Kamis, 30 April 2026

Saksiskan Seminar Rangkaian Perjalanan Pahlawan Nasional Bangka Belitung

Ikatan Karyawan Timah (IKT) mengagendakan untuk menggelar diskusi mendalam tentang kepahlawanan Depati Amir dan HAS Hanandjoedin.

Tayang:
Editor: M Zulkodri

Laporan Wartawan Bangka Pos, Idandi Meika Jovanka

BANGKAPOS.COM, BANGKA - Ikatan Karyawan Timah (IKT) mengagendakan untuk menggelar diskusi mendalam tentang kepahlawanan Depati Amir dan HAS Hanandjoedin.

Rekam jejak perjuangan dan kepahlawanan dua tokoh heroik dari Bangka Belitung tersebut akan dibahas dalam seminar yang bertajuk “Depati Amir dan HAS Hanandjoeddin, Rangkaian Perjalanan Pahlawan Nasional Bangka Belitung”.

Seminar gratis yang akan dilaksanakan pada hari Rabu, 28 Februari 2018 di Graha Timah tersebut akan menghadirkan tujuh narasumber berkompeten dalam ilmu kesejarahan yakni dosen Fakultas Ilmu Budaya UGM dan Guru Besar Luar Biasa Bidang Hubungan Sejarah Indonesia-Belanda Prof.Dr. Bambang Poerwanto, Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Prof.Dr. Dien Madjid, Guru Besar Fakultas Ilmu Budaya UI Prof.Dr. Susanto Zuhdi serta pakar hukum tata negara, politikus dan intelektual asal Bangka Belitung yang juga bergelar Datuk Maharajo Palinduang Prof.Dr. Yusril Ihza Mahendra, SH,M.Sc.

“Selain tokoh-tokoh di atas, pembicara lain yang insyaalah akan hadir sebagai narasumber yakni Wakil Kepala Pusat Sejarah TNI Kol.Sus TNI Drs. Sudarno, rektor pertama UBB dan adik pejuang revolusi Bangka Belitung Mayor Syafrie Rahman Prof.Dr. Bustami Rachman,M.Sc, serta dosen sejarah UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Johan Wahyudi,M.Hum,” ujar Panitia Pelaksana Fauzi Trisana.

Menurut Fauzi yang juga menjabat sebagai Ketua Umum IKT, seminar tentang kepahlawanan Depati Amir dan HAS Hahandjoeddin merupakan bagian dari upaya anggota IKT yang juga notabene masyarakat Bangka dan Belitung untuk semakin mengenalkan kedua tokoh tersebut ke khalayak sekaligus melengkapi persyaratan dalam pengusulan calon Pahlawan Nasional dari Propinsi Bangka Belitung.

“Hingga ulang tahunnya yang ke-17, kita masyarakat Babel belum memiliki Pahlawan Nasional. Bahkan, kita satu-satunya propinsi yang belum memiliki Pahlawan Nasional, meski usaha pengusulan tersebut sudah pernah diupayakan sejak tahun 2004 oleh senior-senior kita” ujar Fauzi.

Dikatakan Fauzi, banyak harapan dilekatkan dari pelaksanaan seminar tentang kedua tokoh ini.

Salah satunya agar peserta dapat memahami pentingnya pahlawan daerah menjadi Pahlawan Nasional sebagai simpul pengikat persatuan bangsa.

Selain itu, munculnya kerjasama dari semua komponen masyarakat Bangka Belitung untuk bersama-sama memperjuangkan pahlawan daerahnya untuk menjadi Pahlawan Nasional.

“Semoga dari seminar ini kita akan mendapatkan data dan fakta sejarah yang lebih banyak lagi baik dari narasumber maupun dari peserta seminar lainnya sehingga persyaratan agar kedua tokoh ini dapat menjadi Pahlawan Nasional semakin cepat terwujud,” katanya.

Sebagaimana banyak diketahui, nama Depati Amir dan HAS Hanadjoeddin sudah tidak asing lagi di telinga masyarakat Bangka Belitung.

Nama mereka sudah diabadikan sebagai nama bandara udara, jalan, dan nama stadion.

Dalam rekam jejak sejarahnya, Depati Amir merupakan anak dari Depati Bahrin. Beliau lahir di Mendar, Bangka tahun 1805 dan meninggal di Kupang, Nusa Tenggara Timur pada tanggal 28 September 1869.

Tahun 1830 ia menjadi Depati di daerah Jeruk, menggantikan sang ayah. Namun jabatan tersebut ia lepaskan karena ia bersama sejumlah pengikutnya lebih memilih berjuang untuk menentukan nasib mereka sendiri ketimbang dikooptasi oleh Belanda.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved