Kisah AM Hendropriyono dalam Operasi Sandi Yudha, Tarung Lawan Komandan hingga Terluka Kena Sangkur
Kisah Jenderal TNI Abdullah Mahmud Hendropriyono, Tarung Lawan Komandan hingga Terluka Kena Sangkur
Seusai peristiwa Mangkok Merah akhir tahun 1967 yang merupakan kerusuhan masyarakat Dayak-Tionghoa, Hendropriyono yang saat itu berpangkat letnan satu (inf) mendapat tugas untuk bergerilya melawan bekas sekutu TNI itu.
• Jeritan Sang Istri saat Diperkosa Teman Suami di Kamar, Korban Baru Sadar saat Sudah Terjadi Hal Ini
Kemudian, terbentuklah Sandi Yudha, satuan intelijen tempur dari Resimen Para Komando Angkatan Darat, yang saat ini dikenal sebagai Komando Pasukan Khusus (Kopassus).
Sebagian anggota PGRS-Paraku ini adalah pemuda Tionghoa. Ada pula suku Dayak, Melayu, Jawa, dan lain-lain.
Raih Simpati Lawan
Tugas pasukan Sandi Yudha ini dalam perang konvensional tak terikat hukum internasional dan hukum humaniter perang.
Fokus penugasan dengan mengambil hati lawan.
• 3 Bidadari Jokowi Berhijab, Iriana Paling Curi Perhatian, Bandingkan dengan Kahiyang & Selvi Ananda
Opsi pertempuran dan tindakan keras hanya pilihan terakhir.
Hendropriyono memimpin suatu unit berisi delapan orang yang bergerak dalam jumlah kecil.
Mereka saat itu berupaya mendekat ke arah gubuk Hassan, seorang komandan PGRS.
Peristiwa itu berlangsung semalaman dan senyap.
Salah satu pasukan Sandi Yudha harus membunuh penjaga gubuk yang memegang senjata api dengan sangkur.
• Klarifikasi Raffi-Nagita, Ternyata Sensen Masih Kesal dengan Tere: Kalo Nge-share Dipakai Otaknya!
Setelah berhasil mendekat, Hendropriyono meminta Hassan menyerah.
Namun, Hassan pun melawan.
Pertempuran jarak dekat satu lawan satu pun terjadi. Hendropriyono berhasil menaklukkan Hassan, dalam pertempuran jarak dekat, meski paha dan jarinya sempat luka karena serangan sangkur Hassan.
Hendropriyono dan pasukannya juga berusaha sebisa mungkin membujuk hati musuh agar bersimpati ke Indonesia.