi (Sekarang jalan Merdeka )," ujarnya.

Kawasan seputaran titik nol merupakan kawasan yang baru tumbuh sejak tahun 1913 secara spasial berfungsi sebagai kawasan pusat pemerintahan Belanda dengan segala fasilitasnya atau kawasan civic center.

"Dalam rencana pembangunan pariwisata Kota Pangkalpinang, kawasan civic center warisan masa kolonial gemeente tersebut akan dijadikan sebagai kawasan pusaka bersejarah dan DED sudah selesai disusun oleh satker PBL," katanya.

Berkembangnya kawasan ini sebagai pusat kuliner, Menurut Elvian harus ada penataan karena ini juga sebagai penunjang kawasan wisata sejarah.

"Bila usaha kuliner tersebut menggunakan bangunan bersejarah atau cagar budaya perlu dilakukan adaptasi agar kelestarian bangunan tersebut tetap terjaga dan lestari," harapnya.

Selain itu penataannya juga harus sejalan dengan Rencana Tata Bangunan dan Lahan sehingga tidak mengurangi esensi nilai sejarah kawasan tersebut.

"Penataannya harus sesuai RTBL dan DED yang telah ditetapkan, bila ada Cafe menggunakan bangunan bersejarah harus dilakukan adaptasi terhadap bangunan dan lingkungannya agar layak menjadi destinasi wisata sejarah," tutupnya. (Bangka Pos/o2)

News Analysis

Devi Valeriani
Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Bangka Belitung

Dampak Pengembangan Pariwisata

KONDISI menjamurnya aktivitas ekonomi berupa cafe, resto merupakan salah satu dampak dari pengembangan pariwisata di Provinsi Bangka Belitung.

Pangkalpinang merupakan gerbang utama pariwisata di Pulau Bangka sehingga harus mampu mengakomodir kebutuhan wisatawan

Ini merupakan peluang yang di tangkap masyarakat yang memiliki kreativitas/ inovasi dengan modal yang miliki dan harapan untuk memperoleh keuntungan dari kegiatan tersebut.

Hal lain yang menjadi pemicu adalah tipe masyarakat yang memiliki pola konsumtif yg tinggi dalam bidang kuliner.

Kondisi ini juga dapat dikatakan sebagai emplotment generation, kegiatan tersebut akan menciptakan lapangan kerja baru serta mengurangi pengangguran.

Secara global geliat ekonomi tersebut diharapkan sustainable sehinggg berdampak kepada penyerapan tenaga kerja, meningkatnya konsumsi masyarakat, selanjutnya akan memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi daerah.

Masyarakat atau wirausaha yang melakukan kegiatan tersebut diharapkan dapat berinovasi dan menuangkan kreatifitas untuk membuat kafe yang unik sehingga menarik untuk dikunjungi konsumen.

Banyak wirausaha yang mampu mendirikan cafe namun hanya terbatas yang mampu bertahan.

Perlu strategi promosi yang jeli, baik bagi cafe lama maupun cafe baru. Tepat strategi promosi,kreatifitas, ide-ide unik untuk mempertahankan bisnis tersebut.

Tidak mudah untuk menjadikan sebuah usaha cepat sukses, tapi perlu waktu, cara, proses strategi dan ide yg luar biasa. Terus melakukan inovasi dan kretifitas dan promosi yang agresif. Kreatif dalam pelayanan, menu, suasana dan harga.

Dari awal sudah harus menetapkan segmentasi atau sasaran konsumen siapa, anak mudakah, keluargakah, sehingga suasana kafe menyesuaikan dengan segmen tersebut.

Setiap pengunjung mencari suasana yg nyaman dan aman ketika mereka berkunjung ke sebuah kafe. (Bangka Pos/o2)

Sumber: bangkapos
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved