Jumat, 24 April 2026

Berita Pangkalpinang

Pengamat Akui Ada Pergerakan Ekonomi Jelang Lebaran, Disarankan Tetap Tahan Diri

Menjelang lebaran, keramaian terlihat di berbagai pusat perbelanjaan. Dr Reniati menyebut ada pergerakan ekonomi tetapi sarankan untuk menahan diri.

Penulis: Cici Nasya Nita | Editor: Dedy Qurniawan
Ist/Reniati
Ketua Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Babel sekaligus Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Bangka Belitung, Dr Reniati. 

BANGKAPOS.COM, BANGKA - Menjelang lebaran, keramaian terlihat di berbagai pusat perbelanjaan.

Ketua Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Babel sekaligus Pengamat Ekonomi, Dr Reniati menyebut ada pergerakan ekonomi tetapi sarankan untuk menahan diri dalam berbelanja.

"Definisi puasa (shaum) secara tata bahasa adalah al-imsaak, yaitu menahan diri. Termasuk satu di antaranya adalah menahan diri dari mengkonsumsi. Tetapi bukan berarti Islam, tidak memperbolehkan kita berbelanja, karena berbelanja adalah salah satu faktor yang menggerakkan perekonomian masyarakat,"ujar Reniati saat dikonfirmasi bangkapos.com, Jumat (22/5/2020).

Lebih lanjut, ia mengatakan bahkan Rasuluallah SAW adalah seorang Trader (pedagang) yang merupakan aktor penting dalam sebuah perekonomian.

"PDB Indonesia maupun PDRB Provinsi Kepulauan Bangka Belitung satu diantaranya ditopang oleh pengeluaran konsumsi rumah tangga, disamping pengeluaran pemerintah, investasi, ekspor dan impor," jelas Reniati.

Artinya konsumsi masyarakat memiliki kontribusi besar dalam pertumbuhan ekonomi.

Pertumbuhan ekonomi Bangka Belitung di Triwulan pertama tahun 2020 memang mengalami penurunan, yaitu 1,35% (yoy) hal serupa juga dialami oleh pertumbuhan nasional yaitu 2,97% (yoy).

"Ini merupakan dampak dari diberlakukannya berbagai kebijakan seperti work from home, social distancing, physical distancing, PSBB dan lain-lain dalam rangka memitigasi dampak covid-19,"sebut Reniati.

Penjual Terapkan Protokol Kesehatan dan Agresif Transaksi Online

Diakui Reniati, setiap lebaran biasanya akan menikmati sebuah Festival Rakyat, seperti ada fenomena mudik, perputaran uang dari kota ke desa, dari daerah Jawa ke luar Jawa atau sebaliknya, konsumsi yang meningkat, kenaikan tarif transportasi dan lain-lain.

Tetapi masa Pandemi Covid-19 ini Lebaran sangat berbeda suasananya.

"Kalaupun ada lonjakan pembelian, meningkat tajam pada satu minggu sebelum lebaran, jadi wajar ada antusiasme masyarakat untuk berbelanja saat ini disatu sisi menjelang Lebaran disisi lain hampir dua-tiga bulan memasuki masa pandemi," jelasnya.

Ia menambahkan bahwa pemerintah tentunya harus tetap memantau kondisi ini, agar penyebaran virus corona tidak kembali meningkat karena antusiasme masyarakat untuk berbelanja.

"Semua pasar dan pusat perbelanjaan harus menyiapkan standar operasi prosedur kesehatan seperti penyediaan tempat cuci tangan/hand sanitizer, menggunakan masker baik para penjual maupun pembeli, penjual harus lebih agresif untuk melakukan penjualan online, sehingga pembelipun lebih termotivasi untuk memilih pembelian dan pembayaran secara online," kata Reniati.

Hal ini untuk meminimalisir keramaian di pasar tradisional dan berkerumunnya pembeli pada suatu tempat.

Sumber: bangkapos.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved