Direktur Polman Tantang Mahasiswa untuk Berwirausaha
Politeknik Manufaktur (Polman) Negeri Bangka Belitung, menggelar dialog interaktif kewirausahaan
Penulis: nurhayati | Editor: khamelia
Laporan Wartawan Bangka Pos, Nurhayati
BANGKAPOS.COM, BANGKA--Politeknik Manufaktur (Polman) Negeri Bangka Belitung, menggelar dialog interaktif kewirausahaan, Sabtu (13/1/2018) di Aula Polman Babel.
Dialog interaktif dengan tema Pengembangan Potensi Kewirausahaan di Perguruan Tinggi dalam Upaya Memperkuat Pilar Perekonomian Nasional ini menghadirkan Gubernur Babel H Erzaldi Roesman Djohan yang diwakili Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Babel Elfiana, Pengusaha Muda Bambang Pattijaya, dan Ketua HIPMI Babel Raden Indra Sandy.
Pada kesempatan dialog ini Direktur Polman Babel Sugeng Ariyono mengajak mahasiswa untuk aktif berwirausaha, jangan hanya mengandalkan orang tua untuk membiayai kuliah.
Dia mencontohkan keteladanan Nabi Muhammad SAW yang sejak remaja sudah berdagang.
"Dialog ini jadi pembuka peluang bagi kita untuk berwirausaha. Seperti kita ketahui Nabi Muhammad beliau berdagang antar negara sejak umur 14 tahun. Beliau dipercaya sama saudagar-saudagar untuk menjual dagangannya antar negara jadi tak heran jika beliau sangat kaya. Ketika meminang Siti Khadijah maharnya tidak main-main 20 ekor unta terbaik. Unta biasa saja harganya Rp 35 juta jika 20 ekor untuk saja sudah Rp 700 juta Berdasarkan hadis saja dijelaskan bahwa dari 10 pintu rezeki sembilan diantaranya didapat dari wirausaha," jelas Sugeng.
Ia juga menceritakan kisah temannya yang bertenu seorang anak muda yang humble yang menjadi pengusaha. Pengusaha muda tersebut diusia 37 tahun mampu berinfak senilai Rp 1 miliar.
"Untuk itu jika ada niat usaha niatkan dari sekarang," pesan Sugeng.
Sugeng menceritakan pengalamannya dimana dari kelas tiga sekolah dasar sudah berwirausaha. Ketika itu ia berjualan kelereng ke teman-temannya dengan untung yang cukup besar.
Selain itu juga saat kelas IV SD dia jualan tebu dimana harga satu batang tebu sebesar Rp 5. Sugeng menjual sate tebu yang dijualnya sebesar Rp 5, satu batang tebu bisa menghasilkan 10 tusuk sate tebu sehingga ia bisa untung banyak.
"Yang ngerjainnya paklek saya karena saat itu saya masih kecil. Saya nyuruh aja," kata Sugeng tersenyum.
Begitu juga ia berjualan yoyo yang sudah dicat warna warni sehingga laris manis dibeli teman-temannya.
"Sayang saya salah jalur masuk dosen. Ketika saya mau mulai usaha banyak yang mati di jalan tapi saya tak putus asa," ungkap Sugeng.
Ketika kuliah pasca sarjana di Malaysia dia juga membayar sendiri uang kuliahnya tanpa mendapat beasiswa.
"Kalau di Malaysia dan Singapura sekarang terkenal dengan ayam penyetnya itu saya yang mengenalkan karena biaya hidup dengan anak tujuh tinggi saya bikin warung kecil untuk berjualan," ujar Sugeng.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/dialog-interaktif-kewirausahaan_20180113_154526.jpg)