Rabu, 29 April 2026

Berita Belitung

Fenomena Hujan Meteor di Belitung, Suara Dentuman Bikin Heboh hingga Dinding Rumah Warga Bergetar

Lapan Republik Indonesia Emanuel Sungging Mumpuni mengatakan fenomena ini diprediksi dikarenakan meteor shower alias hujan meteor.

Penulis: Disa Aryandi | Editor: Ardhina Trisila Sakti
John Chumak
Ilustrasi meteor 

BANGKAPOS.COM, BELITUNG - Fenomena sekelebat cahaya dan suara dentuman menghebohkan masyarakat Pulau Belitung. Cahaya itu sangat terang, berwarna kuning kemerahan dan menghilang di langit dengan buntut berapi.

Menanggapi hal ini, Koordinator Diseminasi Pusat Sains Antariksa Lembaga Antariksa dan Penerbangan (Lapan) Republik Indonesia Emanuel Sungging Mumpuni mengatakan fenomena ini diprediksi dikarenakan meteor shower alias hujan meteor.

"Saat ini sedang puncak-puncaknya masa meteor shower Perseids. Tidak perlu dikhawatirkan oleh masyarakat. Justru bisa dinikmati oleh masyarakat karena fenomena alam ini tidak terjadi setiap hari," kata Sungging kepada posbelitung.co, Selasa (11/8/2020).

Ia mengatakan objek yang dilihat oleh masyarakat Belitung dimungkinkan adalah sebuah meteor yang meledak di atmosfir. Mengenai suara dentuman ia menjelaskan itu bisa jadi benda yang lebih besar namun tidak perlu dicemaskan.

Bisasnya objek tersebut terbakar atau meledak di atmosfer sebelum sampai di bumi makanya seperti ada percikan api atau biasa disebut sebagai fireball.

Sungging menerangkan yang dikhawatirkan malah benda jatuh buatan manusia. Namun hal tersebut sudah dimonitor oleh Lapan RI dan jika ada potensi jatuh di Indonesia maka akan segera diinfokan ke masyarakat.

"Bisa dipantau di instagram kami @lapan_ri dan website kami untuk memantau realtime benda antariksa di wilayah kita," kata Sungging.

Ia menekankan pada masyarakat agar tidak perlu khawatir berlebihan karena ini hanya fenomena alam biasa.

Sebagai informasi, hujan meteor Perseid aktif sejak tanggal 17 Juli hingga 24 Agustus dan puncaknya terjadi pada 12 sampai 13 Agustus 2020. Hujan meteor ini dapat disaksikan mulai tengah malam hingga fajar bahari atau nautica berakhir atau sekitar 24 menit sebelum matahari terbit.

Itensitas maksimum hujan meteor ini mencapai 60 sampai 70 meter tiap jam dengan kelajuan meteor mencapai 212.400 km per jam.

Kepala BMKG: Belitung Punya Sejarah Batu Meteor Jatuh

Kepala UPT Badan Meteorologi BMKG Buluh Tumbang, Tanjungpandan Carles mengatakan, sudah melakukan diskusi terkait benda langit yang bersinar, dan diikuti dengan suara dentuman di Pulau Belitung.

Ia mengklaim, untuk sementara ini diduga kuat bahwa benda yang membuat heboh masyarakat itu, adalah batu meteor. Pasalnya soal batu meteor ini, sudah ada pernyataan atau informasi dari Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan).

"Namun pada prinsipnya bukan masuk dalam Tupoksi kami (BMKG), tapi secara ilmuan, iya itu meteor. Adanya cahaya itu, karena ada gesekan benda langit dengan atmosfir," ungkap Carles kepada Posbelitung.co, selasa (11/8/2020).

Kepala UPT Badan Meteorologi BMKG Buluh Tumbang Tanjungpandan Carles menunjukan posisi Pulau Belitung dilihat dari peta prakiraan angin, Senin (24/2/2020)
Kepala UPT Badan Meteorologi BMKG Buluh Tumbang Tanjungpandan Carles menunjukan posisi Pulau Belitung dilihat dari peta prakiraan angin, Senin (24/2/2020) (bangkapos.com/Dede Suhendar)

Suara dentuman tersebut, kata dia, tetap akan muncul, apabila benda apapun yang jatuh dari langit, sampai ke permukaan bumi serta melihat dari sejarah, Belitung masuk dalam catatan lokasi jatuhnya batu meteor.

Sumber: Pos Belitung
Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved