Tribunners
Peringatan Hari Kenaikan Tuhan Yesus: Di Antara Langit yang Terbuka dan Bumi yang Terluka
Langit yang terbuka mengingatkan bahwa Tuhan tetap berdaulat atas kehidupan manusia
Oleh: Pdt. Paulus Freddy Krissanjaya, S.Si. - Pembimas Kristen Kanwil Kemenag Babel
DI tengah perkembangan zaman yang makin cepat, manusia modern sesungguhnya sedang menghadapi kegelisahan yang tidak selalu tampak di permukaan. Aktivitas ekonomi terus berjalan, teknologi berkembang pesat, dan kehidupan terlihat bergerak sebagaimana biasanya. Namun di balik semua itu, banyak orang menjalani hidup dengan kecemasan yang tersembunyi: kekhawatiran akan masa depan, tekanan hidup yang makin berat, serta kelelahan batin yang sering kali sulit diungkapkan dengan kata-kata.
Banyak orang tetap bekerja, tetapi tanpa rasa tenang. Tetap melangkah, tetapi dibayangi ketidakpastian. Tetap bertahan, tetapi perlahan kehilangan harapan. Situasi ini makin terasa ketika berbagai peristiwa tragis terjadi silih berganti seperti kecelakaan kereta, bencana, konflik sosial, hingga tragedi kemanusiaan, yang mengingatkan bahwa hidup manusia sesungguhnya sangat rapuh.
Namun persoalan terbesar bukan hanya terletak pada tragedi itu sendiri, melainkan pada cara manusia meresponsnya. Kita berduka, tetapi sering kali hanya sesaat. Kita tersentuh, tetapi tidak selalu berubah. Perlahan manusia menjadi terbiasa dengan tekanan, ketidakpastian, bahkan luka yang terus berulang. Pada titik inilah muncul bahaya yang lebih dalam yaitu krisis kepekaan. Ketika empati mulai memudar dan tanggung jawab mudah dialihkan, sesungguhnya yang sedang terluka bukan hanya keadaan sosial, tetapi juga nilai kemanusiaan itu sendiri.
Dalam konteks kehidupan seperti inilah, peringatan Hari Kenaikan Tuhan Yesus Kristus menjadi sangat relevan untuk direnungkan. Selama ini, kenaikan Kristus kerap dipahami hanya sebagai peristiwa iman yang simbolis dan jauh dari realitas kehidupan sehari-hari. Padahal, peristiwa ini justru mengandung pesan spiritual yang sangat mendalam bagi kehidupan manusia. Kitab Kisah Para Rasul mencatat: “Sesudah Ia mengatakan demikian, terangkatlah Ia disaksikan oleh mereka, dan awan menutupNya dari pandangan mereka” (Kisah Para Rasul 1:9).
Kenaikan Kristus bukan sekadar berbicara tentang Yesus yang naik ke surga, melainkan tentang perubahan cara pandang manusia terhadap hidup. Para murid memang tidak lagi melihat kehadiran fisik Yesus, tetapi mereka tidak kehilangan arah hidup. Mereka juga tidak diminta untuk terus-menerus memandang ke langit tanpa melakukan apa-apa. Karena itu para malaikat berkata: “Hai orang-orang Galilea, mengapakah kamu berdiri melihat ke langit?” (Kisah Para Rasul 1:11).
Pertanyaan ini sesungguhnya juga ditujukan kepada manusia masa kini. Sebab dalam menghadapi tekanan hidup, manusia sering kali tergoda mencari pelarian dan berharap keadaan berubah dengan sendirinya tanpa keterlibatan serta tanggung jawab pribadi.
Kenaikan Kristus justru menolak sikap pasif semacam itu. Langit yang terbuka bukanlah tempat pelarian dari realitas, melainkan sumber pengharapan dan perspektif iman. Sementara bumi tetap menjadi ruang pengabdian dan tanggung jawab manusia. Itulah sebabnya Amanat Agung Yesus menjadi sangat penting: “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku” (Matius 28:19). Kata “pergilah” mengandung makna tindakan dan keterlibatan.
Iman Kristen tidak berhenti pada keyakinan pribadi, tetapi harus diwujudkan dalam kehidupan nyata. Di tengah tekanan ekonomi, iman diwujudkan melalui kejujuran. Di tengah ketidakpastian, iman diwujudkan melalui pengharapan. Di tengah berbagai kelemahan sosial, iman diwujudkan melalui tanggung jawab dan kepedulian terhadap sesama. Sebab dunia saat ini sesungguhnya tidak kekurangan orang yang memahami ajaran iman, tetapi masih membutuhkan lebih banyak pribadi yang sungguh-sungguh menghidupi nilai-nilai iman tersebut dalam kehidupan sehari-hari.
Peringatan Kenaikan Tuhan Yesus Kristus pada akhirnya menempatkan manusia pada 2 realitas yang tidak dapat dipisahkan: langit yang terbuka dan bumi yang terluka. Langit yang terbuka mengingatkan bahwa Tuhan tetap berdaulat atas kehidupan manusia, sementara bumi yang terluka menuntut manusia menghadirkan pengharapan itu secara nyata melalui kasih, keadilan, dan kepedulian. Firman Tuhan berkata: “ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman” (Matius 28:20). Janji penyertaan Tuhan bukan dimaksudkan agar manusia menjadi pasif, melainkan agar memiliki keberanian untuk tetap hidup benar di tengah tekanan zaman.
Dalam semangat itulah, Bimas Kristen Kementerian Agama terus mengambil bagian dalam membangun kehidupan keagamaan yang moderat, humanis, dan berdampak nyata bagi masyarakat. Sebagai bagian dari Kementerian Agama Republik Indonesia, pelayanan Bimas Kristen tidak hanya berfokus pada pembinaan rohani umat, tetapi juga mendorong tumbuhnya kesadaran sosial, penguatan karakter, serta nilai-nilai kebangsaan yang berlandaskan kasih, keadilan, dan tanggung jawab bersama.
Karena itu, peringatan Hari Kenaikan Tuhan Yesus Kristus hendaknya menjadi momentum refleksi bersama untuk memperkuat komitmen membangun kehidupan yang lebih berkeadaban, berempati, dan bertanggung jawab. Nilai-nilai iman tidak boleh berhenti di ruang ibadah, tetapi harus hadir dalam kehidupan sosial, pelayanan publik, dunia pendidikan, dan relasi antarsesama. Sebab iman yang sejati bukan hanya tentang apa yang diyakini, melainkan tentang bagaimana keyakinan itu diwujudkan melalui kehidupan yang membawa damai, kasih, dan pengharapan bagi sesama.
Selamat memperingati Hari Kenaikan Tuhan Yesus Kristus. Kiranya perayaan iman ini makin menguatkan pengharapan, meneguhkan kasih, dan mendorong setiap kita untuk terus menghadirkan damai serta kepedulian di tengah dunia yang sedang terluka. Tuhan Yesus memberkati. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/Dokumentasi-Paulus-Freddy-Krissanjaya.jpg)