Kamis, 9 April 2026

Berita Pangkalpinang

Sikap Eksportir yang Ancam Tak Mau Beli Lada Babel Dinilai Lucu

Di tengah terpuruknya harga lada, terjadi kekisruhan di tingkat elite. Akibatnya, eksportir mengancam tidak akan membeli lada petani

Penulis: Dedy Qurniawan | Editor: khamelia
(BANGKA POS / DEDY Q)
Foto Kepala Dinas Pertanian Kep. Babel Juaidi 

BANGKAPOS.COM- Di tengah terpuruknya harga lada, terjadi kekisruhan di tingkat elite. Badan Pengelolaan, Pengembangan dan Pemasaran Lada (BP3L) Bangka Belitung disebut memiliki dua kepengurusan.

Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung meyakini BP3L yang sah adalah berdasarkan peraturan dan keputusan Gubernur Babel. Sedangkan Zainal yang juga mengaku Ketua BP3L berpegang pada surat akta notaris Kemenkumham.

Akibatnya, eksportir mengancam tidak akan membeli lada petani jika masalah tersebut tidak selesai. Terlepas dari kondisi itu, petani lada harus bertahan hidup dan mereka menjual hasil komoditi itu.

Kepala Dinas Pertanian Kepulauan Bangka Belitung Juaidi mengatakan, tak ada dualisme pengurus.

"Pemerintah hanya ingin merapikan tata kelola Lada Bangka Belitung. Dulu BP3L itu dibentuk berdasarkan Peraturan Gubernur, ketika dia dibentuk berdasarkan aturan lain, rasanya ya tidak pas lagi," kata Juadi, Rabu (4/12/2019)

Apa yang terjadi saat ini adalah dampak dari upaya perbaikan tata kelola niaga Lada Bangka Belitung.

Ketika perbaikan ingin dilakukan, ia menilai wajar ada pihak-pihak yang merasa berkeberatan.

Juadi menanggapi santai jika kemudian eksportir mengancam tidak akan membeli Lada petani Bangka Belitung karena kisruh ini. Lagi pula menurut dia, tak ada perusahaan khusus yang menanam Lada di Babel.

Semuanya adalah petani. Perbedaanya hanya pada jumlah luasan kebun.

Petani adalah pihak yang harus diuntungkan dalam perbaikan ini. Juaidi menilai menjadi lucu ketika eksportir mengancam tak mau membeli Lada petani.

Menurut dia, perbaikan tata kelola niaga Bangka Belitung dengan memperbaiki manajemen BP3L justru adalah untuk mengoptimalkan status IG Muntok White Pepper yang dimiliki Babel.

Pasalnya, selain terkait keistimewaan wilayah, IG Lada Putih ini juga menyangkut keistimewaan produk dan mutu produk.

Perbaikan tata kelola ingin menyasar optimalisasi IG Lada putih ini. Muaranya adalah peningkatan nilai tambah Lada miliki petani.

"Ini menurut saya lucu-lucuan saja. Bagi kami di pertanian, adalah bagaimana meningkatkan produktivitas, menekan biaya produksi, memperpanjang umur produksi, dan bagaimana meningkatkan mutu produk Lada," katanya

Selama ini optimalisasi IG Muntok White Pepper boleh dibilang belum dilakukan. Menurut dia, selama ini para eksportir hanya menampung lada petani dalam bentuk curah.

Sumber: bangkapos.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved