Sabtu, 11 April 2026

Berita Pangkalpinang

Murahnya Harga Lada Bikin Nurhadi Petani Mendo Barat Sulit Bernafas

Nurhadi bingung karena sekarang harga lada tak sebanding dengan modal dan biaya perawatannya.

bangkapos.com/Bryan Bimantoro
Nurhadi petani lada di Desa Air Duren Kecamatan Mendo Barat Kabupaten Bangka sedang memantau lada yang ia jemur di depan rumahnya 

BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Dua karung lada baru saja dihamparkan Nurhadi di badan jalan depan rumahnya saat matahari begitu terik di Desa Air Duren Kecamatan Mendo Barat Kabupaten Bangka, Rabu (7/8/2019). Dia berharap lada yang dijemurnya itu cepat kering dan ketika dijual harganya jauh lebih mahal..

Sembari menyeka keringat yang bercucuran di dahinya, Nurhadi berkeluh kesah. Harga lada saat ini sangat jauh dari harapannya.

"Susah sekarang bertani lada ni, harganya jatuh benar. Payah nak benafas," kata Nurhadi kepada bangkapos.com.

Lada dua karung goni yang baru saja ia jemur memenuhi seluruh halaman rumahnya bahkan lada jemurannya ia gelar di sebagian badan jalan Desa Air Duren.

Total ada 170 kilogram lada dan itu adalah hasil panen terakhir kebun miliknya.

Nurhadi bercerita ia sudah lama bekerja sebagai petani lada. Dari hasil bertani lada itulah ia bisa menghidupi istri dan lima orang anaknya.

Namun sekarang Nurhadi bingung karena sekarang harga lada tak sebanding dengan modal dan biaya perawatannya.

"Harga sahang saat ini hanya sekitar Rp 48-50 ribu saja per kg, tak sebanding dengan modal," katanya.

Nurhadi menjelaskan, lada baru bisa dipanen setelah satu sampai dua tahun dari awal pembibitan.

Di kebunnya, Nurhadi memiliki 1400 batang lada. Modal awal yang ia keluarkan saat itu sekitar Rp 60 juta.
Modal itu untuk membeli bibit seharga Rp 10 ribu per bibit dan pupuk NPK yang harga per karungnya (isi 50 Kg) sebesar RP 485 ribu.

Untuk menghemat biaya, Nurhadi mencampur pupuk NPK dengan pupuk kandang.

Selain untuk pupuk, modal Nurhadi juga terkuras untuk membeli jujung lada (kayu sebagai median lada merambat).

"Belum beli tunjang untuk rambatan sahangnya. Kami utamakan kualitas. Dak pakai kami pupuk subsidi," kata Nurhadi yang kini berumur 43 tahun ini.

Sehingga dengan harga lada saat ini, Nurhadi merasa sulit. Namun ia belum bisa mengganti pekerjaannya, lantaran keahlian itulah yang hanya ia miliki.

Ia berharap pemerintah bisa menaikkan harga lada di tingkat petani.

Sumber: bangkapos
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved