SkyeGrid dan GameQoo, Pelopor Layanan Cloud Gaming di Tanah Air
Cloud gaming adalah gaming alias bermain gim yang setidaknya sebagian sumber daya pentingnya berada di cloud dan bukannya di komputer lokal.
“Persentase itu dari berapa voucher yang kami jual dan ditentukan oleh publisher. Semakin banyak kita jual, persentasenya akan semakin kecil. Apakah itu fair? Buat kami itu belum. Karena pengguna cloud gaming di Indonesia masih sedikit. Tapi di masa depan, kalau ini (cloud gaming) memang sudah masif, justru metode itu akan semakin menguntungkan buat publisher dan juga buat kami,” papar Rolly.
Tantangan yang Dihadapi Saat Ini
Dalam mengembangkan bisnis cloud gaming, gameQoo dan Skyegrid mengaku ada beberapa tantangan yang dihadapi, khususnya dalam hal edukasi kepada gamer di Indonesia.
“Tantangan yang paling susah adalah membiasakan orang Indonesia dengan metode subscription (berlangganan). Orang Indonesia sudah kebiasaan dalam tanda kutip gim gratis (bajakan) ya. Berbeda dengan orang luar negeri yang memang dari dulu terbiasa dengan gim berbayar. Maka dari itu, kami juga banyak ikut event tahunan seperti dari Bekraf, ke kampus-kampus, untuk edukasi hal ini (berlangganan),” terang Azzam.
Sedangkan bagi Rolly, harga yang ditawarkan juga menjadi tantangan tersendiri mengingat seperti yang dijelaskan Azzam sebelumnya bahwa berlangganan gim belum menjadi kebiasaan bagi sebagian besar orang Indonesia.
“Masih banyak yang menganggap harga berlangganan cloud gaming itu mahal. Untuk mengatasi masalah harga ini, kami sedang menggarap solusinya dengan segera meluncurkan paket per jam,” ucap Rolly.
Selain kedua hal itu, jaringan internet yang sudah ada saat ini juga menjadi tantangan tersendiri bagi gameQoo dan Skyegrid.
Oleh karena itu, keduanya sepakat bahwa kehadiran jaringan 5G yang diperkirakan masuk pada beberapa tahun ke depan akan semakin mendukung kamajuan industri tersebut.
Ancaman Bagi Perangkat Gaming
Di tengah istilah cloud gaming yang tengah ramai diperbincangkan, muncul anggapan bahwa cloud gaming dapat mengancam industri perangkat gaming seperti Playstation, Nintendo, hingga PC gaming.
Mengomentari hal tersebut, Azzam memiliki perspektif bahwa cloud gaming sejatinya tidak akan menggantikan ketertarikan para gamer akan konsol gim atau PC gaming.
“Tidak akan mengganggu bisnis mereka. Saya percaya cloud gaming sampai 5 tahun ke depan hanya untuk casual gamer dan bukan untuk yang serius (hardcore). Para hardcore gamer pasti masih akan memilih PC gaming, karena mereka suka build. Mereka suka bentuk fisik PC gaming,” terang Azzam.
Berbeda dengan pandangan Azzam, Rolly mengatakan bahwa cloud gaming sudah dipastikan akan mengganggu bisnis industri perangkat gaming.
“Gara-gara cloud gaming, banyak fenomena yang berubah. Sekarang, mereka (perusahaan perangkat gim) saja sudah bikin (platform). Xbox dengan xCloud-nya, Playstation dengan Playstation Now-nya. Itu layanan sejenis SkyeGrid juga tapi harus punya perangkatnya dan sudah mulai bisa diakses di PC. Nah, mereka saja sudah menyediakan. Jadi kalo prediksi saya, kita ‘kan dengar juga kalo PS 5 dan Xbox Series X akan rilis, mungkin ini jadi konsol terakhir mereka. Sebelum mereka merambah full ke cloud,” papar Rolly.
Kembali dijelaskan Rolly, bahwa seperti tren yang sudah-sudah, konsol gim biasanya akan bertahan atau popular selama 5 tahun saja.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/ilustrasi-cloud-gaming.jpg)