Kamis, 16 April 2026

Berita Pangkalpinang

Harga Timah Rakyat Sempat Tembus Rp 150 Ribu, Lalu Begini Kondisinya

Tujuh tahun silam, tepatnya sekitar akhir Tahun 2013 hingga awal Tahun 2014, harga pasir tima di Pulau Bangka sempat bertengger pada masa kejayaan

(bangkapos.com/ferylaskari)
Tampak pekerja tambang beroperasi di lubang camui tambang pasir timah inkonvensional (TI) di Kabupaten Bangka. 

BANGKAPOS.COM , BANGKA -- Tujuh tahun silam, tepatnya sekitar akhir Tahun 2013 hingga awal Tahun 2014, harga pasir timah rakyat di Pulau Bangka sempat bertengger pada masa kejayaan. Ketika itu pabrik peleburan pasir timah milik perusahaan swasta (smelter) masih menjamur.

Harga saing pembelian pasir timah antar smelter pun sangat fantastis, tembus di angka perkalian kering 213 Ribu kadar SN 73 atau senilai Rp 155.490 perkg pasir timah kering (panggang).

Sedangkan harga timah (lobi) kadar SN 73 kondisi masih basah dikurangi kadar air sekitar 7 persen, nilainya sekitar Rp 144.605 perkg. Fantasstis bukan ?

Namun seiring waktu, tahun ke tahun, satu persatu perusahaan smelter tutup buku.  Kini penjualan timah tidak segampang dulu lagi, kalaupun ada yang beli, harganya relatif murah.

Sejak beberapa tahun terakhir, perlahan-lahan harga timah anjlok, hingga akhirnya terjun bebas.

Sejumlah penambang inkonvensional di Kecamatan Belinyu Bangka, mengeluh karena biaya operasional penambangan tak sebanding hasil yang didapat.

Sedangkan para pedagang pengumpul (kolektor), beberapa bulan lalu, lebih memilih tak beli timah rakyat karena resikonya menanggung rugi.

Kalau pun beli, harga dipatok kolektor semurah mungkin, rata-rata Rp 50.000 perkg, sekitar Bulan Maret 2020 lalu.

Padahal dua pekan sebelumnya harga pasir timah penambang di tingkat kolektor, masih bertengger pada kisaran Rp 85.000 perkg.

Kondisi ini diakui oleh Ismail alias Agus, Kepala Dusun (Kadus) Tanjungbatu Desa Lumut Kecamatan Belinyu Bangka ketika dikonfirmasi Bangkapos.com, Minggu (22/3/2020).

Keluhan warganya yang mengantungkan mata pencarian di sektor pertambangan, sangat mengkhawatirkan. Kondisi ini diakuinya terjadi sejak dua pekan terakhir.

Sejak itu, harga timah di tingkat pedagang pengumpul atau kolektor setiap hari selalu mengalami penurunan, hingga akhirnya terjun bebas.

"Harga timah (pasir timah tambang inkonvensional) sekarang cuma berkisar Rp 50.000 hingga Rp -55.000 perkg.

Setiap hari harga makin turun, bahkan saya dengar besok turun lagi. Banyak kolektor (pengumpul pasir timah) tidak berani beli walaupun harga murah," kata Agus.

Agus mengaku tak tahu kenapa harga timah anjlok seketika. Yang jelas katanya, sejak harga hasil tambang ini menurun drastis, perekonomian masyarakat di dusun binaannya menjadi terpuruk.

Sumber: bangkapos.com
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved