Ramadan

Lailatul Qadar - Cara Itikaf di 10 Hari Terakhir Ramadhan, Hindari 3 Hal yang Membatalkan Itikaf

Panduan Itikaf di Masjid 10 Hari Terakhir Ramadan, itikaf dimaksudkan untuk mencari lailatul Qadar

Lailatul Qadar - Cara Itikaf di 10 Hari Terakhir Ramadhan, Hindari 3 Hal yang Membatalkan Itikaf
instagram/teukumalikridwan
Umat Muslim yang melaksanakan Itikaf di Masjid 

BANGKAPOS.COM - Pada 10 hari terakhir bulan Ramadan, umat Muslim di seluruh penjuru dunia akan melaksanakan itikaf.

Melaksanakan itikaf pada 10 hari terakhir di bulan Ramadan dimaksudkan untuk mencari lailatul Qadar.

Amal yang dilaksanakan pada malam itu memiliki nilai lebih dibandingkan amal-amal yang dilakukan di malam-malam lainnya.

Membaca Al Quran merupakan salah satu aktivitas selama melakukan itikaf di masjid
Membaca Al Quran merupakan salah satu aktivitas selama melakukan itikaf di masjid (instagram/ppaumrohtravel)
Dilansir Tribun Travel dari rumaysho.com, jika ingin beri’tikaf selama 10 hari terakhir bulan Ramadan, maka seorang yang beritikaf mulai memasuki masjid setelah salat subuh pada hari ke-21 dan keluar setelah salat subuh pada hari ‘Idul Fitri' menuju lapangan.

Hal ini sebagaimana terdapat dalam hadits ‘Aisyah, ia berkata:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – يَعْتَكِفُ فِى كُلِّ رَمَضَانَ ، وَإِذَا صَلَّى الْغَدَاةَ دَخَلَ مَكَانَهُ الَّذِى اعْتَكَفَ فِيهِ – قَالَ – فَاسْتَأْذَنَتْهُ عَائِشَةُ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam biasa beritikaf pada bulan Ramadan.

Apabila selesai dari salat subuh, beliau masuk ke tempat khusus itikaf beliau.

Dia (Yahya bin Sa’id) berkata: Kemudian ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha meminta izin untuk bisa beri’tikaf bersama beliau, maka beliau mengizinkannya.”

Namun para ulama madzhab menganjurkan untuk memasuki masjid menjelang matahari tenggelam pada hari ke-20 Ramadan.

Mereka mengatakan, yang namanya 10 hari yang dimaksudkan adalah jumlah bilangan malam sehingga seharusnya dimulai dari awal malam.

Adapun beberapa hal yang membatalkan itikaf yaitu:

  • Keluar masjid tanpa alasan syar’i dan tanpa ada kebutuhan mubah yang mendesak.
  • Jima’ (bersetubuh) dengan istri, berdasarkan Surat Al Baqarah ayat 187.
  • Ibnul Mundzir telah menukil adanya ijma’ (kesepakatan ulama) bahwa yang dimaksud mubasyaroh dalam surat Al Baqarah ayat 187 adalah jima’ (hubungan intim) [23].

Adapun hal-hal yang diperbolehkan saat melakukan itikaf yaitu:

  • Keluar masjid disebabkan ada hajat yang mesti ditunaikan seperti keluar untuk makan, minum, dan hajat lain yang tidak bisa dilakukan di dalam masjid.
  • Melakukan hal-hal mubah seperti mengantarkan orang yang mengunjunginya sampai pintu masjid atau bercakap-cakap dengan orang lain.
  • Istri mengunjungi suami yang beritikaf 
  • Mandi dan berwudhu di masjid.
  • Membawa kasur untuk tidur di masjid.

Artikel ini telah tayang di Tribuntravel.com dengan judul Panduan Itikaf di Masjid pada 10 Hari Terakhir Bulan Ramadan, https://travel.tribunnews.com/2019/05/15/panduan-itikaf-di-masjid-pada-10-hari-terakhir-bulan-ramadan.

Editor: fitriadi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved