Sabtu, 11 April 2026

Liga Champions

Semifinal Liga Champions Milik Klub Jerman dan Prancis, Kuncinya Jangan Kelelahan!

Semifinal Liga Champions musim ini menjadi ajang tarung total tim Liga Jerman vs Liga Prancis.

Editor: suhendri
AFP/INA FASSBENDER
Pemain tengah Leipzig, Christopher Nkunku (3L) merayakan dengan rekan satu timnya mencetak skor selama pertandingan sepak bola Bundesliga divisi satu Jerman FC Cologne vs RB Leipzig, di Cologne pada 1 Juni 2020. 

BANGKAPOS.COM - Wakil Bundesliga Jerman dan Ligue 1 Prancis mengisi slot di semifinal Liga Champions 2019-2020 karena modal keunggulan kondisi fisik dan fokus yang lebih baik ketimbang lawan-lawan mereka.

Semifinal Liga Champions musim ini menjadi ajang tarung total tim Liga Jerman vs Liga Prancis.

Bayern Muenchen dipasangkan dengan lawan Olympique Lyon, sedangkan RB Leipzig bakal baku hantam kontra Paris Saint-Germain.

Komposisi pertemuan wakil Bundesliga vs Ligue 1 di semifinal ajang selevel Liga Champions tergolong langka.

 Maklum, dua kompetisi tersebut kerap dianggap sebatas "liga petani" alias penghasil bakat bagus untuk kelak direkrut klub-klub Liga Spanyol, Inggris, dan Italia, kejuaraan yang lazim dinilai tiga yang terbaik di Eropa.

Namun, realitasnya kini bertolak belakang.

Tak ada satu pun wakil Premier League, LaLiga, ataupun Serie A di semifinal Liga Champions.

Ditambah kemunculan Olympique Lyon dan RB Leipzig, komposisi empat besar musim ini memang langka, tetapi bukan sebuah kejutan atau kebetulan semata.

Menurut data dari Optus Sport, kegagalan tim-tim Liga Spanyol, Liga Inggris, dan Liga Italia dipengaruhi kondisi fisik dan mental mereka yang sudah terkuras penuh di tengah pemadatan jadwal kompetisi pasca-pandemi.

LaLiga baru rampung pada 19 Juli, diikuti Premier League yang selesai 27 Juli, kemudian terakhir Serie A tutup buku pada 2 Agustus.

 Sebaliknya, Bayern dan Leipzig sudah menuntaskan kalender Bundesliga pada 27 Juni.

PSG dan Lyon malah seperti magabut lima bulan karena Liga Prancis disetop di tengah jalan pada Maret lalu akibat pandemi.

Paris dinobatkan sebagai kampiun setelah baru melahap 27 partai, sedangkan Lyon malah jeblok di peringkat ketujuh.

Karena keputusan pembekuan liga, Presiden Lyon, Jean-Michel Aulas, sempat ngamuk-ngamuk kepada federasi.

Namun, melihat apa yang dicapai timnya setelah Liga Champions dimulai kembali, Aulas berbalik semringah.

Sumber: BolaSport.com
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved