Yuli Melukis Tudung Saji dengan Ikon Daerah

Bermula dari sering mengikuti lomba sejak tiga tahun belakangan, jari jemari Yuli (29) kian lincah menari-nari di atas tudung saji berbentuk bulat.

Yuli Melukis Tudung Saji dengan Ikon Daerah
Bangka Pos/Krisyanidayati.
Yuli saat melukis salah satu tudung saji dalam pameran kriya Pemprov Babel, di Gedung Mahligai Rumah Dinas Gubernur Babel, Kamis (15/11/2018) 

Laporan Wartawan Bangka Pos, Krisyanidayati

BANGKAPOS.COM, BANGKA - Bermula dari sering mengikuti lomba sejak tiga tahun belakangan, jari jemari Yuli (29) kian lincah menari-nari di atas tudung saji berbentuk bulat.

Dengan kuas di tangan kananya, ia begitu telaten melukis berbagai motif diatas tutup makanan yang berwarna dasar merah. Ada banyak motif yang dilukisnya diatas tudung saji mulai dari ikan, udang, nanas, lada, daun simpor, dan motif-motif lainnya.

Yuli menceritakan, dirinya mulai melukis tudung saji karena hobinya. Namun, menggunakan media tudung saji memang berbeda dengan melukis diatas kanvas.

Jika biasanya, tudung saji hanya berwarna merah dengan sentuhan motif bulat diatasnya. Namun, berbeda jika sudah di tangan Yuli.

"Di Toboali ini diperlombakan, biasanya tudung saji dari daun mengkoang ini untuk tutup makanan pada acara adat nganggung. Saya awalnya juga coba-coba lomba terus jadi seneng berkreasi dengan berbagai motif. Sekarang dominannya motif yang khas Basel," katanya ditemui bangkapos.com, dalam pameran kriya Babel, di Gedung Mahligai Rumah Dinas Gubernur Babel, Kamis (15/11/2018).

Ia menceritakan butuh waktu lima jam untuk bisa menyelesaikan satu tudung saji. Pekerjaan yang membutuhkan ketelitian dan kecermatan ini untuk memberikan tampilan tudung saji yang kian modern.

"Dengan adanya motif ini kan lebih bervariasi enggak hanya merah. Punya nilai seni juga dan lebih menarik. Saya belum pernah jual hanya untuk pameran saja," ujarnya.

Menurutnya, tak ada kesulitan khusus saat melukis tudung saja. Hanya saja, dibutuhkan kesabaran dan ketelitian agar hasil lukisan menjadi sesuai harapan.

"Kepikiran untuk menjual, tapi kan waktunya cukup lama. Saya juga kerja, jadi hanya untuk dipamerkan. Kalau ada acara-acara seperti Toboali City On Fire kan ada nganggung 1000 dulang, nah ini digunakan untuk tutupnya," jelasnya.

Kegiatan melukis motif ini mulai banyak digemari para pemuda di tempatnya, tak hanya sebagai ajang menuangkan kemampuan tapi juga dapat menambah kreativitas.

"Banyak anak muda yang mulai melukis tudung saji, ini memang punya daya jual. Karena tudung saji kan menjadi salah satu ikon Babel juga," ujarnya.

Penulis: krisyanidayati
Editor: Ardhina Trisila Sakti
Sumber: bangkapos
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved