Rabu, 22 April 2026

Remaja Ini Alami Hal Mengerikan Setelah Gunakan Vape Selama 3 Minggu

Seorang remaja perempuan berusia 18 tahun memutuskan untuk mencoba rokok elektrik atau sering disebut vaping.

Editor: Evan Saputra
kompas.com
Tren rokok elektrik saat ini mulai menjadi gaya hidup baru dan menjadi alternatif bagi para perokok. Salah satu pengunjung sedang mencoba cairan (liquid e-juice) di The Colony Vape Bintaro, Tangerang Selatan, Kamis (25/8/2016). 

BANGKAPOS.COM - Seorang remaja perempuan berusia 18 tahun memutuskan untuk mencoba rokok elektrik atau sering disebut vaping.

Diketahui vape adalah rokok elektronik yang berubah menjadi uap.

Biasanya e-liquid dalam tangki dipanaskan sampai menjadi uap cair, uap ini kemudian dihirup oleh penggunanya lalu setelah itu dihembuskan sehingga membentuk kepulan asap.

E-liquid ini dikenal mengandung perasa, propilen glikol, gliserin dan sering juga nikotin (meskipun banyak pengguna tidak menyadari bahan adiktif ini).

Remaja asal Pennsylvania ini mengatakan hanya menggunakan vape hanya sekitar tiga minggu tahun lalu.

Baca: Kartika Putri Skak Mat Deddy Corbuzier, Gegara Ini, Deddy Emosi Nunjuk Muka & Gebrak Meja

Namun apa yang ia lakukan tersebut harus dibayar sangat mahal.

Menurut sebuah studi kasus yang diterbitkan Kamis (17/05/2018) dalam jurnal medis Pediatrics,remaja perempuan yang namanya dirahasiakan ini telah mengalami beberapa gejala setelah melakukan vape.

Kata dokter, dia mengalami batuk, kesulitan bernapas yang memburuk dari menit ke menit, dan rasa sakit yang tiba-tiba menusuk di dada dengan setiap hirupan dan pernafasan.

Alhasil ia pun dikirim ke ruang gawat darurat di University of Pittsburgh Medical Center.

Sayangnya, batuknya menjadi parah dan kondisinya memburuk dengan cepat.

Akhirnya dokter di UGD mengirimnya ke unit perawatan intensif pediatri dan ia diberi antibiotik.

Setelah dilakukan pemeriksaan menyeluruh dan mendengar kisah si remaja, Dr. Daniel Weiner, salah satu dokter pasien dan direktur medis di Children's Hospital of Pittsburgh di UPMC, mengatakan remaja ini mengalami apa yang umumnya dikenal sebagai kegagalan pernafasan.

"Dia tidak bisa mendapatkan cukup oksigen ke dalam darahnya dari paru-parunya dan membutuhkan ventilator mekanik (respirator) untuk bernafas untuknya sampai paru-parunya sembuh," kata Weiner dilansir CNN.

Tidak hanya itu, dia juga memerlukan tabung yang disisipkan di kedua sisi dadanya untuk mengalirkan cairan dari paru-parunya.

Dokternya mendiagnosis ia dengan pneumonitis hipersensitivitas atau biasa disebut paru-paru basah.

Sumber: Intisari
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved