Tari Soya Soya , Tarian Perang Pembebasan Rakyat Maluku Utara dari Portugis
Tari Soya Soya adalah seni tradisi tari rakyat Maluku Utara yang dimaknai sebagai perang pembebasan dari Portugis hingga jatuhnya tahun 1575.
BANGKAPOS.COM – Indonesia memiliki ragam budaya dan seni, di antaranya seni tari.
Setiap daerah di Nusantara pasti ada tarian khas masyarakatnya. Tarian itu turun temurun hingga sekarang.
Satu di antara tarian daerah tersebut adalah Tari Soya Soya.
Tari Soya Soya tercipta pada masa Sultan Baabullah (Sultan Ternate Ke-24), dari Kesultanan Ternate, untuk mengobarkan semangat pasukan pasca-tewasnya Sultan Khairun pada 25 Februari 1570.
Saat itu, Tarian Soya Soya dimaknai sebagai perang pembebasan dari Portugis hingga jatuhnya tahun 1575.
Para penari akan menampilkan tarian yang lincah dimana merefleksikan gerak menyerang, mengelak dan menangkis.
Jumlah penari soya-soya sendiri tidak ditentukan.
Bisa hanya empat orang dan bahkan hingga ribuan penari, yang harus berjumlah ganjil.
Sejarah
Tari Soya Soya digunakan untuk mengobarkan semangat para prajurit saat penyerbuan Kesultanan Ternate ke Benteng Nostra Senora Del Resario (Benteng Kastela) yang dikuasai Portugis pada tahun 1570-1583.
Penyerbuan ini dipimpin oleh Sultan Baabullah.
Bukan tanpa alasan, dia melakukannya untuk mengambil jenazah ayahnya yaitu Sultan Khairun yang dibunuh secara kejam oleh tentara Portugis.
• Tari Laweut Khas Pidie Aceh, Dulu Dimainkan Istri Pejuang Kemerdekaan Untuk Mengisi Waktu Luang
Pertempuran ini juga menjadi awal kebangkitan masyarakat dalam mengusir para penjajah Portugis yang sudah lama menduduki tanah mereka.
Pertempuran itu menandai kebangkitan perjuangan rakyat Kayoa terhadap penjajah dengan mengepung benteng tersebut selama 5 tahun pada akhir abad ke-16.
Untuk mengabadikan peristiwa heroik tersebut, para seniman Kesultanan kemudian menciptakan dan mengembangkan sebuah tarian yang disebut dengan Tari Soya Soya ini.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/tari-soya-soya.jpg)