Kamis, 7 Mei 2026

Suku Primitif Tanpa Pakaian, Teriak dan Datangi Pemukiman Warga Selanjutnya Hal ini Terjadi!

Sebuah video perlihatkan sekelompok manusia tanpa pakaian dan berambut gondrong mendekat ke permukiman warga ramai diperbincangkan

Tayang:
Editor: M Zulkodri
Facebook
Kelompok dari suku yang tinggal di hutan mendekat ke permukiman warga 

BANGKAPOS.COM - Sebuah video mendadak ramai diperbincangkan di linimasa facebook, video tersebut perlihatkan sekelompok manusia tanpa pakaian dan berambut gondrong mendekat ke permukiman warga.

Mereka berdiri di bukit yang rindang sembari berteriak dengan suara keras, namun bahasanya tak dimengerti.

"Masih ada ternyata orang yang tinggal di hutan dan bahasanya mirip tarzan," tulis akun Kamaruddin Hidayat.

Suara mereka terus bergema seakan meminta pertolongan kepada warga.

Warga yang melihat aksi tersebut berinisiatif memberikan sebagian bahan pangan. Termasuk peralatan untuk memasak dan pakaian.

Menjinjing karung berisi bahan pangan, warga yang keseluruhan pria perlahan menaiki bukit.

Satu per satu bahan pangan diberikan, para warga juga menyalami mereka.

Interaksi tak berlangsung lama, setelah mendapat bahan pangan kelompok manusia tak berpakaian tersebut langsung kembali ke dalam hutan.

Pantauan www.tribun-medan.com pada Sabtu (2/6/2018) sekitar pukul 11.30 WIB, video ini sudah disaksikan lebih dari 2,6 juta kali, bahkan sudah dibagikan 23.350 kali.

Tidak ada keterangan resmi dari mana asal kelompok manusia tersebut.

Dari ribuan komentar dari warga internet, beberapa menyebut mereka adalah Suku Togutil dari Halmahera, Maluku Utara.

Tonton videonya;

Dilansir dari Wikipedia, Suku Togutil (atau dikenal juga sebagai Suku Tobelo Dalam) adalah kelompok/ komunitas etnis yang hidup di hutan-hutan secara nomaden di sekitar hutan Totodoku, Tukur-Tukur, Lolobata, Kobekulo dan Buli yang termasuk dalam Taman Nasional Aketajawe-Lolobata, Kabupaten Halmahera Utara, Maluku Utara.

Yang perlu diingat, Orang Togutil sendiri tak ingin disebut "Togutil" karena Togutil bermakna konotatif yang artinya "terbelakang".

Kehidupan mereka masih sangat tergantung pada keberadaan hutan-hutan asli.

Sumber: Tribun Medan
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved