Berita Pangkalpinang

Melihat Prosesi Pemakaman Jenazah Masyarakat Tionghoa

Jenazah yang sudah berada di dalam peti selanjutnya dibacakan doa oleh seorang pemimpin jalannya prosesi pemakaman jenazah atau biasa disebut Xin Shan

Melihat Prosesi Pemakaman Jenazah Masyarakat Tionghoa
Bangka Pos/Muhammad Rizki
Prosesi pemakaman masyarakat Tiong Hoa 

BANGKAPOS.COM, BANGKA - Kematian adalah suatu keniscayaan dan hal yang akan dihadapi oleh siapa pun tanpa terkecuali. Sebagai negara yang memegang asas pluralitas, Indonesia kaya akan ras, suku, budaya, dan agama.

Pada saat menghadapi kematian pun, Indonesia memiliki beragam cara prosesi pemakaman. Beda keyakinan beda pula tata cara prosesi pemakamannya. Kali ini bangkapos.com berkesempatan melihat lebih dekat prosesi pemakaman masyarakat Tionghoa

Yayasan Rumah Duka Bhakti Sosial, satu diantara rumah duka yang berada di Kota Pangkalpinang yang membantu mengurus prosesi pemakaman jenazah. Mulai dari pemandian, merias, upacara mendoakan hingga pemakaman jenazah.

Jenazah yang sudah berada di dalam peti selanjutnya dibacakan doa oleh seorang pemimpin jalannya prosesi pemakaman jenazah atau biasa disebut Xin Shang.

Didampingi oleh anggota keluarga, dengan secarik kertas yang bertuliskan aksara mandarin khek, Xin Shang melantunkan doa dengan nada-nada yang cukup teratur. Dengan sesekali mengarahkan gerakan anggota keluarga jenazah, kapan harus berdiri, berlutut, atau pun bersujud untuk memberi penghormatan kepada jenazah.

Setelah itu Xin Shang memberikan dupa kepada anggota keluarga yang hadir untuk mengelilingi peti jenazah yang terbuat dari kayu solid berwarna merah terang khas warna masyarakat Tionghoa, sembari terus melantunkan doa.

Xin Shang Mausan yang pada saat itu memimpin prosesi pemakaman jenazah menjelaskan jika masyarakat Tionghoa meyakini jika pada saat mengelilingi peti jenazah, arwah dari jenazah tersebut juga ikut berkeliling. Di akhir putaran akan langsung menuju ke pemakaman agar arwah jenazah tersebut dapat melalui proses perjalanannya di alam lain dengan lancar dan tanpa hambatan.

"Doanya dengan dialeg khek, agar perjalanan arwah jenazah yang sudah meninggal bisa berjalan dengan mulus," ujar Mausan, Senin (22/7) kepada bangkapos.com.

Setelah dibacakan doa di rumah duka, selanjutnya dengan didampingi anggota keluarga, jenazah langsung dibawa masuk ke dalam mobil jenazah untuk menuju ke pemakaman.

Setibanya di pemakaman, prosesi pemakaman pun dilanjutkan dengan memasukan peti jenazah menuju ke liang lahat dan selanjutnya Xin Shang akan kembali berdoa dan membelah satu butih buah kelapa, yang ikut dimasukan ke dalam liang lahat.

Hal ini bermaksud agar keluarga yang ditinggalkan dapat hidup makmur, selayaknya pohon kelapa yang berasal dari satu bibit yang ditanam, namun dapat menghasilkan buah kelapa yang jumlahnya berlipat-lipat.

"Supaya keturunan yang ditinggalkan menjadi makmur," bebernya.

Selanjutnya liang kubur mulai diisi dengan tanah sampai penuh, dan diberikan kertas kimchi yang sedikit ditanam dipermukaan makam. Menurut Xin Shang berfungsi sebagai atap di "rumah" baru si jenazah tersebut.

"Ibarat genting, itu kan rumah baru, jadi dipasangi genting, biar jenazahnya tidak kehujanan," pungkas Xin Shang Mausan.

(Bangka Pos/Muhammad Rizki)

Penulis: Muhammad Rizki
Editor: Ardhina Trisila Sakti
Sumber: bangkapos
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved