Minggu, 12 April 2026

Berita Pangkalpinang

Tim Natak Sejarah dan Budaya Kunjungi Cagar Budaya Kota Muntok

Tim Natak Sejarah dan Budaya menyelesaikan kegiatan terakhir dihari ketiganya dengan menunjungi kota sejarah di pulau Bangka,

Editor: khamelia
Bangkapos/irakurniati
Natak Sejarah dan Budaya ke Kota Muntok mengunjungi sejumlah cagar budaya, satu diantaranya Museum Timah Indonesia Muntok, Kamis (21/11/2019). 

BANGKAPOS.COM - Tim Natak Sejarah dan Budaya menyelesaikan kegiatan terakhir dihari ketiganya dengan menunjungi kota sejarah di pulau Bangka, yakni Muntok, Kabupaten Bangka barat. Kegiatan ini berlangsung selama tiga hari terhitung 18,19 dan 21 November.

Tim terdiri dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Pangkalpinang bersama sejumlah wartawan, juga turut mengajak veteran Bangka belitung dan budayawan untuk mengulik cagar budaya di kota berjuluk kota timah itu.

Kunjungan diawali dengan mendatangi Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Bangka Barat. Rombongan disambut Sekretaris Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Bangka Barat Fachriansyah dan Kabid Kebudayaan, Hari Suseno.

Mereka melakukan sedikit pemaparan mengenai kota Muntok dan sejarahnya hingga peninggalan Belanda yang dikaitkan juga dengan peninggalan di Kota Pangkalpinang. Perjalanan berlanjut menuju sejumlah cagar budaya yakni Museum Timah Indonesia Muntok dan dipandu oleh sejarawan, Chairil Amri Rani. Sambil menyusuri satu per satu galeri yang ada di dalamnya, dia memaparkan isi museum timah tersebut.

"Kalau di sini pada umumnya berisi mengenai sejarah timah, prosesnya dan sosial budaya masyarakat. Cuma lebih banyak memang tentang timahnya," kata Amri Rani, Kamis (21/11/2019).

Seusai dari museum, melanjutkan perjalanan melihat masjid Jami yang berdampingan dengan Kelenteng Kong Fuk Miau dan makam Bangsawan melayu.

"Kota Muntok ini terbagi tiga cluster, cluster eropa, china dan melayu. Kelenteng dan masjid ini ada di cluster china, tadi museum ada di cluster eropa dan jalan menuju makam ini cluster melayu," sambung Amri Rani.

Sebelum akhirnya singgah di Pesanggrahan Menumbing, rombongan melewati rumah mayor dan melihat pelabuhan Muntok.

Amri Rani menambah, Kota Muntok memiliki 18 cagar budaya, satu di antaranya Pesanggrahan Menumbing yang terletak di Gunung Menumbing ketinggian 419 mdpl.

Diakuinya, kondisi belasan cagar budaya tersebut masih terpelihara dengan baik meskipun ada bagian-bagian yang sudah rusak.

Hanya saja kujungan wisatawan sekarang cukup sepi dan hanya memilih pesanggrahan menumbing karena merupakan tempat pengasingan Bung Karno dan Bung Hatta. Padahal, banyak cagar budaya lainnya yang bisa dikunjungi dan tak kalah menariknya.

Ketua komunitas kota pusaka Muntok itu mengatakan, untuk perawatan 18 cagar budaya ini hanya bermodalkan dana sedikit, yakni sekitar Rp 100 juta per tahun. Padahal, merawat cagar budaya Indonesia memiliki biaya cukup besar. Tapi karena terkendala anggaran pemerintah kabupaten, maka perawatan diprioritaskan bagi yang paling penting dulu.

"Mestinya kan yang namanya cagar budaya itu, tampak depannya harus seperti dulu dan itu harus ada perawatannya dan ini membutuhkan anggaran yang cukup besar, tapi kita juga tidak bisa memaksa pemerintah daerah, karena anggaran yang dimiliki juga terbatas," katanya.

Dia berharap ada dukungan dari Pemerintah Provinsi Babel, karena Kota Muntok dan sekitarnya merupakan satu kawasan strategis di Bangka Belitung. Sedangkan tahun ini mereka mendapat bantuan dari Balai Pelestarian Cagar Budaya Jambi untuk pemugaran pesanggrahan.

"Kalau pihak provinsi dan pusat tidak turun tangan untuk menyelamatkan cagar budaya ini, maka lambat laun akan rusak dan punah, karena pemerintah daerah tidak memiliki kemampuan," harapnya.

Sumber: bangkapos.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved