Jumat, 10 April 2026

CARA Bentuk Kecerdasan Anak dengan Stimulasi Sejak Dini

Tidak sedikit orangtua pengin anaknya menjadi cerdas sehingga berlomba-lomba mendaftarkan ke sekolah favorit dengan harga mahal.

Dailymail - @GoFoundMe
Seorang gadis 6 tahun tewas ditangan adiknya sendiri yang masih balita setelah tak sengaja tertembak di bagian kepalanya. 

BANGKAPOS.com- Tidak sedikit orangtua pengin anaknya menjadi cerdas sehingga berlomba-lomba mendaftarkan ke sekolah favorit dengan harga mahal.

Padahal, membentuk anak cerdas bukan sekadar masuk ke sekolah ternamaan tetapi harus mendapatkan stimulus sejak berusia 3 tahun.

Satu di antara cara yang bisa dilakukan adalah melakukan stimulasi. 

Stimulasi adalah rangsangan suara (auditori), visual, sentuhan, kinestetik yang diberikan sejak otak bayi mulai berkembang (sejak lahir).

Tujuan stimulasi adalah merangsang kualitas dan kuantitas sel-sel otak agar dapat bekerja dan berfungsi secara optimal.

Meski demikian, stimulasi untuk anak tidak bisa disamaratakan.

Orangtua harus mengenali kematangan otak anak, agar dapat memberi jenis dan cara stimulasi yang tepat sesuai usianya, serta merasakan manfaat dari stimulasi ini.

Manfaat stimulasi dini terhadap anak

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) merekomendasikan orangtua untuk lebih giat menstimulasi anak mulai dari lahir hingga usianya menginjak 3 tahun, karena saat itulah otak terus membentuk hubungan antarsel.

Pembentukan dan aktivitas hubungan antarsel ini dapat diintervensi dengan stimulasi (rangsangan) dari lingkungan.

Semakin bervariasi stimulasi yang diterima anak, semakin kompleks hubungan antarsel otak. Dan, semakin sering dan teratur rangsangan itu diterima, semakin kuat hubungan antarsel.

Dengan kata lain, semakin kuat dan kompleks hubungan antarsel, semakin tinggi dan bervariasi tingkat kecerdasan anak di kemudian hari.

Jika orangtua terus memberi stimulasi yang tepat terhadap anak, maka semakin besar kemungkinan anak akan memiliki variasi kecerdasan di kemudian hari.

Bagaimana bentuk stimulasi yang mencetak anak cerdas?

Memberi stimulasi bukan berarti memberikan banyak mainan edukasi kepada anak, atau mengikutkannya pada banyak sekolah atau kursus.

Sumber: Tribun Medan
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved