Mutiara Ramadhan
Spirit Halal Bi Halal
Halal bi halal menjadi produk budaya Islam Indonesia dan sekaligus menjadi salah satu “produk ekspor” Indonesia ke manca negara,.
Oleh, Menteri Agama RI Nasaruddin Umar
Tradisi Islam paling unik di Indonesia ialah halal bi halal.
Tidak ada satupun negara muslim melakukan hal ini, bahkan Bahasa Arab yang dijadikan istilah ini tidakpernah dikenal di dunia Arab sekali pun.
Baca juga: Ponpes Gontor Lebaran Jumat 20 Maret, Persis Sama dengan Hasil Hisab NU, BRIN, BMKG dan Kemenag
Halal bi halal memang bukan bahasa Arab normal.
Kata tersebut berasal dari akar kata halla-yahillu, berarti singgah, memecahkan, melepaskan, menguraikan, mengampuni.
Halal bi halal kini menjadi istilah lain dari silaturrahim.
Baca juga: Kembali ke Fitrah dengan Energi Spiritual Baru
Beda antara keduanya ialah halal bi halal hanya digunakan untuk mengiringi kepergian bulan suci Ramadhan, sedangkan silaturrahim berlaku secara universal, menerobos batas waktu dan tempat.
Semula halal bi halal ini bermula ketika anak-anak muda masjid kauman Jogyakarta. Mereka kebingungan mencari tema untuk mewadahi dua momen istimewa.
Satu sisi perayaan Idul Fitri sebagai wujud kemerdekaan spiritual dan sisi lain baru saja dilakukan Proklamasi Kemerdekaan RI.
Seperti diketahui, Proklamasi Kemerdekaan RI bertepatan dengan sayyidul ayyam: Jumat dan sayyidus syahr: Ramadhan.
Bagaimana supaya kedua peristiwa ini terangkum menjadi satu, lalu diadakanlah sayembara kecil-kecilan untuk menemukan tema yang akan ditulis di dalam spanduk.
Saat itu muncul berbagai kreasi untuk memaknai suasana batin Idul Fitri.
Salah seorang seniman mengusung tema halal bi halal yang intinya saling memaafkan, saling merelakan, dan saling menghalalkan.
Warga yang pernah dikucilkan masyarakat karena terlibat mata-mata Belanda atau penghianat bangsa, diserukan untuk dimaafkan.
Momentum Idul Fitri digunakan untuk menggalang persatuan dan kesatuan dalam mengisi kemerdekaan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/20241021-Profil-Nasaruddin-Umar-Tokoh-NU-Berpendidikan-5-Kampus-Luar-Negeri-Kini-Menteri-Agama.jpg)