Pertumbuhan Perekonomian Bangka Belitung di Usia 19 Tahun Cukup Baik Tapi Alami Perlambatan

Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Tantan Heroika mengatakan pertumbuhan perekonomian Bangka Belitung

Pertumbuhan Perekonomian Bangka Belitung di Usia 19 Tahun Cukup Baik Tapi Alami Perlambatan
bangkapos.com/Cici Nasya Nita
Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Tantan Heroika, Rabu(20/11/2019) 

Pertumbuah Perekonomian Bangka Belitung di Usia 19 Tahun Cukup Baik Tapi Alami Perlambatan

BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Tantan Heroika mengatakan pertumbuhan perekonomian Bangka Belitung selama 19 tahun usianya sekarang cukup baik.

"Sejak berdirinya Provinsi Kepulauan Bangka Belitung dulu awalnya PDRB (Produk Domestik Regional Bruto-red) disekitaran 6 Triliun, sekarang 2018 sekitar 73 Triliun jadi pertumbuhan cukup baik. Di dalam perjalanannya memang pasti ada masa-masa puncak dan masa-masa mengalami tantangan cukup berat," ungkap Tantan saat pertemuan pers di La terasee, Rabu (20/11/2019).

Ia menuturkan Bangka Belitung masih bergantung pada komoditi, jadi sangat bergantung dengan perkembangan harga dunia.

"Ketika harga dunia terkait timah, lada tinggi otomatis perekonomian Babel tinggi. Tapi ketika harga itu turun begitupula yang terjadi perekonomian Babel turun," katanya.

Di tahun 2019, Bangka Belitung akan mengalami tantangan cukup berat. Ia juga menyingung mengenai ketegangan antara USA dan Tiongkok yang menyebabkan ekonomi global mengalami penurunan pertumbuhan. Awalnya pergerakan perekonimian dunia 3,6 menjadi 3,2.

"Akibat perang perdagang tersebut sangat dirasakan dan perekonomian menjadi ketidakpastian. Hampir semua komoditi turun semua, termasuk timah yang biasanya berada pada kisaran 20 ribu US dolar/ton saat ini berada pada kisaran 16 ribu US dolar/ton. Hal ini juga berdampak pada perekonomian Babel," ungkapnya.

Ia mengatakan pada triwulan I 2019 pertumbuahn Bangka Belitung sekitar 2,84 persen, triwulan II 2019 sekitar 3,45 persen dan triwulan III 2019 sekitar 3,05 persen.

"Padahal kalau kita bandingkan dengan pertumbuhan di tahun 2018 kita berhasil dikisaran 4,45 persen. Sampai III triwulan terakhir ini tidak ada yang berada diatas 4 persen, hal ini sampai diakhir tahun 2019 berat buat kita mencapai 4 persen. Artinya perekonomian tetap mengalami pertumbuhan akan tetapi mengalami perlambatan dikarenakan ketidakpastian global dan perlambatan perdagangan dunia," jelas Tantan.

Di Bangka Belitung sektor pertanian menjadi sektor yang menahan perlambatan tersebut.

"Sektor perdagangan dan pertambangan kita mengalami perlambatan. Dari sisi pengeluaran atau ekspor, 80 persen ekspor kita dalam bentuk timah dan 20 persen CPO (Crude Palm Oil/minyak sawit mentah-red) cukup besar, yang lain seperti ikan, lada masih dibawah 3 persen,"katanya.

Sehigga komoditi kedua setelah timah itu adalah CPO, walaupun itu masih jauh persensentasenya.

"Prospek di tahun 2020 kita lihat masih akan mengalami tantangan cukup berat, perekonomian dunia masih mengalami ketidakpastian tidak seberat tahun 2018. Perkiraan secara keseluruhan perekonomian dunia akan membaik namun masih tipis," terangnya.

Tantan juga menyingung mengenai hilirisasi timah, sehingga yang di ekspor tidak hanya timah dalam bentuk balok tetapi sudah dalam bentuk komoditi lainnya yang memiliki nilai tambah lebih besar. Ini yang diharapkan berdiri industri-industri tentu hal tersebut memerlukan investasi.

Bangkapos.com/Cici Nasya Nita 

Penulis: Cici Nasya Nita
Editor: Evan
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved