Jumat, 10 April 2026

Advertorial

Hadapi Revolusi Industri 4.0 Akuntan Bangka Belitung Harus Berinovasi

Kehadiran Revolusi Industri 4.0 membawa perubahaan pada penyesuaian pekerjaan pada manusia, mesin, teknologi dan proses di berbagai bidang profesi

Editor: nurhayati
Ist/Wella Natalia
Artikel oleh Wella Natalia Mahasiswa Fakultas Ekonomi UBB 

BANGKAPOS.COM,BANGKA-- Kehadiran Revolusi Industri 4.0 membawa perubahaan pada penyesuaian pekerjaan pada manusia, mesin, teknologi dan proses di berbagai bidang profesi, termasuk profesi akuntan.

Profesi akuntan sendiri perlu menyadari adanya kebutuhan untuk regenerasi ke akuntan publik milenial. Generasi milenial atau yang biasa disebut juga echo boomers yang lahir di tahun 1980-1990 atau awal tahun 2000-an merupakan generasi yang memiliki perilaku yang berbeda dari generasi yang sebelumnya.

Fungsi utama seorang akuntan adalah dia harus mampu mengkomunikasikan keadaan ekonomi perusahaan kepada decision maker.

Akuntan harus memahami bahwa tools yang dipakai dalam bekerja itu sudah beragam dan up-to-date.
Akuntan harus faham penggunanaan big data analytic dalam penyusunan laporan keuangan.

Revolusi Industri menuntut profesi akuntan untuk menyesuaikan dengan perkembangan teknologi informasi dan big data.

Pada Revolusi Industri 4.0 terjadi pergeseran yang luar biasa pada berbagai bidang ilmu dan profesi, oleh karena itu cara kerja dan praktik akuntan perlu diubah untuk meningkatkan kualitas layanan dan ekspansi global melalui komunikasi daring dan penggunaan cloud computing.

Menristekdikti berpesan agar para akuntan di era digital tidak boleh memandang sebelah mata dampak dari teknologi, dan perlu menguasai data non-keuangan seperti data analysis, information technology development, dan leadership skills. Hal tersebut pernah disampaikan oleh Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan TInggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir.

Di Era Revolusi Industri 4.0 mengharuskan kita untuk berinovasi dan berdaptasi untuk bisa bertahan. Kemajuan industri digital yang begitu pesat belakangan ini dinilai sebagai peluang besar bagi kalangan yang berprofesi sebagai akuntan. Pasalnya, banyak start-up yang masih kesulitan dalam menyusun laporan keuangannya.

“Berdasarkan riset sekitar 64% kalanganstart-up mengakui kesulitan dalam penyusunan laporan keuangan dan menganggap laporan keuangan sebagai isu yang krusial," ungkap ersa.

Aplikasi Revolusi Industri 4.0 dalam bidang start-up ditinjau dari sudut pandang akuntansi. Sedangkan, proses penyusunan laporan keuangan adalah depelovement costyang dapat dikapitalisasi dan tidak harus di expand asal memenuhi persyaratan yang cukup ketat sebagaimana diatur dalam PSAK untuk aset tak berwujud.

Saat ini PSAK 19 membatasi pengakuan aset tak berwujud yang dibangun sendiri kecuali berhasil memenuhi syarat yang ketat. Selain dari itu proses ‘bakar uang’ yang dilakukan oleh perusahaan start-up untuk user acuitition dalam pencatatannya bisa dikapitalisasi dengan syarat adanya kepastian dan keyakinan bahwa user dari start-up itu akan menghasilkan revenue.

Contohnya sekarang dalam waktu yang relatif singkat  layanan ojek online kini sudah tersedia di Kota Pangkalpinang, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

"Tidak hanya di kota besar, di kota yang tergolong kecil seperti Pangkalpinang kini juga sudah ada yang kita beri nama Aok Jek," ujar Hendra, salah seorang pelopor.

Hadirnya ojek online di Pangkalpinang mampu mengalahkan nilai ekonomi yang dimiliki oleh Bluebird atau penyedia jasa armada taksi konvensional, padahal mereka tidak punya satupun kendaraan sebagai armadanya.

Bahkan Go-Jek juga sudah resmi beroperasi di Provinsi Kepulauan Bangka, sejak tahun 2018.

Sumber: bangkapos
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved