Kamis, 28 Mei 2026

Ramadhan 2020

Ramadhan di Rumah, Syari'at Sosial Distancing dan Pahalanya, Begini Kata Ustaz Yuda

Jangan sampai keegoisan kita yang tidak mau berdiam diri di rumah mendatangkan bahaya untuk orang lain, pilihannya hanya dua, kalau tidak menulari,

Tayang:
Penulis: Cici Nasya Nita | Editor: Hendra
Ist/Ustaz Yuda
Ustaz Yuda Abdurahman 

BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Ustaz Yuda Abdurahman mengatakan di tengah merebaknya wabah virus Corona yang masif dan tak terkendali, langkah bijak dan menyelamatkan 'InsyaAllah' adalah mengikuti himbauan pemerintah dan praktisi kesehatan.

Dengan cara senantiasa berdiam diri di rumah atau yang dikenal dengan sosial distancing guna memutus mata rantai penularan.

"Terlebih kita sebagai umat Islam yang memiliki rujukan hukum yakni MUI, yang telah mengeluarkan fatwa dan anjuran terkait masalah ini," ujar Ustaz Yuda kepada bangkapos.com, Senin (4/5/2020).

Diakuinya, memang dengan demikian membuat suasana Ramadhan tahun ini tidak sesemarak dan sekhidmat tahun-tahun sebelum.

"Tapi tahukah kita, mengisolasi diri secara mandiri ditengah mewabahnya penyebaran virus ternyata telah jauh disyari'atkan oleh agama Islam dan merupakan anjuran Rasulullah shalallahu alaihi wasallam, terkhusus bagi mereka yang suspect atau yang telah positiv tertular.Bahkan, diganjar pahala disisi Allah Azza wa Jalla,"sebutnya.

Ustaz Yuda menjelaskan hal ini telah banyak diterangkan oleh para ulama di dalam banyak kitab-kitab keilmuan kaum muslimin, bahwa barang siapa yang berdiam diri di rumahnya disaat menyebarnya wabah, maka baginya pahala mati syahid meskipun ia tidak mati.

Mari kita simak kabar gembira tersebut pada hadits berikut.

عن عائشة أم المؤمنين رضي الله عنها قالت : سألتُ رسولَ اللهِ ﷺ عن الطاعونِ ، فأخبَرَني رسولُ اللهِ ﷺ: أنَّه كان عَذابًا يَبعَثُه اللهُ على مَن يَشاءُ، فجعَلَه رَحمةً للمُؤمِنينَ، *فليس مِن رَجُلٍ يَقَعَ الطاعونُ فيَمكُثُ في بَيتِه صابرًا مُحتَسِبًا يَعلَمُ أنَّه لا يُصيبُه إلّا ما كَتَبَ اللهُ له إلّا كان له مِثلُ أجْرِ الشَّهيدِ.*

إسناده صحيح على شرط البخاري • أخرجه البخاري (٣٤٧٤)، والنسائي في «السنن الكبرى» (٧٥٢٧)، وأحمد (٢٦١٣٩) واللفظ له.

Artinya: "Dari 'Aisyah Radhiyallahu 'Anhaa ia berkata: 'Aku bertanya kepada Rasulullah shalallahu alaihi wasallam mengenai Tho'un (wabah virus), maka beliau mengabarkan kepadaku bahwasanya wabah virus itu merupakan azab yang Allah kirim kepada siapa saja yang ia kehendaki, dan Allah jadikan wabah virus itu sebagai Rahmat bagi kaum mu'minin.

Maka tidaklah seseorang yang tertimpa (tertular) wabah tersebut kemudian ia bersabar dan berdiam diri di rumahnya karena mengharap pahala dari Allah, ia mengetahui bahwa tidak ada musibah apapun yang menimpanya kecuali yang telah ditentukan Allah untuknya, melainkan Allah akan catatkan baginya pahala mati syahid."

(Sanad hadits ini shohih berdasarkan syarat dari al-Bukhari • diriwayatkan oleh al-Bukhari: 3474 dan an-Nasa'i di kitab <> dan Imam Ahmad: 26139, dan lafaz hadits ini milik imam Ahmad).

Kemudian Imam Ibnu Hajar menjelaskan maksud dari hadits tersebut,

قال ابن حجر : "اقتضى منطوق الحديث أن من اتصف بالصفات المذكورة يحصل له أجر الشهيد وإن لم يمت "
[فتح الباري (194/10)]

Imam Ibnu Hajar berkata:
"Lafadz hadits ini menunjukkan bahwa siapa saja yang mensifati diri dengan sifat yang disebutkan dalam hadits tersebut -(berdiam diri di rumah ketika terjadi penyebaran wabah virus dengan sabar karena mengharap pahala Allah)- maka ia akan mendapatkan pahala mati syahid meskipun ia tidak mati."
[Fath al-Baarii (194/10) ]

Oleh karena itu bukanlah muslim yang taat dan lurus aqidahnya jika ia tidak mengindahkan anjuran Rasulullah shalallahu alaihi wasallam di atas. Meskipun segala sesuatu sudah menjadi ketetapan Allah Azza wa Jalla, akan tetapi manhaj Ahlus Sunnah wal Jama'ah merupakan manhaj pertengahan, yang mengendepankan tawakkal kepada Allah dan meyakini setiap keputusan Allah Ta'ala sebagaimana dalam firman-Nya:

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ () لِكَيْلَا تَأْسَوْا عَلَى مَا فَاتَكُمْ وَلَا تَفْرَحُوا بِمَا آتَاكُمْ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ () الَّذِينَ يَبْخَلُونَ وَيَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبُخْلِ وَمَنْ يَتَوَلَّ فَإِنَّ اللَّهَ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ

Artinya:
“Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri."
(QS. Al-Hadid: 22).

"Kita meyakini bahwa semua yang berlaku di dunia telah Allah Ta'ala tetapkan jauh sebelum penciptaan manusia, namun ayat ini bertujuan agar kita tidak berputus asa dari Rahmat Allah tatkala ditimpa musibah, bukan sebagai ayat yang digunakan untuk meremehkan setiap ikhtiar," kata Ustaz Yuda.

"Sehingga kita tetap menyempurnakan ikhtiar dalam rangka menjalankan syari'at menjauhi diri dari penularan dengan melakukan upaya-upaya yang mungkin dilakukan yang telah dianjurkan oleh pakarnya,"lanjutnya.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam telah bersabda:

فر من المجذوم فرارك من الأسد

Artinya: "Larilah engkau dari penyakit kusta (wabah penyakit menular) sebagaimana engkau lari dari singa".
(HR. Bukhari)

Dan beliau juga bersabda:

إذا سمعتم بالطاعون بأرض فلا تدخلوها

Artinya: "Jika kamu mendengar kabar penyakit thaun menyebar di sebuah tempat, maka jangan masuki tempat tersebut".
(HR. Bukhari)

Dua hadits di atas sangat jelas memerintahkan kepada kita agar menjauhi setiap potensi penyebaran virus, dengan melakukan social distancing. Kita semua sudah tahu dan mendengarkan penjelasan dari para Dokter dan tim medis yang berjibaku di garis depan melawan Covid-19, bahwa virus ini sangat mudah menyebar terlebih pada kerumunan masa yang banyak.

Permasalah lainnya adalah, virus ini perkara yang tidak nampak, sehingga kita tidak tahu siapa saja yang membawa virus tersebut pada dirinya. Bahkan terkadang didapati orang yang tidak menunjukkan gejala sama sekali ternyata menjadi pembawa virus Covid-19 di tubuhnya, atau yang dikenal dengan OTG.

Sehingga, ketika mereka yang merasa baik-baik saja namun ternyata membawa virus tersebut di dalam tubuhnya berinteraksi dengan orang lain yang ternyata memiliki riwayat penyakit bawaan atau memiliki imunitas rendah, sudah dapat dipastikan ia menjadi sebab tertularnya orang tersebut.

Jika demikian, orang tadi telah mendatangkan mudhorot bagi orang lain. Padahal dalam Islam, seseorang tidak boleh mendatangkan mudhorot (bahaya) baik bagi dirinya maupun orang lain.
Sebagaimana dijelaskan dalam qoidah fiqih:

الضرر يزال
Artinya:
"Bahaya itu harus dihilangkan."

Dasar dari Qoidah ini adalah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Malik di dalam kitab al-Muwatho' dari Abi Sa'id al-Khudri, Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda:

لا ضرر و لا ضرار
Artinya:
"Tidak boleh mendatangkan bahaya bagi diri sendiri maupun orang lain."
(Al-Asybah wa Al-Nazhoir, hal. 132)

Oleh karena itu, kenapa rokok tidak sukai dalam pandangan syar'iat, karena mendatangkan bahaya kesehatan yang sudah jelas pada diri sendiri juga pada orang lain, kita semua tahu bahwa perokok pasif lebih beresiko dibanding perokok aktif.

Demikian pula halnya dengan Covid-19 ini, jangan sampai keegoisan kita yang tidak mau berdiam diri di rumah mendatangkan bahaya untuk orang lain, pilihannya hanya dua, kalau tidak menulari, ditulari.

Seumpama memang kita memiliki imunitas yang baik kemudian kelak akan sembuh kembali, tapi pikirkan mereka yang mungkin tidak memiliki imunitas sebaik kita, terlebih orang yang kita sayangi.

Maka cukuplah bagi kita petunjuk Rasulullah shalallahu alaihi wasallam, kita bertawakkal kepada Allah dan ridho dengan setiap ketentuan-Nya namun juga tetap maksimal berikhtiar menjaga diri dan keluarga dari kemudharatan virus yang menyebar.

Allahu musta'an.

(Bangkapos.com/Cici Nasya Nita)

Sumber: bangkapos.com
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved