Berita Sungailiat

Saat Sembahyang Rebut Warga Kalangan Berada Hanya Mau Dikasih Garam Saja, Begini Maknanya

Di Bangka Belitung, masyarakat keturunan Tionghoa mengenal tiga macam sembahyang besar, yaitu Sembahyang Kongian (Imlek)

Saat Sembahyang Rebut Warga Kalangan Berada Hanya Mau Dikasih Garam Saja, Begini Maknanya
bangkapos.com/ferylaskari
Tampak Susana persiapan Sembahyang Rebut di Kelenteng Altar Bhakti RT 03 Lingkungan Kudai Utara Sungailiat Bangka, Rabu (14/8/2019).(ferylaskari) 

BANGKAPOS.COM-- Di Bangka Belitung, masyarakat keturunan Tionghoa mengenal tiga macam sembahyang besar, yaitu Sembahyang Kongian (Imlek), Sembahyang Chi Min (Ceng Beng) dan Sembahyang Chiong Siku (Rebut). Tiga macam ritual itu dilakukan satu kali dalam setahun.

Penjelasan ini disampaikan oleh Ketua RT 03 Airsabak, Lingkungan Kudai Utara Sungailiat Bangka, Jerry Liem alias Ajun, yang juga merupakan Pengurus Kelenteng Altar Bhakti Airsabak Kudai Utara Sungailiat Bangka.

"Kami masyarakat keturunan Tionghoa mengenal tiga sembahyang besar dalam satu tahun. Yang pertama Sembahyang Kongian (Imlek), Chi min (Cheng Beng) dan Chiong Siku (Rebut)," kata Ajun saat ditemui Bangka Pos, menjelang magrib di Kelenteng Altar Bhakti, Rabu (14/8/2019).

Menurutnya, dalam penanggalan Imlek Bulan 7 Tanggal 15, warga keturunan biasanya menggelar tradisi Sembahyang Rebut. "Kegiatan ini (Sembahyang Rebut) bertujuan untuk mendoakan arwah agar dapat memperoleh ketentramaan dan tidak menggangu manusia," jelas Ajun menyebut istilah sesuai keyakinan atau kepercayaan mereka.

Tak hanya itu, makna Sembahyang Rebut menurut Ajun, berdampak sosial bagi masyarakat untuk saling gotong-royong, memiliki rasa tanggung jawab, selalu berkumpul dan mempererat hubungan kekeluargaan. "Khusus warga kami di RT 03 Airsabak, sudah mempersiapkan Sembahyang Rebut sejak tiga minggu sebelum acara berlangsung," ungkap Ajun.

Persiapan yang dimaksud antara lain warga melakukan kegiatan bersih-bersih lingkungan di sekitar Kelenteng Altar Bhakti dan pengumpulan dana dari masyarakat sekitar.

Pada sore hari menjelang acara biasanya para ibu-ibu warga sekitar membantu mempersiapkan sesajian. Sedangkan kaum laki-laki mempersiapkan bahan-bahan untuk "direbut" saat puncak acara tengah malam, tepat Pukul 24.00 WIB. "Ada berbagai makanan yang bakal diperebutkan, antara lain mie instan, buah-buahan dan makanan ringan lainnya," katanya.

Satu hal yang juga biasa terjadi, sebelum acara, banyak masyarakat menyumbang sembako yang kemudian diserahkan kepada panitia acara.

"Kemudian panita yang akan bagi-bagi sembako tadi kepada janda-janda atau warga yang kurang mampu. Sedangkan masyarakat yang merasa mampu (berada), hanya mau menerima pemberian berupa garam dari panitia, karena mereka meyakini sebuah keberkahan," jelas putra mendiang Taipak, Liem Sak Cin

Ia memastikan setiap tahun, Sembahyang Rebut di Kelenteng Altar Bhakti selalu ramai dikunjungi warga dari berbagai daerah karena menjelang acara puncak panitia mempersembahkan hiburan musik dan hiburan lainnya.

Ketua Kelenteng Altar Bhakti, Kudai Utara Sungailiat, Sim Jung Kwet pada kesempatan yang sama, didampingi Ketua RT 03, Ajun, berharap acara tengah malam nanti sukses. "Saya mewakili panitia mengucapkan terimakasih kepada para donatolur dan warga yang sudah membantu terlaksananya acara ini. Semoga diberikan keberkahan selalu," tambah pria yang biasa disapa Ko Akwet, begitu optimis. (Bangkapos.com/Fery Laskari).

Penulis: ferylaskari
Editor: nurhayati
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved