HORIZZON
Operasi Senyap Kombes Pol Hindarsono
Tampil dengan sepedamotor keren ditambah dengan modifikasi knalpot brong adalah bentuk eksistensi diri.
SESEKALI, saat tengah asyik terlibat dalam sebuah obrolan di warung kopi di pinggir jalan, kita sering terganggu dengan suara bising dari bunyi sepedamotor yang dkendarai sejumlah remaja yang tengah melintas.
Dengan berkelompok lebih dari dua sepeda motor, beberapa di antaranya sengaja mengganti knalpot standar pabrik bawaan dengan knalpot yang memang memroduksi suara cukup keras. Inilah yang dikenal dengan knalpot brong atau juga biasa disebut knalpot racing.
Tanpa sadar, keberadaan knalpot brong ini sudah menjadi bagian dari kehidupan kita di Pangkalpinang. Sejumlah remaja sengaja mengganti knalpot mereka dengan knalpot brong. Entah apa tujuannya, yang jelas produksi suara dari knalpot tersebut menimbulkan kebisingan yang tentu tak nyaman bagi telinga khalayak.
Diakui atau tidak, fenomena knalpot brong di Pangkalpinang dan sekitarnya ini sudah lazim dan bahkan masyarakat sudah mahfum dengan kondisi tersebut. Masyarakat kita sudah menjadi sangat toleran dengan keberadaan knalpot brong ini. Kita menganggap bahwa penggunaan knalpot brong adalah bagian dari proses yang wajar bagi remaja untuk melewati masa perkembangannya.
Betul. Bagi remaja awal yang mulai diizinkan mengendarai sepeda motor oleh orangtuanya, tampil beda dengan stylis yang diakui oleh lingkungan sosialnya adalah sebuah keharuasan. Tampil dengan sepedamotor keren ditambah dengan modifikasi knalpot brong adalah bentuk eksistensi diri. Tampilan seperti itu adalah tampilan ideal agar keberadaan mereka diakui oleh lingkungan sebayanya.
Bagi mereka, suara bising yang membuat orang lain terganggu bukanlah sesuatu yang harus dirisaukan. Bahkan suara yang ditimbulkan adalah ungkapan tak langsung akan kebutuhan untuk diakui eksistensinya.
Kita tahu, remaja awal adalah fase-fase kritis mereka mencari jati diri. Bagi mereka yang mungkin miskin prestasi dan biasa-biasa saja, maka dikenal dengan membuat kebisingan adalah upaya serendah-rendahnya iman untuk mencari jati diri mereka. Asal diakui keberadaannya, merogoh kocek lebih dalam agar sepedamotornya tampil beda sudah lumayan untuk modal.
Sekali lagi, tanpa sadar fenomena ini telah lama ada di lingkungan sosial kita. Saat kita abai dan permisif dengan kondisi ini, tidak demikian dengan Kombes Hindarsono. Datang ke Bumi Serumpun Sebalai untuk mengemban amanah sebagai Direktur Lalu Lintas Polda Babel, Hindarsono lebih sensitif. Ia melihat ada fenomena sosial yang perlu diluruskan. Bagi Hindarsono, knalpot brong adalah betuk protes sosial sekaligus bentuk aktualisasi diri yang salah dan harus dialuruskan.
Untuk itulah sejak awal menjadi orang pertama di Direktorat Lalu Lintas Polda Babel, Hindarsono langsung mengibarkan ‘bendera perang’ terhadap knalpot brong. Tidak hanya di Pangkalpinang, perang memberantas kenalpot blombongan ini dilakukan di seluruh wilayah Polda Babel, baik di kota hingga pelosok.
Baginya, ketertiban lalu lintas menjadi salah satu indikator ketertiban sosial yang berlaku di wilayah tersebut. Saat lalu lintasnya baik, maka baik pula kondisisi sosial kemasyarakatan di wilayah tersebut. Perihal ini diyakini betul oleh Hindarsono, dan untuk itu sampai sekarang ia dan jajarannya konsisten memerangi knalpot brong.
Setelah proses sosialisasi dilakukan, sejumlah operasi terbuka terus digalakkan. Sasarannya salah satu di antara yang menjadi prioritas adalah knalpot. Bahkan hingga saat ini, operasi khusus knalpot bronk ini masih terus dilakukan dengan senyap. Kita sering melihat sejumlah petugas sengaja patroli di tengah gang untuk menjaring pengendara sepeda motor yang masih menggunakan knalpot dengan produksi suara tidak standar.
Tak berlebihan kiranya jika langkah Hindarsono ini kita sebut sebagai operasi senyap. Karena pada kenyatannya, langkah luar biasa Hindarsono ini masih minim apresiasi dari sejumlah pihak. Pihak terkait tidak menangkap pesan moral yang ada di balik operasi senyap Hindarsono memerangi knalpot brong. Publik juga hanya memahami bahwa yang dilakukan oleh Hindarsono adalah operasi biasa, bukan sebuah kampanye moral untuk tertatanya kehidupan sosial yang lebih bermartabat.
Dalam sebuah diskusi, Hindarsono sebenarnya ingin agar perlawanan terhadap kenalpot brong ini bisa menjadi gerakan moral sekaligus gerakan sosial. Ia juga ingin ribuan kenalpot brong yang ia sita menjadi sebuah monumen yang ia sebut sebagai ‘monumen sia-sia.’
Ribuan knalpot brong yang diamankan akan dijadikan seni instalasi dan dipajang di tengah kota untuk ditunjukkan kepada publik bahwa knalpot brong tidak pernah ada manfaatnya sedikitpun. Ia ingin memberi pesan kepada para remaja awal bahwa menunjukkan eksistensi diri dengan menggunakan knalpot brong adalah kesia-siaan belaka.
Sayang, sekali lagi langkahnya ini belum ditangkap secara mendalam oleh pemangku kebijakan. Belum lagi, jika bicara regulasi, akan terjadi diskusi panjang yang justru akan melelahkan hingga cita-cita menata kehidupan sosial yang lebih bermartabat dari kacamata tertib lalu lintas akan jauh panggang dari api.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/ibnu-taufik-jr.jpg)